Anton Sutrisno, berbagi ide dan gagasan

http://www.antonsutrisno.webs.com

Mimbar Bebas Post New Entry

Bebas berbagi ide dan gagasan

view:  full / summary

Nilai-nilai Etnoekologi untuk kelestarian alam

Posted by Anton Sutrisno on April 7, 2016 at 8:00 PM Comments comments (0)

Etnoekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dan ekologi sebagai jembatan penghubung antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan kemasyarakatan melalui kronologi waktu sehingga menggambarkan suatu kekhasan atau spesifikasi ekologi tertentu akibat adanya bentuk-bentuk interaksi manusia (sumber Wikipedia). Etnoekologi berupaya menggambarkan lingkungan sebagimana lingkungan difahami oleh masyarakat di sekitarnya.


baca selengkapnya


Pengembangan Bumdes versus Ekonomi Desa

Posted by Anton Sutrisno on January 26, 2016 at 2:55 PM Comments comments (0)

Oleh: Anton Sutrisno, SP. MSi.

 


Dalam rangka pelestarian dana desa, salah satu kegiatannya yang diprioritaskan adalah pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Diharapkan BUMDes ini akan menjadi mesin penghasil Pendapatan Asli Desa (PAD) di masa yang akan datang. BUMDes digadang sebagai lokomotif ekonomi desa. Akankah BUMDes ini hanya mengulang kegiatan pengembangan ekonomi desa yang telah dilakukan pada periode sebelumnya, seperti pembentukan Koperasi Unit Desa (KUD) atau program sejenis yang dilakukan sesudahnya seperti Badan Kredit Desa atau Unit Pengelola Keuangan Desa, yang mengelola simpan pinjam atau kegiatan Gapoktan dalam bidang Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis? Akankah BUMDes ini berhasil? Atau akan meniru kegagalan pendahulunya?

 


BUMDes Program Siapa?


Pertanyaan ini akan menunjukkan siapa pemilik BUMDes. Jika program ini difahami sebagai milik pemerintah di luar pemerintahan desa, karena sudah menjadi program nasional yang diamanatkan dalam UU No 6 Tahun 2014 tentang desa, maka pemerintah desa dan warganya akan kurang merasa memiliki BUMDes. Jika program ini merupkan program pemerintahan desa, sebagai representasi kebutuhan warganya, maka rasa memilikinya akan lebih baik dibandingkan dengan rasa memiliki di atas. Kuatnya rasa memiliki ini tentunya akan diiringi sikap menjaga dan mengembangkannya.


Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengukur bahwa ini merupakan kebutuhan warga, atau hanya keinginan belaka. Keinginan yang muncul karena ikut-ikutan disebabkan oleh adanya desa lain yang mendirikan BUMDes. Bisa juga karena adanya instruksi dari pihak diluar desa agar pemerintah desa mendirikan BUMDes. Keinginan karena adanya kelebihan produksi hasil pertanian yang belum terkelola. Keinginan karena adanya perlu ketersediaan kebutuhan masyarkat akan barang-barang hasil industri tidak jauh dari tempat tinggalnya. Apakah bisa mengukur kebutuhan masyarakat didasarkan pada inistiatif pendiriannya berasal dari pemerintah desa atau masyarakat desa? Tentunya tidak, karena kita tidak tahu inistiatif pendirian tersebut berdasarkan apa motivasinya.


Pemahaman masyarakat tentang BUMDes menjadi indikator yang sangat penting. Jika pemahaman ini dimiliki dengan baik, maka akan tahu saat yang tepat kapan semestinya BUMDes ini harus ada. Sama halnya dengan kita yang sudah sangat tahu kebutuhan kita kapan saatnya kita harus makan, karena sudah muncul rasa lapar. Bagaimana mewujudkan pemahaman ini pada masyarakat tentunya dengan sosialisasi dan pembekalan kepada semua kelompok masyarakat tentang BUMDes. Mengapa semua, karena kelompok masyarakat mewakili dari sebuah entitas ekonomi terkecil yang bernama keluarga. Entitas ini memiliki aktivitas ekonomi untuk menopang ekonominya. Dengan demikian BUMDes tidak dapat didirikan dalam waktu 1 – 2 tahun? Belum tentu, karena kita belum tahu pemahaman masyarakat terkait entitas ekonomi keluarga ini dalam melakukan aktivitas ekonominya di sebuah kelompok masyarakat sebagai basis ekonomi desa. Pemahaman ini akan tergali jika semua kelompok melakukan kajian, yaitu kajian terhadap potensinya dan lingkungannya. Potensinya yaitu kemampuan sumberdaya manusia, kemampuan kelembagaan kelompok masyarakat, berdasarkan pengalaman yang telah dilakukan selama ini. Sedangkan pengkajian lingkungannya, meliputi potensi sumberdaya alam yang ada, yang tergambar pada tipologi desa, potensi pada bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, industri masyarakat termasuk juga potensi pariwisata dan budaya. Kajian pada level aktivitas dan pengembanganya akan mengetahui apakah kelompok masyarakat ini membutuhkan sebuah lembaga yang menjadi lokomotif pengembangan atau belum berupa BUMDes. Jika belum berarti aktivitas yang perlu dilakukan adalah pengalian dan pengembangan pada potensi-potensi tersebut.

 


Pengembangan basis ekonomi desa


Mengembangkan potensi ekonomi untuk membentuk BUMDes atau Mendirikan BUMDes untuk mengembangkan potensi ekonomi. Dua pilihan ini pilih yang mana? Masing-masing tentunya memilki konsekuensi resiko. Logika sederhana, jika BUMDes sebagai wadah, maka yang akan diwadahi harus ada terlebih dahulu. Pengembangan ekonomi desa menjadi prioritas penumbuhan dan pengembangan berdasarkan potensi lokal. Penumbuhan dan pengembangan ekonomi desa dilakukan melalui kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.


Ketika tumbuh basis ekonomi di desa dengan diikut dengan tumbuhnya kelembagaan kelompok masyakat, maka proses penataan selanjutnya ini menjadi peran BUMDes. BUMDesa sebagai simpul yang dirajut dalam rangka pengembangan basis ekonomi tersebut. Pada saat ini arah usaha (Core Business) BUMDes akan tergambar jelas, yaitu pada basis ekonomi mana yang memiliki potesi pengembangan yang besar. Tentunya pada titik ini bukan lagi hasil kajian ekonomis, tetapi sudah sebagai fakta ekonomis, karena telah dibuktikan melalui tindakan. Kebutuhan masyarakat khususnya tentang aktivitas ekonomi telah terukur secara kongkret. Sehingga kita katakana masyakat telah membutuhkan adanya wadah yang lebih baik. Dengan demikian BUMDes menjadi salah satu problem solver terhadap permasalahan yang dihadapi oleh masyakat. Peran besar yang dimainkan oleh BUMDes ini akan memberikan kuatnya rasa memiliki. Sehingga kelestarian lembaga ini dimungkinkan dapat terjadi. Dengan demikian dapat disimpulkan melalui pengembangan ekonomi desa yang kuat menjadi dasar untuk melakukan pengambangan BUMDes yang kuat dan mandiri.

 


Tais, 27 Januari 2016

 


(Anton Sutrisno, Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa pada Program Pembangunan Pemberdayaan Masyarkat Desa)

 

PEMBANGUNAN DAERAH BERBASIS STRATEGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (SEBUAH KAJIAN RINGKAS)

Posted by Anton Sutrisno on November 18, 2014 at 1:05 PM Comments comments (0)

Oleh : Anton Sutrisno


Penerapan otonomi daerah memberikan implikasi yang sangat luas. Pengelolaan sumberdaya alam, eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam dapat diputuskan oleh Bupati. Sayangnya upaya eksplorasi dan eksploitasi masih pada sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources) seperti batu bara, pasir besi dan emas.  Untuk pengelolaan sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, ternyata merusak potensi sumberdaya alam yang lain. Seperti pembukaan perkebunan yang hingga perbatasan hutan lindung, bahkan ada yang sudah masuk wilayah hutan lindung. Pembukaan lahan perkebunan telah merubah hutan yang ada menjadi hutan monokultur yaitu perkebunan sawit. Untuk di Kabupaten Bengkulu Utara lokasi areal perkebunan kebanyakan sudah mencapai areal hulu sungai sungai kecil. Hal inilah yang akan memberikan dampak terhadap kondisi DAS.

 


Upaya ekspolitasi sumberdaya alam, sebagaimana ditulis oleh N Sinukaban, dalam rangka untuk meningkatkan PAD. PAD diupayakan sebesar-besarnya dari semua potensi yang ada sebagai indicator keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah. Tetapi disinyalir dalam pelaksanaan ini  meningkatkan laju kerusakan sumberdayati alam. Dampak kerusakan lingkungan lingkungan tidak hanya terjadi pada daerah setempat seperti tanah longsor, erosi tetapi juga diluar daerah setempat seperti banjir dan sedimentasi tanah.

 


Pelaksanaan otonomi daerah juga berpengaruh terhadap kinerja pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Batas daerah otonom secara umum tidak berimpit dengan batas DAS. DAS dibatasi oleh topografi alami, seperti punggung bukit atau gunung yang berakhir di laut. Sungai umumnya berada di tengah DAS, sering dijadikan batas terluar dari administrasi wilayah otonom. Oleh karena itu batas DAS akan bersifat lintas lokal melampaui batas administrasi dan kekuasaan politis. Sehingga masalah DAS pada umumnya menyangkut beberapa kabupaten dalam satu atau lebih provinsi. Pengaturan dan pengelolaan SDA dalam DAS akan semakin komplek dalam era otonomi daerah. Oleh Karena itu diperlukan strategi dan konsep dalam pengelolaan DAS yang diperlukan untuk menghindari konflik dan menurunan kualitas SDA dan lingkungan.

 


Stretegi Pengelolaan DAS Lintas Daerah

Diperlukan kegiatan peningkatan kapasitas (capacity building) secara berkesinabungan dengan strategi yang dapat ditempuh sebagai berikut:


a.    Membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan DAS lintas regional.

Masing-masing daerah otonom perlu memahami mekanisme hidrologis yang berjalan secara alamiah. Masalah ketidakmerataan dan ketidakefisienan penggunaan alokasi SDA yang mencakup kulitas dan kuantitas sering memicu konflik antar daerah. Daerah yang memiliki sumberdaya yang lebih cenderung menguasainya secara eksklusif dan mengancam daerah-dearah lainnya di sepanjang DAS. Oleh karena itu diperlukan komitmen bersama untuk membangun system pengelolaan DAS yang berkelanjutan. Wujud dari komitmen ini adalah adanya perhatian dan tanggung jawab bersama terhadap kelestarian sumberdaya alam pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing.

 

Kejasama antar daerah dapat diwujudkan dengan membentuk Badan Kerjasama Antar Daerah (Pasal 87 ayat 2 UU No 22 Tahun 1999) yang dikoordinasikan oleh provinsi. Isu pokoknya adalah negosiassi politik antar daerah yang didasarkan kepada kepentingan bersama dalam memanfaatkan SDA.

 


b.    Membangun sistim legislasi yang kuat.

Kebijakan publik aspek penglolaan sumberdaya alam akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan perilaku masyarakat apabila dikukuhkan oleh sitem legal yang memadai. Legislasi dalam pengelolaan DAS sangat diperlukan terutama dalam merancang dan mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan DAS.

 

Legislasi memberikan kekuatan dan kewenangan kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk berdasarkan undang-undang untuk melakukan pengaturan, penguasaan, pengusahaan, pemeliharaan, perlindungan, rehabilitasi, pemberian sanksi, penyelesaian konflik dan sebagainya.

 


c.    Meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) baik formal maupun informal dalam pengelolaan DAS.

Institusi merupakan sistim yang kompleks yang mencakup ideologi, hukum, adat istiadat, norma dan kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan. Institusi juga mengatur hal-hal yang dibolehkan dan dilarang untuk dikerjakan. Penguatan institusi pengelola DAS dibutuhkan untuk mencapai tujuan dari pengelolaan DAS.

 


d.    Meningkatkan kemampuan SDM dalam pengelolaan sumberdaya alam.

Kualitas sumberdaya manusia untuk mengelola SDA secara umum masih rendah dan terdapat kesenjangan antar daerah otonom. Kemampuan masyarakat, petani, perancana pengelolaan DAS, pejabat yang melaksanakan pengelolaan DAS masih sangat rendah untuk dapat mengelola sumberdaya alam yang berkelanjutan.

 


Petani tidak punya cukup pengetahuan tentang tindakan yang tepat dalam usahataninya agar tidak terjadi degradasi lahan yang dapat menurunkan produktivitasnya. Penyuluh pertanian tidak dibekali pengetahuan dan pedoman yang memadai untuk membimbing petani dalam memilih  teknik pertanian dan teknik konservasi yang sesai dan memadai. Pejabat yang berwenang menentukan kebijakan tidak punya pemikiran dan konsep yang menyeluruh dalam mengelola SDA yang berkelanjutan dalam suatu DAS.

 


Oleh sebab itu diperlukan program pelatihan yang sistematis secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas individu/SDM dalam pengelolaan SDA agar prinsip pembangunan berkelanjutan terlaksana diseluruh DAS daerah otonom

 

 



REDEFINISI PEMAHAMAN TANGUNG RENTENG

Posted by Anton Sutrisno on November 18, 2014 at 12:50 PM Comments comments (0)

 

Oleh:

AntonSutrisno, SP. MSi.*dan Aria Candra, SH.**

*Faskab Perguliran dan Pengembangan Usaha Kabupaten Seluma Provinsi Bengulu.

**Spesialis Information Education and Comunication Provinsi Bengkulu.

 


Padasaat berdiskusi dengan teman-teman pelaku pemberdayaan yang mengelolakegiatan dana bergulir untuk masyarakat miskin, ada pembicaraan yangmenarik antara lain yaitu mengenai jaminan (borg). Program initidak menerapkan jaminan (collateral) sebagaimana lembagakeuangan pemerintah maupun swasta. Contohnya pada bidang perbankanyang berlaku di Indonesia saat ini.


Jaminanyang dipakai dalam pengelolaan dana bergulir (simpan pinjamperempuan) adalah tanggung renteng. Tanggung renteng bukan berupasurat berharga yang bisa di likuidkan, melainkan kegotongroyongankelompok masyarakat miskin yang nir asset. Mereka selama inidinyatakan sebagai kelompok yang tidak layak masuk bank (not bankable).


Pemerintahmelakukan program khusus untuk mengurangi angka kemiskinan padalapisan masyarakat paling bawah (level pertama) melalui BantuanLangsung Tunai (BLT) yang diharapkan dapat berkembang meningkatkanpenghasilannya sehingga dapat menurunkan derajat kemiskinannya padalevel diatasnya. Pada level kedua ini adalah masyarakat miskin yangmemiliki modal terbatas dan memiliki usaha yang dapat dikembangkan.Program yang menjadi sasarannya adalah Bantuan Langsung Masarakat(BLM). Untuk level ke dua ini banyak kegiatan yang digulirkan, seperti; PNPM Mandiri dengan berbagai varian yang dikelola olehbeberapa kementerian, misalnya Kementerian Dalam Negeri dengan PNPMMandiri Perdesaan atau Kementerian Pertanian dengan PNPM PengembanganUsaha Agribisnis Perdesaaan (PUAP). Harapan dari program pada levelkedua ini adalah dapat menurunkan derajat kemiskinan ke level ketiga,sehingga mereka dapat mulai mengakses pinjaman melalui perbankanbersubsidi dari pemerintah seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat).


Pengelolaankegiatan dana bergulir atau simpan pinjam diterapkan tanpa agunan,karena masyarakat pada level ini masih pada kodisi level miskin.Agunan yang dipakai adalah tanggung renteng. Timbul pertnyaan, laluimplementasinya seperti apa? Apakah dalam tatakelolanya sudahberhasil?


Padakenyataannya dalam pengelolaan kegiatan dana bergulir (simpan pinjam) tunggakan banyak terjadi, bahkan angakanya cukup tinggi dan sangatmemperihatinkan. Umumnya tunggakan disebabkkan karena ketidakmampuanmembayar anggota simpan pinjam, gagal dalam usaha, dan yang sangatmemperihatinkan yaitu terjadinya penyalahgunaan oleh pengelola itusendiri. Akhirnya, tindakan penyelamatan kredit dengan menerapkanagunan pengganti senilai sisa pinjaman yang harus dibayar menjadimasalah yang semakin merumitkan didalam pengelolaan dan kesinambungandana bergulir. Akibanya proses pemberdayaan yang bertujuanmengentaskan kemiskinan berakhir pada menambah kemiskinan karenahilangnya aset mereka yang dilelang karena tidak mampu membayar.Semangat gotong royong di awal program menjadi permusuhan dipenghujung program, akibat penanganan tunggakan yang tidak sesuaidengan permsalahan yang dihadapi masyarakat. Lalu apa yang salah?


Diskusidilanjutkan dengan memperdalam makna tanggung renteng. Ada beberapamakna yang dikemukaakan dalam diskusi diantaranya, tanggung rentengadalah menanggung resiko hutang apabila ada salah satu anggota yangtidak membayar. Pemahaman tanggung renteng disini sangat tidakrasional, karena tidak mungkin orang lain mau menanggung hutang pihak lainnya kecuali dia masih dalam satu keluarga, karena dia sebagai ahli waris.


Dalam hukum alam, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini didasarkan pada hukum sebab akibat. Tunggakan merupakan akibat dari sebab yangbermacam-macam faktor. Sehingga kita perlu mendefinisikan kembalimakna tanggung renteng pada sisi sebab dari hukum sebab-akibat(causalitas). Oleh karena itu, hal ini penting dibahas bersamasebagai bagian dari mitigasi resiko pengelolaan dana bergulir.Tanggung renteng harus difahami sebagai proses seleksi anggota kelompok yang baik, dan harus diterapkan pengambilan keputusankelompok.


Dariawal, kelompok yang terbangun tidak termotivasi dengan adanya uang.Akan tetapi pada niatan yang baik untuk suatu visi (cita-cita) yangmulia dalam menambah penghasilan keluarga, yang umum bagi rumahtangga miskin digunakan untuk membiyai pendidikan anak-anaknya. Sebabpendidikan yang baik (tinggi) dapat memutus mata rantai kemiskinan.Oleh karena itu dalam memilih mitra berusaha dalam kelompok harusorang-orang yang memiliki mental yang baik, jangan mereka yangmemiliki mental “pengemplang” sehingga dikemudian hari dapatmenyusahkan kelompok. Inilah awal dari tanggung renteng yang kamimaksudkan.


Tanggung renteng pada tahapan berikutnya adalah adanya saling mengingatkan dansaling membantu. Untuk dapat melakukan tindakan ini maka diperlukanpertemuan rutin yang terprogram. Melalui pertemuan rutin perkembanganmasing-masing anggota kelompok dapat terpantau. Persoalan yangdihadapi baik keluarga maupun usaha dapat dipecahkan bersama dalamkelompok. Peroses saling membantu dan saling mengingatkan akanberjalan. Ketika ada yang mengalami kesulitan dalam menjalankan usahaatau ada musibah yang menimpa suatu keluarga anggota kelompok, makasecara besama-sama bergotong royong meringankan beban keluargatersebut. Inilah yang disebut dengan “asuransi sosial”. Asuransisosial inilah yang pada hakekatnya merupakan taggung renteng yangkedua. Dimana pada bagian ini proses “menanggung hutang” dapatterjadi yang dimaknai bantuan bersama dari kelompok untuk meringakanbeban anggota ketika terjadi musibah. Tetapi sifatnya adalahsementara, sebab ketika beban musibah terlewati maka anggota tersebutwajib mengembalikan sejumlah bantuan dari kelompok, karena ada anggotayang lain nanti akan memanfaatkannya.


Umumnya dana “Asuransi Sosial” dihimpun melalui simpanan yang dilakukan setiap pertemuan kelompok. Sehingga ketika klaim terjadi pada saatada yang mengalami musibah, dana “asuransi sosial” siap dimanfaatkan.


Jika konsep tanggung renteng ini diterapkan oleh anggota kelompok simpan pinjam, saya berkeyakinan konsemp tanggung renteng ini adalah halyang sederhana, sebab ibu-ibu pegiat arisan sudah seringmelakukanya. Namun demikian tinggal lagi bagaimana hal inimenerapkannya di dalam kelompok simpan pinjam.


Dengan demikian apabila proses tanggung renteng ini kita fahami dalamdefinisi yang benar, maka tidak akan terjadi proses pemiskinankembali dalam program pemberdayaan. Sebuah kelompok yang memilikisemangat mewujudkan visi mengentaskan kemiskinan dengan didukung dengan struktur kelembagaan yang kuat akan terwujud. Bukan tidakmungkin produktivitas usaha akan membaik sehingga visi menyekolahkananak setinggi-tingginya bagi keluarga miskin untuk memutus matarantai kemiskinan dapat menjadi kenyataan. Semoga. Bangga MembangunDesa.

 

 

Tais, 12November 2014.

 

 

 

Pembangunan Desa

Posted by Anton Sutrisno on September 30, 2012 at 1:25 PM Comments comments (0)


Pemberdayaan masyarakat dalam rangka pengentasan kemiskinan masih menjadi isyu sentral pembangunan desa. Berbagai persoalan yang timbul seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan antar wilayah, salah satunya disebabkan kurang baiknya perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pedesaan (Jamal, 2009). Penanggulangan kemiskinan dengan memanfaatkan keunggulan lokal menjadi solusi yang dapat diberikan. Tanggung Jawab dalam pengentasan kemiskinan terletak pada masyarakat dengan memanfaatkan keunggulan lokalnya di daerah masing-masing dengan difasilitasi oleh pemerintah (Yasa, 2008)


Pembangunan pedesaan yang baik akan memberikan peluang bagi setiap individu yang ada di dalamnya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki di perdesaan (Jamal, 2009).


Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa disebutkan bahwa desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Desa memiliki pemerintahan sendiri yaitu Pemerintahan Desa yang terdiri dari Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa. Desa bukan merupakan bawahan kecamatan, Desa memiliki hak untuk mengatur wilayahnya lebih luas. Kewenangan desa pada pasal 7 PP No 72 Tahun 2005 adalah :

  • Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal usul desa.
  •  Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa, yakni urusan pemerintahan yang secara langsung dapat meningkatkan pelayanan masyarakat.
  • Tugas Pembantuan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
  • Dan urusan pemerintah lainnya yang diserahkan kepada desa.

 

 

Mereset Printer Samsung

Posted by Anton Sutrisno on April 2, 2012 at 2:05 AM Comments comments (0)

Teman-teman, menggunakan printer laserjet memang enak sekali, tidak terlalu repot menyutik tinta ketika habis. Kualitas cetakanya bagus. Printernya tidak berisik dan cepat. Kendala yang dihadapai adalah ketika sampai dalam jumlah tertentu toner minta di reset. Berikut ada bebarapa tahap yang dilakukan dalam mereset printer samsung ML 2240.

1.  Periksa pada bagian belakang.


2. Buka skerup pada bagian kanan, dan jangan lupa lepaskan kabel USBnya.



3. Lepaskan kabel AC dan buka skrupnya


4. Berikut ini gambar jeroan bagian belakang printer Samsung ML2240



5.  Cara meresetn adalah dengan mengkonsletkan bagian IC yang ditujukkan pada pinset, printer dalam kondisi dihidupkan.

6. Untuk mengeteknya perlu dilakukan test print dengan menekan tombol yang bergambar segitiga beberapa detik. sehingga akan tercetak seperti berikut. Jumlah halaman yang telah di print menjadi 0.


Demikian semoga dapat bermanfaat.

Propaganda Peak Oil; Ternyata Minyak Bumi Bukan Berasal Dari Fosil

Posted by Anton Sutrisno on March 30, 2012 at 2:50 AM Comments comments (0)

Artikel menarik, teori lama diperbaharui,.... entah benar entah salah.

 

 

http://hati.unit.itb.ac.id/?p=417

 

 

Propaganda Peak Oil; Ternyata Minyak Bumi Bukan Berasal Dari FosilBy

Hati-Itb <http://hati.unit.itb.ac.id/?author=1> on March 15th, 2012 at 20:53

Posted In: Berita <http://hati.unit.itb.ac.id/?cat=4>

 

KEBIJAKAN pemerintah soal bahan bakar minyak (BBM) selalu saja ditunggu

dengan harap-harap cemas, begitupun penetapan kuota produksi negara-negara

penghasil minyak (OPEC), yang berdampak pada fluktuasi harga BBM di pasar

internasional selalu diamati dengan penuh kekhawatiran.

 

Pesimistis dalam dunia perminyakan secara tidak sadar memang telah dibangun

dari awalnya. Kita semua percaya bahwa minyak bumi adalah bahan bakar

fosil, hampir setiap hari “fakta” ini disebut dalam berbagai media massa.

Lalu siapa sebenarnya yang pertama mengajukan teori (tepatnya hipotesis)

yang kadung dipercaya semua orang ini? Adalah Mikhailo V. Lomonosov,

seorang cendekiawan besar Rusia, yang pada 1757 mengajukan sebuah hipotesis

bahwa minyak bumi berasal dari sisa-sisa makhluk hidup.

 

Berdasarkan hipotesis ini, berarti minyak mentah akan terbentuk sangat

lambat, karena berasal dari sisa-sisa tumbuhan dan binatang yang telah

mati, melewati jutaan tahun terkubur di bawah batuan,  mengalami  tekanan

dan suhu yang luar biasa, lalu mengubahnya menjadi minyak mentah.

 

Industri minyak bumi modern lahir 145 tahun yang lalu di Titusville,

Pennsylvania, Amerika Serikat (AS) ketika Edwin Drake sukses melakukan

pemboran pertama minyak bumi di AS. Kala itu hampir tidak ada yang

mengkhawatirkan berapa lama lagi perut bumi menyediakan minyaknya untuk

dambil? Tetapi sejak produksi minyak di AS memuncak sekitar 1970, sejumlah

ahli geologi, ahli ekonomi dan analis industri mulai mempertimbangkan

sebuah pertanyaan, berapa lama lagi pasokan minyak bumi dunia bisa memenuhi

permintaan yang terus meningkat? Banyak kalangan memprediksi, produksi

minyak global akan mencapai puncaknya beberapa tahun ke depan.

 

Konsekuensi dari hipotesis “bahan bakar fosil” tentunya menyisakan

pertanyaan-pertanyaan pesimis seperti itu. Berapa banyak minyak mentah yang

masih tersisa di dalam perut bumi? Dan kapan habisnya?

 

Menurut National

Geographic<http://www.amazon.com/Complete-National-Geographic-Every-Issue/dp/B003XIKA4W?ie=UTF8&tag=kumputulis-20&link_code=btl&camp=213689&creative=392969>,

jumlah minyak mentah yang tersisa di bumi diprediksi sekitar 1,2 triliun

barrel. Walaupun ladang minyak baru banyak ditemukan, tetapi pasokan saat

ini tidak sebanding dengan penemuan-penemuan ladang tersebut. Berdasarkan

gambaran konsumsi saat ini, berarti perkiraan 1,2 triliun barrel minyak

bumi akan habis dalam tempo 44 tahun.

 

Benarkah masa kejayaan energi tak terbarukan ini akan segera berakhir?

Akankah tak kan tersisa lagi tetesan minyak di jebakan kerak bumi? Ataukah

ini hanya isu-isu yang sengaja dihembuskan untuk melambungkan harga “emas

hitam” ini?

 

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita mesti meninjau ulang

hipotesis biogenik Lomonosov yang dibuat hampir 250 tahun yang lalu itu.

Beberapa ilmuwan mulai mempertanyakan pandangan tradisional ini. Pada abad

ke-19 hipotesis  ini untuk pertama kalinya ditolak seorang naturalis dan

geolog Jerman kenamaan, Alexander von

Humboldt<http://www.amazon.com/Passage-Cosmos-Alexander-Humboldt-Shaping/dp/0226871827?ie=UTF8&tag=kumputulis-20&link_code=btl&camp=213689&creative=392969>,

dan ahli kimia termodinamik Prancis, Louis Joseph Gay-Lussac, kemudian

mereka mengajukan dalil alternatif yang menyatakan bahwa minyak bumi adalah

materi primordial (purba) yang memancar dari tempat yang sangat dalam, dan

tak ada hubungannya dengan materi biologis dari permukaan bumi.

 

Dengan berkembangnya ilmu kimia selama abad kesembilan belas, terutama

ketika hukum kedua termodinamika ditemukan oleh Clausius pada 1850,

hipotesis Lomonosov terus diserang, tak kurang dari pakar kimia Prancis

Marcellin Berthelot mencemooh hipotesis asal biologis dari minyak bumi ini.

Berthelot adalah orang pertama yang melakukan percobaan yang melibatkan

serangkaian apa yang sekarang disebut sebagai reaksi Kolbe dan menunjukkan

bahwa minyak bumi bisa dihasilkan dengan melarutkan baja dengan asam kuat

tanpa melibatkan molekul atau proses biologis.

 

Selama kuartal terakhir abad kesembilan belas, ahli kimia Rusia Dmitri

Mendeleev<http://www.amazon.com/Russian-scientists-Kovalevskaya-Konstantin-Tsiolkovsky/dp/1156961084?ie=UTF8&tag=kumputulis-20&link_code=btl&camp=213689&creative=392969>juga

menguji dan menolak hipotesis Lomonosov ini.  Mendeleev menyatakan dengan

jelas bahwa minyak bumi merupakan bahan primordial yang keluar dari

kedalaman yang jauh. Dengan persepsi yang luar biasa, Mendeleev membuat

hipotesis tentang adanya struktur geologi yang ia sebut “patahan dalam”

(deep fault) tempat minyak bumi melaluinya dari kedalaman.

 

Pada 1951, dalam sebuah kongres geologi minyak bumi, seorang geolog asal

Rusia Nikolai  A. Kudryavtsev mengajukan teori asal-usul minyak bumi

abiotik atau abiogenik, setelah menganalisis hipotesis Lomonosov yang

terbukti salah. Inilah untuk pertama kalinya teori abiotik modern

dicanangkan untuk mengganti teori konvensional.

 

Kudryavtsev tidaklah sendiri, dia mendapat banyak dukungan termasuk dari

para ilmuwan barat, seperti Thomas

Gold<http://www.amazon.com/Deep-Hot-Biosphere-Fossil-Fuels/dp/0387985468?ie=UTF8&tag=kumputulis-20&link_code=btl&camp=213689&creative=392969>

dan

Dr JF Kenney.  Bahkan Kenney bersama ilmuwan Rusia lainnya benar-benar

mampu membangun reaktor dan membuktikan minyak bumi bisa dihasilkan dari

kalsium karbonat dan oksida besi, dua senyawa yang melimpah di kerak bumi.

 

Baru-baru ini, para peneliti dari Royal Institute of Technology  di

Stockholm, Swedia telah berhasil membuktikan bahwa fosil-fosil dari hewan

dan tumbuhan tidak lagi diperlukan untuk menghasilkan minyak mentah. Temuan

ini begitu revolusioner karena sangatlah berarti, di satu sisi akan

memudahkan menemukan sumber-sumber energi, di sisi lain sumber energi ini

dapat ditemukan di seluruh dunia.

 

“Dengan menggunakan penelitian ini, bahkan kami dapat mengatakan di mana

minyak bumi dapat ditemukan di Swedia,” kata Vladimir Kutcherov, profesor

yang memimpin riset ini.

 

Bersama dengan koleganya, Vladimir Kutcherov telah melakukan simulasi suatu

proses yang melibatkan tekanan dan panas yang terjadi secara alami di

lapisan dalam bumi, proses yang menghasilkan hidrokarbon, komponen utama

dalam minyak dan gas alam.

 

Menurut Kutcherov, penemuan ini mengindikasikan dengan jelas bahwa pasokan

minyak bumi tidak akan habis. “Tidak ada keraguan bahwa penelitian kami

membuktikan bahwa minyak mentah dan gas alam yang dihasilkan, tanpa

melibatkan fosil. Semua jenis batuan dasar dapat berfungsi sebagai

reservoir minyak,” kata Vladimir Kutcherov kepada Science Daily, baru-baru

ini.

 

Kutcherov pun mampu membuktikan bahwa hidrokarbon dapat dibuat  dari air,

kalsium karbonat  dan zat besi. Ini berarti  minyak bumi merupakan sumber

energi berkelanjutan dan terbarukan.

 

Proses abiotik untuk menghasilkan minyak bumi dimungkinkan lewat proses

yang disebutFischer-Tropsch<http://www.amazon.com/Fischer-Tropsch-Technology-Studies-Surface-Catalysis/dp/044451354X?ie=UTF8&tag=kumputulis-20&link_code=btl&camp=213689&creative=392969>,

reaksi kimia yang mengubah campuran karbonmonoksida dan hidrogen menjadi

hidrokarbon cair. Proses ini dikembangkan dan dipatenkan pada tahun 1920,

kemudian digunakan selama Perang Dunia II  oleh Jerman dan Jepang. Proses

ini pun menjadi dasar penciptaan bahan bakar jet yang dibuat dari air di

AS, seperti dilaporkan majalah Wired (9/9/09).

 

*Misteri Pulau Eugene 330 dan cadangan Minyak Yang Terisi Kembali*

 

Pulau Eugene merupakan ladang minyak di Teluk Meksiko, sekitar 80 mil lepas

pantai Louisiana, AS. Lansekap kepulauan ini terbelah dengan celah dan

rekahan dalam yang spontan memuntahkan  gas dan minyak. Ladang minyak ini

ditemukan pada 1973 dan  mulai memproduksi sekitar 15.000 barel per hari.

Pada 1989, aliran minyaknya berkurang menjadi 4.000 barel per hari. Tetapi

tanpa alasan logis apapun, secara tiba-tiba produksinya meningkat menjadi

13.000 barel. Selain itu, taksiran cadangan meroket 60-400 juta barel.

 

Apa yang terjadi di bawah Teluk Meksiko?

 

Apa yang ditemukan para peneliti ketika menganalisis ladang minyak ini

dengan pencitraan  seismik 3-D? Ternyata ada patahan dalam yang tidak bisa

dijelaskan, dan minyak telah memancar dari suatu kedalaman yang tidak

diketahui sebelumnya, dan bermigrasi ke atas melalui batuan untuk mengisi

pasokan yang ada.

 

Para peneliti menemukan ketika mereka menganalisis ladang minyak dengan

selang waktu pencitraan 3-D seismik bahwa minyak memancar dalam dari sumber

yang lebih dalam yang sebelumnya tidak diketahui dan bermigrasi naik

melalui celah bebatuan untuk mengisi pasokan yang ada.Selanjutnya, analisis

minyak yang sekarang sedang diproduksi di Pulau Eugene menunjukkan

perbedaan usia geologis dari minyak yang diproduksi di sana sebelum tahun

1989. Dugaan kuat, minyak mentah yang baru, muncul dari sumber yang

berbeda, sumber yang tidak bisa dijelaskan.

 

Perkiraan terakhir dari cadangan minyak kemungkinan naik dari 60 juta barel

menjadi 400 juta barel. Baik ilmuwan dan ahli geologi dari

perusahaan-perusahaan minyak besar telah melihat bukti dan mengakui bahwa

ladang minyak Pulau Eugene mengalami pengisian ulang sendiri.

 

Sumber minyak dari suatu kedalaman di Pulau Eugene sangat mendukung teori

Thomas Gold yang ditulis dalam bukunya The Deep Hot Biosphere. Gold

menetapkan, “minyak bumi sebenarnya adalah aliran primordial terbarukan

yang terus-menerus diproduksi oleh bumi dalam kondisi panas dan tekanan

yang luar biasa. Ketika zat ini bermigrasi ke permukaan, ia diserbu oleh

bakteri, sehingga minyak bumi tampak seperti memiliki asal usul organik

dari zaman dinosaurus. “

 

Sumber minyak di Pulau Eugene serta gagasan Gold membuat insinyur

perminyakan bertanya-tanya tentang situasi yang sama di ladang minyak Timur

Tengah yang tak ada habisnya.

 

“Timur Tengah memiliki lebih dari dua kali lipat cadangan minyak dalam 20

tahun terakhir, meskipun setengah abad dieksploitasi dan penemuan baru

relatif sedikit,” ujar  Norman Hyne, seorang profesor di Universitas Tulsa,

Oklahoma, AS. “Teori  yang tak konvensional (teori abiogenik ) tentunya

akan berubah menjadi benar,” katanya.

 

Keberadaan ladang minyak yang bisa memperbaharui pasokan sendiri

menghancurkan mitos teori asal usul minyak.dan Jika minyak memang

benar-benar berasal darizat anorganik alami maka bagaimana bisa dikatakan

minyak adalah energi tak terbarukan ?

 

*Beberapa Contoh Bukti Kasus Konspirasi Kebohongan tentang Kelangkaan

Sumber Minyak*

 

Inti dari masalah ini adalah bahwa jika minyak banyak di daerah-daerah di

mana kita diberitahu oleh pemerintah dan perusahaan minyak yang tidak

memiliki bukti yang jelas bahwa kelangkaan buatan disimulasikan dalam

rangka untuk mendorong maju segudang agenda lainnya. Dan kami memiliki

contoh nyata dimana hal ini telah terjadi.

 

Seperti pada perusahaan pengeboran minyak raksasa Chevron dan Texaco,

mereka mendapat memo untuk sengaja menciptakan kelangkaan minyak dengan

membatasi kapsitas produksi dengan menutup kilang minyak tertentu dengan

alasan minyak telah habis di sumber tersebut. Ini adalah upaya lobi

nasional yang dipimpin oleh American Petroleum Institute untuk mendorong

perusahaan-perusahaan kilang minyak untuk melakukan hal ini.

 

” Sebuah memo internal yang Chevron menyatakan; “Seorang analis energi

senior di konvensi API baru-baru ini memperingatkan bahwa meskipun industri

minyak AS tidak mengurangi kapasitas penyulingan hal ini tidak akan

menimbulkan peningkatan substansial dalam margin kilang.”

 

Memo ini semakin memperjelas bahwa gagasan untuk pengurangan dalam

kapasitas penyulingan dan pembatasan dalam membuka kilang baru tidak datang

dari organisasi lingkungan, seperti yang dikatan oleh para produsen minyak

, tetapi melalui kebijakan yang disengaja dari mereka sendiri.

 

*Program Illuminati Dibalik Kebohongan Keterbatasan Alam Dalam Produksi

Minyak Bumi*

 

<http://sinarilahdunia.files.wordpress.com/2012/03/konspirasi-peak-oil.jpg>Teori

Peak Oil adalah kebohongan masif yang dirancang untuk menciptakan

kelangkaan buatan demi mendongkrak harga, juga memberikan negara sebuah

alasan untuk mengorbankan standar hidup yang telah kita perjuangkan dengan

susah payah. Publisitas menciptakan CFR dan Club of Rome strategy manual

sejak 30 tahun lalu mengatakan bahwa pemerintah global perlu mengontrol

populasi dunia melalui neo-feodalisme dengan menciptakan kelangkaan buatan.

 

Sekarang arsitek sosial de-industrialisasi Amerika Serikat menyalahkan

disintegrasi ekonomi kita pada kurangnya pasokan energi.

 

Sekarang ekonomi dunia telah menjadi begitu terpusat melalui operasi

globalisasi, mereka akan terus mengkonsolidasikan dan menyalahkan pemakaian

berlebihan atas bahan bakar yang bersumber dari fosil, sementara pada saat

yang sama mereka juga menghalangi pengembangan dan integrasi teknologi

bersih yang terbarukan.

 

Dengan kata lain, Sumber minyak bumi yang dinyatakan dari fosil mahluk

hidup adalah kebohongan besar untuk menciptakan kelangkaan buatan dan

mengendalikan harga . Sementara itu, teknologi bahan bakar alternatif yang

telah ada selama beberapa dekade juga sengaja ditekan pengembangannya. Peak

Oil adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh elit, oleh industri minyak,

oleh orang-orang bahwa Anda akan berpikir puncak minyak akan membahayakan,

kecuali itu adalah penutup untuk agenda lain.

<http://sinarilahdunia.files.wordpress.com/2012/03/worloilproduction.jpg?w=300>

*Produksi Minyak Dunia Menurut Sekenario Peak Oil Theory*

 

Dan begitulah realitanya dunia ini yang penuh dengan kepalsuan. Teori bahwa

minyak bumi berasal dari sisa fosil biologis zaman dahulu memanglah sebuah

kebohongan besar dari para elit zionis-Illuminati (yang memang sejak awal

menguasai bisnis minyak, media, dan institusi pendidikan). Illuminati ingin

menggunakan propaganda Peak Oil untuk menaikkan harga minyak dan

mengeksekusi rencana depopulasi dunia mereka.

 

Saat harga minyak naik melewati kemampuan beli sejumlah besar negara, hanya

negara-negara yang diizinkan hidup oleh Illuminati yang akan mendapatkan

minyak. Beberapa milyar penduduk bumi akan dimusnahkan (depopulasi) secara

kejam dalam kekacauan dan kepanikan akibat matinya industri dan perdagangan

di dalam negeri mereka.

 

Mungkin bagi sangkaan orang awam, keuntungan penjualan minyak akan

dinikmati oleh negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi, Kuwait,

Uni Emirat Arab, Libya dan Indonesia. Namun kenyataannya meskipun ladang

produksi minyaknya ada di Arab Saudi dll, namun sebagian besar perusahaan

penambang dan pengolah minyaknya dimiliki oleh perusahaan asing,

Rockefeller beserta kolega-koleganya. Di Indonesia sendiri, 90% perusahaan

minyak yang ada dimiliki oleh perusahaan asing. Maka jangan heran sebagai

salah satu negara penghasil minyak, tidak ada sedikitpun jejak keuntungan

besar yang diraup oleh negara ini. Sedikitpun dana yang ada belum

terkorupsi, dana ini, dana itu yang tidak jelas kemana larinya. Yang jelas

nikmatin ya mafia2 minyak itu, rakyat kecil kayak kita mah dianggap ngga

perlu, yang penting beli BBM terus, dan sekarang dicabut subsidinya pula.

 

Saat ini, akibat propaganda Peak Oil, semua negara ramai-ramai

mengembangkan minyak nabati yang disebut biofuel. Mereka menggunakan bahan

pangan seperti jagung dan gula untuk membuat minyak baru. sekalipun mereka

tahu energi yang diperlukan untuk memproduksi satu unit minyak biofuel

lebih besar daripada energi yang kemudian bisa didapat dari satu unit

minyak biofuel, rencana ini tetap jalan terus.

 

Selain itu, efek dari tindakan ini adalah mengurangi lahan pertanian untuk

bahan pangan. Tanah pertanian yang sebenarnya untuk memproduksi bahan

pangan sekarang sebagian dikonversi sebagai lahan pertanian yang produknya

dipakai untuk membuat bahan baku biofuel. Salah satu penyebab kenaikan

harga komoditi pertanian beberapa tahun terakhir ini adalah karena hal ini,

dan kabar buruk bagi para kelas menengah dan orang miskin adalah intensitas

program ini sekarang masih di tahap awal. Di tahun-tahun mendatang, akan

ada semakin banyak lahan pertanian untuk memproduksi biofuel dan oleh sebab

itu akan membuat pasokan bahan pangan menjadi semakin ketat, alias harga

bahan pangan akan terus meningkat. …

 

food inflation menjadi perhatian para pengamat ekonomi, saya melihat dr

perspektif lingkungan juga dan ternyata ada benang merahnya di teknik2

produksi GMO. Memperkecil lahan pertanian = menggantungkan hidup petani

pada teknologi pertanian yg dikuasai asing, menjadikan lahan2 petani sbg

industri trmsuk biofuel, kemudian kanibalisasi lahan dng menjadikan lahan

pangan yg bergantung pd air tawar ke air asin. Saat ini ada ujicoba para

insinyur monsanto membuat sawah di tepi pantai dng keramba spt rumput laut.

its insane!**

 

***Masa Depan Minyak Bumi*

 

Hari ini kita dianjurkan habis-habisan oleh pemerintah untuk menghemat

energi BBM, demi menyisakan energi dari minyak untuk anak cucu kita.Jika

memang minyak benar-benar akan habis dalam beberapa puluh tahun lagi,

mengapa sekarang cadangan minyak terus meningkat dan produksinya kian

meroket ?

 

Tahu 1980-an OPEC memutuskan kuota produksi minyak didasarkan pada jumlah

cadangan yang ada di negara masing-masing, semakin besar cadangannya maka

semakin besar pula produksinya .BElakangan ini Arab Saudi melaporkan

peningkatan cadangan minyak mentahnya sekitar 200 miliar barel. stok Minyak

Saudi aman dan berlimpah , kata para pejabatnya.

 

Ada juga laporan bahwa Rusia telah mengalami peningkatan yang jauh lebih

besar pada cadangan minyaknya bahkan melampaui Arab Saudi. Mengapa Rusia

mengumumkan hal ini jika Rusia percaya bahwa cadangan minyak adalah

terbatas?tampak jelas bahwa Rusia telah siap dengan produksi minyak tak

terbats di masa depan

Yang jelas ada kontradiksi besar antara teori keterbatasan minyak dengan

fakta peningkatan cadangan minyak

 

Tampaknya bahwa setiap kali ada semacam krisis energi, OPEC selalu

meningkatkan produksi . Alasannya mereka melakukannya untuk menurunkan

harga, namun harga selalu naik karena mereka juga menyebarluaskan mitos

bahwa mereka menguras beberapa cadangan terakhir untuk pasar.

 

Bukti ilmiah juga sangat bertentangan dengan keterbatasan suplai minyak,

baru-baru ini diperbarui dalam paper Ilmiah yang dimuat Dalam ‘Energia’

menunjukkan bahwa minyak adalah zat abiotik,dan bukanlah produk yang

berasal dari materi biologis yang mengalami pembusukan berjuta-juta tahun

lalu. Minyak, bukan sumber daya non-terbarukan. seperti batubara, dan gas

alam, yang bisa terisi kembali dari sumber dalam perut bumi.

 

*Rusia berhasil membuktikan kalau minyak bumi ternyata bukan dari fosil dan

dapat diperbaharui karena berasal dari lapisan magma lebih di kedalaman

lebih dari 30,000 kaki dan tidak ditemukan lapisan organik.*

 

Tidak kebetulan kemudian bahwa Rusia, yang memelopori penelitian ini

kemudian melakukan serangkaian proyek penggalian minyak bumi dengan

kedalaman yang lebih jauh lagi 30.000 meter

 

referensi

 

*http://www.prisonplanet.com/archives/peak_oil/index.htm*

*http://www.powerpolitics.org/archives/000004.html*

*http://www.vialls.com/wecontrolamerica/peakoil.html*

*

http://www.rollingstone.com/politics/story/_/id/7203633?pageid=rs.Home&pageregion=single7&rnd=1111922613104&has-player=true&version=6.0.12.857

*

*

http://www.conspiracyplanet.com/channel.cfm?channelid=63&contentid=2170&page=2

*

*http://www.prisonplanet.com/audio/110405peakoil.mp3*

 


TEKNOLOGI VETIVER DAN BIOPORI UNTUK KONSERVASI TANAH PADA TANAH PERTANIAN YANG TERDEGRADASI

Posted by Anton Sutrisno on March 18, 2012 at 10:30 PM Comments comments (0)

  Oleh : Anton Sutrisno


 

BAB I  

PENDAHULUAN

 

A.    Pendahuluan

Di Indonesia pada umumnya, atau di Bengkulu pada khususnya memiliki topografi yang berbukit. Lahan pertanian untuk perkebunan atau lahan kering/tegalan kebanyakan tidak didesain dengan baik. Desain pengendalian erosi untuk mempertahankan kesuburan tanah atau mempertahankan laju erosi tanah jika terjadi hujan. Kecepatan aliran air dipermukaan tanah, mengakibatkan kecilnya serapan air hujan yang dapat terserap ke dalam tanah.

Konversi hutan menjadi tanaman perkebunan dalam jumlah yang sangat luas sangat mempengaruhi penyerapan air tanah. Terutama sekali untuk tanaman sawit yang sudah dikenal dengan tanaman yang rakus air. Akibatnya ketersediaan air tanah menjadi semakin berkurang, yang mengganggu ketersediaan air bersih untuk kebutuhan manusia.

Kegiatan pertanian dan perkebunan, seperti aktivitas pemupukan, pengangkutan hasil, termasuk juga pengolahan tanah dan aktivitas lainnya, secara komulatif telah mengakibatkan tanah tersebut mengalami penurunan kualitas. Secara fisik, akibat kegiatan tersebut mengakibatkan tanah menjadi bertekstur keras, tidak mampu menyerap dan menyimpan air. Secara kimia, penggunaan herbisida dan pestisida telah menjadi residu di dalam tanah. Demikian juga dengan pemupukan yang biasanya menggunakan pupuk kimia dan kurang menggunaakan pupuk organik akan mengakibatkan pencemaran air tanah, peningkatan keasaman tanah. Secara biologis, akibat aktivitas tersebut banyak mikro organisme tanah yang mati. Padahal organisme yang ada di dalam tanah memiliki peranan yang sangat besar dalam siklus hara tanah.

Percepatan degradasi lahan yang paling tampak pada lahan pertanian adalah disebabkan oleh erosi. Lapisan atas permukaan tanah yang subur, banyak mengandung hara dan serasah menjadi hilang terkikis oleh erosi. Kanopi daun dari tanaman mono kultur yang ada di permukaan tanah pada lahan perkebunan tidak mampu mengurangi hempasan air hujan. Pengelolaan gulma yang kurang ramah terhadap lingkungan semakin mempercepat proses ini.

Erosi adalah proses penggerusan lapisan tanah permukaan yang disebabkan oleh beberapa hal seperti angin, air, es atau grafitasi. Air hujan jatuh di atas permukaan tanah akan menumbuk agregat tanah menjadi partikel-partikel tanah yang terlepas. Partikel-partikel tanah yang terlepas ini akan terbawa oleh aliran permukaan.

Semakin besar jumlah hujan yang jatuh, maka semakin besar pula jumlah aliran permukaan yang terjadi, yang berarti daya penghanyutan partikel-partikel tanah yang terlepas dan daya gerus terhadap permukaan tanah semakin besar. Dengan semakin besarnya tanah yang tergerus, permukaan tanah semakin licin, sehingga aliran air akan semakin kencang, semakin kecil yang tertahan di permukaan tanah, semakin kecil yang dapat terserap ke dalam tanah.

Pada tanah-tanah berlereng, erosi menjadi persoalan yang serius, dimana kemiringan dan panjang lereng merupakan dua unsur yang berpengaruh terhadap aliran permukaan dan erosi. Kemiringan lereng berpengaruh terhadap kecepatan aliran permukaan, sehingga memperbesar daya perusakan oleh air. Jika kecepatan aliran meningkat dua kali, maka jumlah butir-butir tanah yang tersangkut menjadi 32 kali lipat (Arsjad, 1983). Dan bila panjang lereng menjadi dua kali lipat, maka umumnya erosi yang terjadi akan meningkat 1,5 kali (Nurhajati Hakim, 1986).

Cepatnya aliran air di permukaan tanah, semakin mengurangi kesempatan untuk terserap ke dalam tanah. Semakin lama air berada di permukaan tanah maka akan banyak memberikan kesempatan untuk terserap ke dalam tanah. Dampak tidak terserapnya air ke dalam tanah ini yang mengakibatkan penumpukan air pada areal yang rendah. Jika penumpukan air ini melimpah akan mengakibatkan banjir. Salah satu cara untuk menghambat percepatan aliran air di permukaan tanah adalah dengan pengendalian erosi, dan membuat perluasan permukaan penyerapan tanah.

Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengendalian erosi: Yaitu dengan : a). metoda kimia (penggunaan bahan pemantap tanah/soil conditioner), b). metoda mekanik yaitu dengan pembuatan terasering, menggunakan pemasangan tembok atau matras kawat, dsb dimana ke dua metoda tersebut berbiaya sangat mahal. c) metoda vegetatif (dengan menggunakan tanaman), dimana merupakan pendekatan yang bersifat “lembut” atau “hijau” yang tidak mahal, estetis juga ramah lingkungan.

Salah satu upaya penanganan erosi yang dibahas pada tulisan ini adalah penanganan dengan metoda vegetatif yaitu dengan menanam vetiver (akar wangi). Vetiver yang ditanam tidak diperbolehkan dipanen akarnya, karena justru jika hal ini terjadi dapat menimbulkan efek yang kontradiktif, dimana terjadinya kerusakan tanah. Akarnya yang panjang dapat menjadi pengikat antara lapisan tanah dan lapisan kedap air.

Perluasan permukaan tanah untuk penyerapan air dapat dilakukan dengan membuat biopori. Selama ini biopori lebih populer untuk pengendalian bajir di perkotaan terutama di Jabodetabek. Tidak salah jika teknologi ini diaplikasikan pada lahan pertanian. Di Jawa Tengah, Perum Perhutani menggunakan teknologi biopori untuk pemupukan pada kebun Murbei yang menjadi makanan ulat Sutera (Pangestu, 2011).

Kombinasi teknologi vetiver dan biopori yang diaplikasikan dimungkinkan untuk mengatasi laju erosi dan memperluas penyerapan air di permukaan tanah. Kombinasi ini juga akan mempebaiki struktur tanah, dengan meberikan kesempatan organisme tanah melakukan dekomposisi bahan organik yang ada didalam lobang biopori. Pada tulisan ini akan dicoba untuk membahas teknologi tersebut untuk diaplikasikan pada lahan pertanian.


 

B.     Rumusan Masalah

Konversi hutan menjadi tanaman pertanian akan merubah permukaan tanah, pada proses pembukaan lahan telah menghilangkan lapisan top soil, humus, dan oraganisme permukaan tanah. Proses kegiatan usaha tani yang ada di atasnya, mengakibatkan degradasi tanah secara fisik, kimia dan biologi. Salah satu proses fisik penyebab degradasi adalah erosi. Erosi akan berakibat mengurangi kemampuan penyerapan air ke dalam tanah. Pori-pori tanah yang dibuat oleh organisme permukaan tanah, akar berbagai tumbuhan hilang terkikis air hujan. Masih dapatkah tanaman perkebunan mengendalikan erosi dengan memberikan kesempatan pada permukaan tanah untuk melakukan percepatan penyerapan air? Dapatkah Teknologi vetiver dan biopori memberikan pemecahan terhadap erosi dan penyerapan air tanah? Mungkinkan teknologi vetiver dan biopori untuk mengedalikan laju degradasi tanah pertanian dan perkebunan?

.

 

C.    Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah:

1.    Mengetahui apakah lahan pertanian khususnya perkebunan masih efektif mengendalikan laju erosi dan dapat menyerap air tanah sebagai upaya pengendalian laju degradasi tanah?

2.    Mencoba untuk mencari alternatif pengendalian degradasi tanah dengan mendgedalikan erosi dan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah dengan mengkombinasikan teknologi vetiver dan biopori.

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.     Deskripsi Vetiver

Vetiver, yang di Indonesia dikenal sebagai akar wangi (Vetiveria zizanioides) atau usar (Vetiver nigritana), adalah sejenis rumput-rumputan berukuran besar yang memiliki banyak keistimewaan. Sedangkan dalam bahasa daerah dikenal dengan useur (Gayo), urek usa (Minang Kabau), hapias (Batak), narwasetu atau usar (Sunda), larasetu (Jawa), karabistu (Madura),  nausina fuik (Roti), tahele (gorontalo), akadu (buol), sere ambong (Bugis), babuwamendi (Halmahera), garamakusu batawi (Ternate), baramakusu buta (Tidore)

Di Indonesia rumput ajaib ini baru dimanfaatkan sebagai penghasil minyak atsiri melalui ekstraksi akar wangi. Sentra tanaman vetiver di kabupaten Garut, Wonosobo, Pasuruan, Lumajang dan Sleman.

Rumput vetiver dapat tumbuh di perbukitan, dataran rendah, bahkan di daerah rawa atau pada tanah yang kondisinya buruk (bekas tambang), baik di daerah dengan curah hujan rendah, kurang dari 200 mm, mapun curah hujan tinggi lebih dari 3000 mm (Booth dan Adinata, 2004).

Beberapa Negara yang mengusahakan akar wangi adalah Brazil, India, Haiti, Kepulauan Reunion, Honduras, Guatemala, Meksiko, Dominika dan Indonesia. Negara yang mengusahakan secara komersial untuk kepentingan penyulingan hanya Indonesia, khususnya pulau jawa. Ada sebagian kecil di Kepulauan Reunion. Dalam perdagangan minyak akarwangi dikenal dengan dua nama yaitu java vetiver oil (asal Pulau Jawa) dan reunion island vetiver oil ( asal kepulauan reunion).

 

Bentuk Fisik Rumput Vetiver

    Tanaman ini merupakan tanaman tahunan yang tumbuh tegak dengan tinggi 1.5 – 2.5 m .

    Sistem perakarannya dalam dan masif, mampu masuk sangat jauh kedalam tanah. Bahkan ada yang mampu menembus hingga kedalaman 5.2 meter.

    Bila ditanam di lereng-lereng keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tanah, dan pada saat yang sama menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya. Kondisi seperti ini dapat mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air sehingga vetiver dijuluki sebagai ”kolom hidup”.

    Batangnya kaku dan keras, tahan terhadap aliran air dalam (0.6 – 0.8 m)

    Jika ditanam berdekatan, membentuk baris/pagar yang rapat. Hal tersebut akan mengurangi kecepatan aliran, mengalihkan menahan matrial sediment dengan tanpa merubah arus air dan dapat menjadi filter yang sangat efektif.

    Tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya

 

Syarat Tumbuh

    Toleran tumbuh di ketinggian 500 – 1500 m dpl, curah hujan 500 – 2.500 mm per tahun, suhu udara lingkungan 17 – 27oC. Membutuhkan sinar matahari yang cukup dan lahan terbuka. Kondisi lahan terbaik adalah tanah berpasir atau derah aliran gunung berapi. Meskipun pada lahan yang ekstrim masih mampu tumbuh.

    Waktu penanaman dapat sepanjang tahun, namun yang terbaik pada awal musim hujan.

 

Keunggulan Vetiver

Keunggulan Vetiver, antara lain :

    Tahan terhadap variasi cuaca, seperti : kekeringan panjang, banjir, genangan dan temperatur - 14º C sampai 55º C.

    Mempunyai daya adaptasi pertumbuhan yang sangat luas pada berbagai kondisi tanah, seperti :

•    Pada tanah masam (mengandung mangan dan aluminium),

•    Pada tanah bersalinitas tinggi dan mengandung banyak natrium,

•    Pada tanah yang mengandung logam berat, seperti : Ar, Cd, Co, Cr, Pb, Hg, Ni, Se dan Zn.

•    Tahan terhadap rentang pH tanah : 3 – 10.5

    Mampu menembus lapisan keras hingga kedalaman 15 cm. Dengan kemampuan tersebut, dapat bekerja sebagai paku tanah atau pasak yang hidup.

    Vetiver sangat praktis, tidak mahal, mudah dipelihara, dan sangat efektif dalam mengontrol erosi dan sedimentasi tanah, konservasi air, serta stabilisasi dan rehabilitasi lahan

 

Kelemahan Vetiver

    Karena pola pertumbuhan vetiver yang tegak lurus atau vertikal terhadap tanah, maka disarankan penanamannya dikombinasikan dengan jenis tanaman penutup tanah, seperti bahia, rumput pahit (carpet grass) atau jenis kacang-kacangan (legume). Sehingga tanaman penutup tanah tersebut dapat mengurangi percikan dan aliran permukaan terutama pada awal pertumbuhan vetiver.

    Pada bagian depan, terlihat rumput Bahia menutupi permukaan tanah, sebelum tunas vetiver tumbuhnya merapat dan daunnya rimbun.

    Karena vetiver adalah tanaman hidup, sehingga tidak dapat langsung berfungsi dengan baik dalam menangani erosi permukaan. Tanaman ini masih memerlukan waktu atau suatu proses yaitu proses pertumbuhan.


 

B.    Deskripsi Biopori

Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing,  perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah laiinya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah (Tim Biopori IPB, 2007). Teknologi Biopori ini ditemukan oleh Ir. Kamir Raziudin Brata MSc, peneliti dan dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Alam IPB tahun 1976. Sebelum di publikasikan ke masyarakat telah digunakannya selama 20 tahun.

Secara alamiah, lubang biopori secara alami terbentuk oleh cacing dan lubang yang terbentuk oleh aktifitas akar tanaman. Bila lubang-lubang seperti ini dapat dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air akan diharapkan semakin meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah,  dengan perkataan lain akan dapat mengurangi bahaya banjir yang mungkin terjadi.

Secara alami kondisi seperti itu dapat dijumpai pada lantai hutan dimana serasah atau bahan organik terumpuk di bagian permukaan tanah. Bahan organik ini selanjutnya menjadi bahan pakan (sumber energi) bagi berbagai fauna tanah untuk melakukan aktifitasnya termasuk membentuk biopori. Pada ekosistem lantai hutan yang baik, sebagian besar air hujan yang jatuh dipermukaannya akan diresapkan kedalam tanah.

Ekosistem demikian dapat ditiru di lokasi lain dengan membuat lubang vertikal kedalam tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi bahan organik, seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput atau vegetasi lainnya, dan sejenisnya. Bahan organik ini kelak akan dijadikan sumber energi bagi organisme di dalam tanah sehinga aktifitas mereka akan meningkat. Dengan meningkatnya aktifitas mereka maka akan semakin banyak biopori yang terbentuk.

Kesinergisan antara lubang vertikal yang dibuat dengan biopori yang terbentuk akan memungkinkan lubang-lubang ini dimanfaatlkan sebagai lubang peresapan air artifisial yang relatif murah dan ramah lingkungan.

 

Manfaat Biopori

Berdasarkan Publikasi Tim Biopori IPB (2007) dijelaskan manfaat dari penerapan biopori adalah sebagai berikut:

1.    Meningkatkan daya resapan air.

Kehadiran lubang resapan biopori secara langsung akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom/dinding lubang. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140 cm2 atau hampir 1/3 m2. Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78,5 cm2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm2.

Dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Oleh karena itu bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya dalam meresapkan air. Dengan demikian kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan dalam meresapkan air.

 

2.    Mengubah Sampah Organik Menjadi Kompos

Lubang resapan biopori "diaktifkan" dengan memberikan sampah organik kedalamnya. Sampah ini akan dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekompoisi ini dikenal sebagai kompos. Melalui proses seperti itu maka lubang resapan biopori selain berfungsi sebagai bidang peresap air juga sekaligus berfungsi sebagai "pabrik" pembuat kompos. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, sayuran, dan jenis tanaman lainnya. Bagi mereka yang senang dengan budidaya tanaman/sayuran organik maka kompos dari lubang biopori adalah alternatif yang dapat digunakan sebagai pupuk sayurannya.

 

3.    Memanfaatkan Fauna Tanah dan atau Akar Tanaman

Lubang Resapan Biopori diaktikan oleh organisme tanah, khususnya fauna tanah dan perakaran tanaman. Aktivitas merekalah yang selanjutnya akan menciptakan rongga-rongga atau liang-liang di dalam tanah yang akan dijadikan "saluran" air untuk meresap ke dalam tubuh tanah

Dengan memanfaatkan aktivitas mereka maka rongga-rongga atau liang-liang tersebut akan senantiasa terpelihara dan terjaga keberadaannya sehingga kemampuan peresapannya akan tetap terjaga tanpa campur tangan langsung dari manusia untuk pemeliharaannya. Hal ini tentunya akan sangat menghemat tenaga dan biaya. Kewajiban faktor manusia dalam hal ini adalah memberikan pakan kepada mereka berupa sampah organik pada periode tertentu. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan menjadi humus dan tubuh biota dalam tanah, tidak cepat diemisikan ke atmosfir sebagai gas rumah kaca; berarti mengurangi pemanasan global dan memelihara biodiversitas dalam tanah.

Dengan munculnya lubang-lubang resapan biopori dapat dicegah adanya genangan air, sehingga berbagai masalah yang diakibatkannya seperti mewabahnya penyakit malaria, demam berdarah dan kaki gajah (filariasis) akan dapat dihindari.

 

Cara Pembuatan Biopori

Cara pembuatan biopori adalah sebagai berikut:

1.    Buat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diamter 10 cm. Kedalaman kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah bila air tanahnya dangkal. Jarak antar lubang antara 50 - 100 cm

2.    Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2 - 3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang.

3.    Isi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau pangkasan rumput

4.    Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan.

5.    Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.


 

C.    Dampak Konversi Hutan Terhadap Erosi dan Penyerapan Air Tanah

Tidak dapat dipungkiri, konversi hutan menjadi lahan pertanian khususnya pada lahan miring merupakan kegiatan yang beresiko tinggi ditinjau dari sudut pandang pengelolaan daerah tangkapan air. Masalah utama yang dihadapi akibat adanya perubahan tutupan lahan pada lahan miring adalah berubahnya fungsi hidrologi kawasan terebut. Sayangnya, penulis belum dapat memperoleh hasil penelitian pada lokasi kebun sawit, untuk pembahasan ini menggunakan kajian penelitan pada agroforestri berbasis kebun kopi.

Hasil penelitian pada perkebunan kopi, meskipun pada usia lebih dari 10 tahun ternyata tidak dapat melakukan peran penyerapan air ke dalam tanah sebagaimana hutan awalnya (Widianto, dkk, 2004 dan Hairiah, dkk 2004). Padahal karakter agroforestri kebun kopi memiliki tanaman yang tidak homogen, ada tanaman pelindung, dan permukaan tanahnya tidak dalam kondisi bersih. Tetapi banyak terdapat serasah yang dimungkinkan hidup biota tanah yang lebih banyak.

Limpasan permukaan dan kehilangan tanah merupakan salah satu  akibat dari perubahan kerapatan vegetasi penutup tanah dan kualitas struktur tanah. Perubahan kualitas struktur tanah diduga sebagai akibat dari kegiatan alih guna lahan, misalnya dari hutan menjadi kebun kopi di Sumberjaya (Verbist dan Pasya, 2004).

Melihat kondisi tersebut, jika dibandingkan dengan tanaman pekebunan kelapa sawit, atau tanaman tegalan maka kehilangan tanah dan limpasan permukaan air ketika hujan akan lebih tinggi. Meskipun belum didapat data yang pasti dari hasil penelitian. Lahan tegalan biasanya sering tidak berpelindung tanaman, jika terjadi hujan maka permukaan tanah akan terkena percikan langsung. Tanah yang kebanyakan terbuka, tidak ada tanaman penutup permukaan akan semakin mempercepat erosi.


 

D.    Bio Engineering Desain

Permasalahan yang dihadapi dalam pengendalian erosi lereng, terutama di daerah yang memiliki curah hujan yang panjang dan tinggi sulit untuk dituntaskan dalam jangka panjang. Desain yang ada selama ini adalah dengan membangun kanal atau teras penahan material yang mengalir. Pada titik tertentu akan meluap atau mengalir ke sisi penahan yang rendah. Akibatnya adalah membuat aliran material baru  seperti pada gambar 1 (Hengchaovanich, 1988, Truong dan Loch, 2004).

Solusi alternatif, sebagaimana disebutkan adalah untuk menggunakan vegetasi, dalam hal ini akar wangi, untuk membantu memperkuat lapisan 1-1,5 m permukaan tanah yang rawan. Ketika akar akar wangi berinteraksi dengan tanah di mana ia tumbuh, bahan komposit baru yang terdiri dari akar dengan kuat tarik tinggi dan adhesi tertanam dalam matriks kekuatan tarik rendah terbentuk. Akar Vetiver memperkuat tanah dengan transfer tegangan geser dalam tanah matriks inklusi tarik. Dengan kata lain, kekuatan geser tanah ditingkatkan oleh kolom akar (Hengchaovanich, 1988, Wijaya Kusuma, 2007).

Memperhatikan hal tersebut diatas, maka perlu didesain dengan baik teras sering dengan menggunakan vetiver, yang ditanam melintang dari kemiringan tanah. Sekitar 50 cm diatas jalur vetiver dibuat biopori yang diisi bahan organik yang berfungsi sebagai penyerap air. Kelebihan sistim vetiver ini adalah air akan tetap mengalir, akan tetapi matrial tanah yang diangkut akan tertahan oleh tanaman vetiver. Berbeda dengan teras siring yang dibangun dengan membuat tanggul, maka aliran air akan membelok dan membentuk saluran baru. Luapan air yang tertahan oleh tanaman vetiver sebagaian juga akan terserap di dalam tanah melalui biopori.

Penanaman vetiver sebagai penahan erosi dan kolom tanah dengan jarak 10 cm, pertumbuhannnya yang cepat dalam waktu kurang dari 6 bulan akan rapat. Penanaman vetiver dengan cara stek, sebagaimana tanaman lain. Akan baik jika dibibitkan di polybag.

Sedangkan pembuatan biopori dengan jarak dari vetiver 50 – 100 cm dengan jarak antar lobang biopori 100 cm, kedalamam biopori 80 – 100 cm. Pada permukaan biopori dapat diberi paralon dengan panjang sekitar 10 cm. Kegunaannya untuk menghindari agar tanah permukaan sekitar lobang tidak tergerus menutupi lobang. Sampah yang dimasukkan adalah sampah segar dari sekitar lokasi, yang berfungsi untuk pengkomposan, mengundang biota tanah dalam proses dekomposisi sampah tersebut, dan membuat biopori di dalam tanah yang akan memperlebar area serapan air. Pada periode tertentu sampah ini dapat dipanen sebagai pupuk kompos.


E.    Cara Kerja Teknologi Vetiver dan Bio Pori pada Konservasi Degradasi Tanah

Degradasi tanah terjadi pada tiga aspek, yaitu fisika, kimia dan biologi. Melalui bioengineering menggunakan vetiver dan biopori dapat dikendalikan. Penerpaan teknologi ini dapat membuat kualitas tanah tetap terjaga dan lestari.

Kerusakan struktur tanah yang diakibatkan oleh erosi yang berlebihan, dapat dikendalikan dengan penanaman vetiver. Penanaman vetiver yang memanjang mengikuti kontur tanah dapat sebagai tanggul hidup pada teras sering. Serasah, humus dan juga partikel tanah seperti debu, liat dan pasir akan terjaring oleh rumpun-rumpun vetiver. Sekalipun terjadi perpindahan tanah tidak akan terlalu jauh. Dengan demikian kerusakan struktur tanah dapat terkurangi.

Pemadatan tanah yang akibat aktivitas di permukaan lahan pertanian dapat dikendalikan dengan penerapan teknologi biopori. Lubang biopori yang telah dibuat yang mengikuti tanggul hidup vetiver, setelah diisi dengan sampah organik akan menjadi tempat tinggalnya organisme pengurai, seperti jangkrik, cacing hingga mikro organisme. Aktivitas mereka ini sebenarnya yang menciptakan biopori secara alamiah pada lobang biopori. Sebagaimana kita ketahui aktivitas organisme pengurai ini yang memberikan banyak hara yang bermanfaat bagi tanaman. Disamping itu tanah akan menjadi gembur.

Ketersediaan bahan organik di dalam tanah akan memberikan perbaikaan kualitas kimia tanah. Penulis belum dapat menunjuk argument ini, karena belum ada penelitian dampak biopori terhadap kimia tanah. Tetapi secara teoritis dengan adanya aktivitas mikro organisme, tentunya akan ada pengurai dari zat-zat kimia yang menjadi residu di dalam tanah, seperti residu pospat.   


BAB III

KESIMPULAN

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.     Perubahan permukaan tanah akibat adanya konversi hutan menjadi perkebunan tidak dapat meyerap air ke dalam tanah sebaik kondisi hutan meskipun pada perkebunan yang didesain sebagai agroforestri. Dengan demikian akan lebih rendah serapannya dan lebih tinggi terjadi erosi pada lahan pertanian yang monokultur dan pada lahan terbuka seperti tegalan.

2.    Penerapan vetiver sabagai tanaman tanggul teras tanah yang dikombinasikan biopori akan menahan laju erosi dan memberikan kesempatan permukaan tanah untuk meyerap air permukaan didalam tanah. Tertahannya air oleh vetiver dan masukkanya air ke lubang biopori memberikan ruang serapan air ke dalam tanah.

3.    Kombinasi teknologi vetiver dan biopori dapat menjaga dan memperbaiki kualitas tanah secara fisika, kimia dan biologi.

Dengan demikian teknologi ini dapat disarankan untuk diterapkan terutama pada lahan pertanian monokulutur atau tegaral terutama yang berkontur miring. Disamping untuk memberikan perluasan muka penyerapan air juga akan memperbaiki kualitas tanah dengan pemberian bahan organik. Pengkomposan bahan organik tersebut akan menjadi tambahan asupan unsur hara bagi tanaman.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2002, Laporan Statistik Lingkungan Hidup Tahun 2002

Anonim, 2010, Laporan Kegiatan Workshop Citarum River Restoration Using Alternative Technology, http://www.citarum.org/upload/upload/Laporan% 20Kegiatan%20Workshop%20Citarum%20River.pdf   diunduh 10 April 2010.

Anonim, 2009. Vetiver, rumput perkasa penahan erosi, http://balitbang.pu.go.id/saritek/ saritek%20jatan/11.VETIVER.pdf diunduh 10 April 2011

Arsyad S, 1983, Konservasi Tanah dan Air, Diktat Kuliah Institut Pertanian Bogor.

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, 2007. Petunjuk Teknis Teknologi Konservasi Tanah dan Air, Badan Penelitian dan Pengemangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, 2007. Petunjuk Teknis Teknologi Pengendalian Longsor, Badan Penelitian dan Pengemangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Booth DJ dan N. A Adinata, 2004, Rumput Vetiver tanaman alternative untuk KTA, www.eastbalipovertyprojet.org.

Ghofar N, LM Lee, dan A Kassim, 2006. Effect Of Surface Boundary Condition On Rainfall Infiltration, Jurnal Teknologi, 44(B) Jun 2006: 63–70.

Hairiah K, D Suprayogo, Widianto, Berlian, E Suhara, A Mardiastuning, RH Widodo, C Prayogo, dan S Rahayu, 2004 Alih Guna Lahan Hutan Menjadi Lahan Agroforestri Berbasis Kopi Ketebalan Seresah, Populasi Cacing Tanah Dan Makroporositas Tanah, AGRIVITA VOL. 26 NO.1 Maret 2004 hal 68-80

Hengchauvanich, 1988, Vetiver system for stabilization, APT Consult Co Ltd. Bangkok, Thailand.

Khasanah N, B Lusiana, Farida dan MV Noordwijk, 2004 Simulasi Limpasan Permukaan Dan Kehilangan Tanah Pada Berbagai Umur Kebun Kopi, AGRIVITA VOL. 26 NO.1 Maret 2004 hal 81-89.

Meeting Report, 2004, Vetiver system ecotechnology for water quality improvement and environmental enhancement, Current Science Vol 86 No 1 10 Januari 2004.

Nurhajati Hakim.Dr, dkk, 1986, Dasar-dasar Ilmu Tanah, Universitas Lampung.

Pangestu, Alex, 2011. Bor Biopori dari Jawa Tengah Lebih Efisien. http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/678/bor-b... diunduh 9 Desember 2011.

Pusat Litbang SDA, 2008, Teknologi Pengendalian Pencemaran Air Di Indonesia, http://www.pusair-pu.go.id/artikel/kedua.pdf diunduh 10 April 2011

Widianto, D Suprayogo, H Noveras, RH Widodo, P Purnomosidhi, dan MV Noordwijk, 2004. Alih Guna Lahan Hutan Menjadi Lahan Pertanian: Apakah Fungsi Hidrologis Hutan Dapat Digantikan Sistem Kopi Monokultur? AGRIVITA VOL. 26 NO.1 Maret 2004 hal 47 - 52

Wijayakusuma R. 2007, Stabilisasi lahan dan fitoremediasi dengan vetiver system, makalah Green Design Seminar, 26 – 29 Juli 2007 di Prigen Pasuruan Jawa Timur.

Setiawan D, D Tambas dan H Hanum, 2008. Prosedur Analisis Fungsi Lansekap Untuk Menilai Tingkat Kepulihan Kondisi Lahan Revegetasi Pasca Tambang Batubara Di Bukit Asam (Tanjung Enim), Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 8, No. 1 (2008) p: 1-7

Suara Merdeka, 2007, Mencegah banjir lewat serapan lubang biopori, http://ikankoi.wordpress.com/2007/03/01/mencegah-banjir-lewat-lubang-serapan-biop... diunduh 13 April 2011.

Sutanto, Rahman, 2002, Gatra Tanah Pertanian Akrab Lingkungan Dalam Menyongsong Pertanian Masa Depan, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 3 (1) (2002) pp 29-37.

Tim Biopori IPB, 2007 Biopori, http://www.biopori.com, diunduh 13 April 2011.

Tim Biopori IPB, 2007 Keunggulan dan Manfaat Biopori, http://www.biopori.com/keunggulan_lbr.php, diunduh 13 April 2011.

Verbist, B. dan G. Pasya. 2004. Perspektif Sejarah Status Lahan, Kawasan Hutan, Konflik dan Negosiasi di Sumberjaya Kabupaten Lampung Barat – Propinsi Lampung. Agrivita 26 (1): 20-28

 

 


Telaah Sosial Ekonomi Pencemaran Batubara Di Sungai Bengkulu

Posted by Anton Sutrisno on March 12, 2012 at 10:40 PM Comments comments (2)

Oleh Anton Sutrisno


Pendahuluan

Adanya batu bara di sungai Bengkulu disisi lain menimbulkan persoalan lingkungan, pencemaran air dan juga kerusakan ekologi DAS Air Bengkulu, tetapi juga memberikan mata pencaharian baru bagi masyarakat yang ada disekitar DAS tersebut. Pengerukan batubara di dasar sungai Bengkulu oleh masyarakat telah menjadi alternatif usaha baru tidak saja bagi masyarakat di sekitar Pasar Bengkulu Kota Bengkulu akan tetapi juga bagi masyarakat daerah lain, yang menyengaja mencari keberuntungan di tempat tersebut.

Dua sisi ini persoalan ini memberikan berkah bagi masyarakat yang lain. Kajian sederhana atau telaah ini mencoba untuk mambahas sisi sosial dan ekonomi dari batu bara yang mengendap di dasar sungai  Bengkulu. Paling tidak masyarakat telah membuktikan bahwa dengan kegiatannya, telah melakukan reduksi terhadap material pencemar yang ada di sungai dan sepanjang pantai hingga ke Pondok Kelapa. Jika ini tidak terjadi, bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melakukan pengerukkan limbah batu bara ini.

Telaah ini masih bersifat sangat dangkal, telaah terhadap hasil kajian atau kegiatan yang telah dilakukan oleh LSM yang pegiat masalah lingkungan, sejak awal peduli terhadap DAS Sungai Bengkulu, LSM Ulayat. Telaah juga berasal dari pengamatan dan diskusi beberapa pelaku baik dari LSM maupun masyarakat yang memberikan informasi dalam obrolan santai ataupun obrolan tak bertopik (bukan FGD) terhadap aktivitas penambangan, kegiatan masyarakat dan juga kegiatan penyadaran terhadap kerusakan yang diakibatkan pencemaran batu bara di sungai Bengkulu. Telaah dangkal ini diperkenankan untuk dilakukan investigasi dan kajian lebih lanjut.

 


DAS Sungai Bengkulu

DAS Sungai Bengkulu seluas 51.000 ha. Bagian hulu DAS terletak di Kabupaten Bengkulu Tengah dan bagian hilir terletak di Kota Bengkulu dan meliputi 8 kecamatan, yaitu Taba Penanjung, Talang Empat, Pondok Kelapa, Karang Tinggi, Pematang Tiga, Pagar Jati di wilayah Kabupaten Bengkulu Tegah dan Kecamatan  Muara Bangka Hulu, Gading Cempaka, Teluk Segara, Ratu Agung, Sungai Serut dan sedikit Kecamatan Selebar di Wilayah Kota Bengkulu.

DAS Sungai Bengkulu dibatasi sebelah timur DAS Tanjung Aur dan DAS Babat, Batas sebelah selatan, Samudera Indonesia, batas sebelah barat DAS Hitam dan DAS Lemau, dan batas sebelah Utara DAS Musi. DAS Bengkulu dibagi menjadi 3 Sub DAS, yaitu Sub DAS Rindu Hati dengan luas 19.207 Ha, Sub DAS Susup dengan luas 9.890 Ha, dan Sub DAS Bengkulu Hilir dengan luas 22.402 Ha.

 


Pencemaran Air Sungai  Bengkulu

Air Bengkulu merupakan salah satu sumber air PDAM di Kota Bengkulu. Sumber air Sungai Bengkulu melayani 6.000 pelanggan, sedangkan 21 ribu pelanggan dilayani dari sumber sungai Air Nelas. Kondisinya telah tercemar oleh batu bara. Ini sangat membahayakan kesehatan. Limbah pencucian batubara setelah diteliti mengandung zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika airnya dikonsumsi. Limbah tersebut mengandung belerang ( b), Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan Asam sulfat (H2sO4), dan Pb. Hg dan Pb merupakan logam berat menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti kanker kulit.

Limbah batu bara ini berasal dari hulu, dari pencucian batubara. Terdapat 2 perusahaan yang aktif melakukan penambangan sejak 20 tahun lalu, dan pencuciannya dibuang ke sungai bengkulu. Limbah batu bara bisa ditemukan sepanjang 30 kilometer (km) Sungai Bengkulu mulai dari Desa Penanding Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah sampai ke muara sungai bengkulu.

Hasil penelitian Ulayat pada tahun 2009 lalu, tingkat kekeruhan air Sungai Bengkulu sudah berada di ambang batas yakni sebesar 421 NTU dari 5 NTU yang ditetapkan dalam Permenkes 907 tahun 2002 tentang pengawasan kualitas air. Selain tingkat kekeruhan, perubahan warna yang ditolerir sebesar 15 PTCO sudah berada pada angka 267 PTCO. Kandungan besi berada pada angka 0,76 mg per liter dari angka yang ditolerir sebesar 0,30 mg per liter.

 


Sengaja Tercemar?

Pada sebuah perkuliahan Kimia Lingkungan, Bapak Agus Martono sambil guyon menyampaikan rasa kecurigaan bahwa adanya batu bara di sungai Bengkulu disengaja oleh perusahaan penambangan yang ada di hulu sungai. Sudah lebih dari 5 tahun pengambilan batu bara tersebut tetapi tidak habis. Ketika banjir datang, kembali terisi. Diduga untuk menghemat biaya pencucian dan pengangkutan.

Dugaan yang sama juga diperoleh dari cerita aktivis LSM yang melakukan investigasi hingga ke areal pertambangan. Meskipun tidak dapat diperoleh berita dan informasi yang lebih banyak. Karena tidak diperkenankan memasuki areal pertambangan. Bahwa batu bara yang tersortir ketika pencucian sengaja dialirkan ke sungai. Salah satu fakta yang memperkuat adalah ketika musim hujan memang disalurkan batu bara sekaligus pencucian ke sungai. Informasi ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Keuntungan oleh perusahaan adalah tidak perlu melakukan pencucian dan penyaringan karena sudah dicuci disungan dan disaring oleh para pemulung. Tidak perlu mengeluarkan biaya angkut dari lokasi tambang. Menurut informasi, harga beli di pengumpulan batu bara jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya pencucian dan pengangkutan dari lokasi penambangan.

Konfirmasi berita tersebut kepada instansi yang berkompeten, dinyatakan tidak benar. Bahwa keberadaan batu bara yang hanyut disungai tersebut akibat penambangan pada waktu yang lampau. Karena penumpukaanya telah memakan waktu yang lama maka jumlahnya lebih banyak.

Argumen lain yang menguatkan adalah “pembuangan” batu bara ke sungai untuk memberikan kegiatan kepada masyarakat aliran sungai melakukan pengerukan. Mereka memiliki penghasilan yang cukup, setidaknya tidak mudah untuk dialihkan dengan kegiatan lain selama batu bara masih tersedia di sungai.

Dampak sosial yang timbul adalah, penyadaran lingkungan terhadap para pelaku menjadi susah. Tindakan ini dalam rangka mengamankan masyarakat yang memanfaatkan jasa lingkungan dari Sungai Bengkulu, yaitu sebagai sumber air bersih (PDAM). Untuk memperbaiki kondisi DAS Sungai Bengkulu maka harus ada tindakan perbaikan yang dilakukan oleh penambang. Selain pencucian batu bara yang tidak dibuang ke sungai, perusahaan tambang juga harus membayar biaya sosial yang ditimbulkan akibat kerusakan.

Berbicara kerusakan yang ditimbulkan, tidak hanya menyangkut ekologi disekitar bantaran sungai semata. Akan tetapi juga pada areal pertanian yang memanfaatkan pengairan dari sungai Bengkulu, atau areal pertanian yang sempat terkena luapan air sungai Bengkulu ketika banjir. Limbah batu bara juga mengisi areal sawah di daerah Tanjung Jaya, Semarang dan sekitarnya. Tanaman menjadi terganggu. Sebagaimana laporan dari Penyuluh Pertanian Lapangan yang bertugas di wilayah tersebut, bahwa sawah yang tergenang air yang mengandung debu batu bara menjadi tidak subur, tanaman tumbuh seperti keracunan.

 


Aktivitas Pengumpulan Limbah Batubara

Aktivitas pengumpulan batubara dilakukan di banyak tempat di sepanjang Sungai Air Bengkulu. Aktivitas tersebut dilakukan mulai dari pertemuan Sungai Penaway, Sungai Kemumu dan Sungai Air Bengkulu hulu hingga muara Sungai Air Bengkulu. Mata pencaharian pengumpul limbah batu bara ini nelayan dan juga petani.

Prose pengumpulan batu bara sebagaimana dilaporkan oleh Yayasan Ulayat yang berkerjasama dengan Yayasan Telapak dapat digambarkan sebagai berikut:

Proses dimulai dengan mengayuh rakit bambu untuk menuju lokasi tempat mencari batubara di sepanjang sungai Bengkulu dari Muara di Pasar Bengkulu ke arah hulu hingga Kembang Seri. Setelah mendapatkan di lokasi yang cocok, nelayan pemulung menyelam dan mengais dasar sungai dengan menggunakan sekop pendek sambil memasukkan pasir bercampur endapan batubara kedalam karung, untuk kemudian dibawa keatas rakit. Proses ini berlangsung hampir setengah hari karena nelayan pengumpul batubara ini harus bolak-balik keatas air untuk mengambil nafas.

Setelah karung-karung yang berisi pasir endapan batubara terisi penuh, nelayan pengumpul mengayak endapan batubara tersebut untuk memisahkan batubara dari pasir sungai ataupun sampah. Yang kemudian ditumpuk di atas rakit dan dibawa menepi untuk dijual ke toke pengumpul.

Setiap harinya para pemulung batubara ini bisa mendapatkan rata-rata 8 karung perhari yang langsung dijual kepada toke pengumpul seharga Rp.8.000,- - Rp.10.000,- perkarung. Jika kondisi sedang baik, atau mendapatkan endapan batubara yang cukup banyak, dapat diperoleh hingga 10 – 15 karung per hari. Sebuah pendapatan yang cukup menggiurkan. Dalam sebulan, para pemulung batu bara ini bisa mendapatkan pemasukan bersih sekitar Rp.1.000.000,- – Rp. 1500.000,- perbulan.

Saat ini, pengerukan batu bara di dasar sugai sudah menggunakan teknologi pompa air. Sehingga perolehan batu bara menjadi lebih besar. Akan tetapi persaingan antar pemulung menjadi semakin tinggi.

Oleh pengumpul, batubara tersebut di cuci dan disortir kembali antara batubara yang berukuran kecil dan batubara yang berukuran sedikit besar. Setelah bersih, toke pengumpul menjual kepada toke besar seharga Rp 14.000,- untuk batubara yang berukuran kecil dan Rp 15.000,- untuk batubara yang berukuran besar, kemudian dijual kepada toke besar untuk dibawa ke Stockpile batubara di Pelabuhan Pulau Bai.

Melihat potret pendapatan yang demikian, adalah wajar apabila kegiatan penyadaran lingkungan dan juga dampak bagi para pelaku menjadi tidak berjalan. Karena untuk berkumpul, bermusyawarah mereka akan kehilangan peluang pendapatan setidaknya Rp.50.000,00. Bagi para pelaku ini pencemaran sungai oleh batu bara adalah anugrah. Apalagi musyawarah itu bertentangan dengan kegiatan mereka. Dimana tujuannya untuk menghentikan pembuangan limbah batu bara ke sungai.

Permasalahan sosial yang timbul dalam kegiatan pemulungan batu bara adalah ada larangan dari pemerintah daerah, konflik antar pengumpul limbah batubara, dan kondisi alam. Masyarakat yang beraktifitas sebagai pemulung  batubara di muara sungai air Bengkulu ini, tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar sungai. Banyaknya masyarakat pendatang dari desa-desa yang jauh dari areal ini sering menimbulkan konflik sesama pemulung batubara. Masyarakat setempat umumnya tidak menyukai kehadiran pemulung yang bukan warga kelurahan pasar Bengkulu.

Masalah lain adalah banjir yang berakibat tidak hanya kepada para nelayan pengumpul batubara yang tidak turun kesungai, tetapi juga berdampak pada toke pengumpul yang mengumpulkan batubara di daerah sempadan sungai yang mengakibatkan batubara yang sudah bersih dan dikumpulkan oleh beberapa toke pengumpul di bantaran sungai, terbawa hanyut oleh banjir.

 


Rencana Aksi

Tentunya informasi yang telah disajikan di atas, perlu dipertajam. Agar diperoleh gambaran yang akurat. Pertanyaan yang mendasar adalah apakah pencemaran ini akan tetap dibiarkan, apalagi jika dugaan pembuangan ke sungai adalah benar. Pengurangan pencemaran, memberikan dampak peningkatan kualitas air Sungai Bengkulu. Bersamaan dengan itu juga memberikan dampak hilangnya mata pencaharian para pemulung batubara di sungai.

Untuk mengembalikan para pelaku ke mata pencaharian semula, seperti nelayan dan petani, tentunya tidak mudah. Pemerintah bersama dengan LSM dapat berperan dengan memberikan penyadaran bersamaan dengan program kompensai akibat rusaknya llingkungan dengan kegiatan perbaikan kualitas DAS Sungai Bengkulu. Pada tataran menetukan kegiatan perbaikan diperlukan adanya diskusi yang mendalam dengan para pelaku dan pemerintah. Apakah kegiatan pemulihan dengan penghijauan tanaman produktif yang melibatkan mereka sebagai pelaku utama di pinggiran sungai cukup efektif. Tetapi pasti, jika volume batubara berkurang, mau tidak mau mereka akan meninggalkan pekerjaan tersebut. Dengan perginya mereka apakah kualitas air sungai dan bantarannya menjadi baik. Ini masih memerlukan pemikiran lebih lanjut.

Kualitas air sangat ditentukan aktivitas pencemaran yang ada dihulu. Kegiatan pemulihan mutu air sangat diperlukan, akan lebih baik jika ini dijadikan kewajiban perusahaan penambang. Kegiatan ini juga akan membantu bagi peningkatan pendapatan masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Reklamasi bekas lahan batu bara, penanaman tanaman yang dapat menetralisir logam berat pada areal IPAL seperti penggunaan vetiver (akar wangi), akan mempercepat perbaikan lingkungan.

Rencana aksi ini akan terwujud jika semua pihak dapat berjalan bersama dan saling menyadari, bahwa manusia berhak memperoleh sumberdaya yang berkualitas. Pemerintah menetapkan kebijakan yang diikuti oleh penambang, LSM bersama masyarakat bersama mengkampanyekan penyadaran lingkungan DAS. Aksi ini bukan aksi politik, akan tetapi berupa aksi sosial masyarakat yang membutuhkan waktu dan perhatian khusus. Setidaknya waktu untuk meyadari kekeliruan sebelum terlambat.

 


Referensi

Harian Rakyat Bengkulu http://www.harianrakyatbengkulu.com

Yayasan Ulayat http://www.ulayat.or.id

 

 


 

KEARIFAN LOKAL DI BENGKULU

Posted by Anton Sutrisno on March 8, 2012 at 7:50 PM Comments comments (1)

Oleh :  Anton Sutrisno


Pendahuluan

Membahas kearifan lokal yang ada di mayarakat Provinsi Bengkulu sebenarnya cukup menarik, tetapi sayang masih terbatas dalam literatur yang ada. Disamping itu kearifan lokal yang ada tidak terlalu menonjol sebagaimana yang ada di daerah lain. Hal ini disebabkan dengan beragamnya suku yang mediami di daerah Bengkulu. Masing-masing suku memiliki tata cara sendiri.

Dengan segala keterbatasan ini dicoba untuk disusun tullisan ini. Sumber yang digali ada yang berdasarkan pengalaman dan pengamatan langsung, ada juga yang berdasarkan literatur yang ada. Aspek yang dibahas tidak hanya yang bersumber dari masyarakat asli bengkulu saja, seperti suku rejang, serawai, pekal, akan tetapi dari suku luar bengkulu yang sudah lama tinggal di Bengkulu dimana kearifan ini seharusnya menajadi khasanah bengkulu, karena telah terjadi metamorfoasis dan penyesuaian dengan masyarakat lokal seperti subak yang ada di Kecamatan Arga Makmur Bengkulu Utara.

 

Metode Penulisan

    Metode yang digunakan pada penulisan ini adalah studi pustaka, yang bersumber dari publikasi di internet, hasil penelitian. Sumber lain yang diambil adalah cerita dari masyarakat dimana penulis berada, yaitu dari masyarakat di sekitar kota Arga Makmur. Cerita ini diperoleh melalui diskusi atau obrolan sederhana yang dicatat dan dikumpulkan bebeapa waktu sebelumnya.

 

Kearifan 1. Proses Bercocok Tanam Adat Rejang

Prosesi bercocok tanam pada ladang menurut hukum adat Rejang, dimulai dengan proses memilih tanah untuk berladang, membuka hutan dan ritual sebelum membuka hutan. Ritual dipimpin oleh seorang tetua adat (dukun), ritual berfungsi sebagai ungkapan permisi atau mohon izin kepada para leluhur nenek moyang untuk membuka tanah marga. Dalam bahasa Rejang ritual membuka hutan ini dinamakan kedurai ketan uban. Untuk mengetahui prosesi, subjek bercocok tanam ladang dan akibat apabila tidak melakukan prosesi upacara bercocok tanam menurut hukum adat Rejang di Kabupaten Lebong.

Prosesi bercocok tanam di lading menurut hukum adat Rejang di Kabupaten Lebong masih di pakai sampai sekarang dari tradisi nenek moyang, dengan meyakini prosesi sebelum membuka ladang akan terhindari dari segala hal yang tidak diingginkan.

Adapun yang terlibat dalam prosesi bercocok tanam di ladang menurut hukum adat Rejang di Kabupaten Lebong adalah untuk menjalankan prosesi bercocok tanam di ladang dan yang dilibatkan atau untuk menjalankan prosesi itu ialah dukun dan keluarga yang bersangkutan serta orang yang membantu dalam membersihkan ladang tersebut.

Akibatnya bagi masyarakat yang tidak melakukan prosesi bercocok tanam ladang menurut hukum adat Rejang di Kabupaten Lebong yaitu biasanya mendapat kesulitan dalam berladang ataupun mendapat musibah, seperti hasil tanamannya kurang baik, diganggu makhluk halus. kegiatan prosesi sebelum berladang untuk menghindari kejadian‐kejadian yang tidak di kehendaki.

 

Kearifan 2. Pemetaan Wilayah Hutan Adat Rejang dan Serawai

Sukku Rejang memiliki kearifan dengan mengetahui zonasi hutan, mereka sudah menentukan imbo lem (hutan dalam), imbo u'ai (hutan muda) dan pinggea imbo (hutan pinggiran). Dengan zonasi yang mereka buat, maka ada aturan-aturan tentang penanaman dan penebangan kayu. Hampir mirip dengan Suku Rejang, Suku Serawai yang dikenal sebagai tipikal masyarakat peladang telah mengembangkan kearifan lokal dalam pembukaan ladang yaitu "celako humo" atau "cacat humo", dimana dalam pembukaan ladang mereka melihat tanda-tanda alam dulu sebelum membuka ladang dimana ada tujuh pantangan, ketujuh pantangan ini jika dilanggar salah satunya akan berakibat alam dan penunggunya (makhluk gaib) akan marah dan menebar penyakit. Tujuh pantangan tersebut yaitu:

- ulu tulung buntu, dilarang membuka ladang di hutan tempat mata air

- sepelancar perahu

- kijang ngulangi tai

- macan merunggu

- sepit panggang

- bapak menunggu anak

- dan nunggu sangkup


 

Kearifan 3. Pengolahan Lahan Rawa Untuk Usahatani Padi

Metode pengolahan lahan rawa yang saya tuliskan ini sebenarnya hasil pengamatan pada sekitar tahun 1985. Ketika itu sawah irigasi belum banyak terbangun di daerah transmigrasi kurotidur kabupaten Bengkulu Utara, yang saat ini masuk dalam wilayah administrasi kecamatan Padang Jaya.

Teknologi ini awalnya tidak menarik untuk di tulis karena terkesan “malas” oleh warga dari jawa. Tetapi setelah belajar teknologi pengolahan tanah minimum tillage dan juga no tillage, maka teknologi tersebut menjadi benar. Pendorong untuk dimuat pada tugas ini adalah adanya kesesuaiaan dengan hasil penelitian Isdijanto Ar-Riza, Nurul Fauziati dan Hidayat D.Noor yang berjudul Kearifan Lokal Sumber Inovasi dalam Mewarnai Teknologi Budidaya Pada Lahan Rawa Lebak, dari Balai Penelitian Lahan Rawa Lebak.

Usaha tani pada lahan rawa lebak sampai dengan saat ini belum ada teknologi yang mampu mengatasinya. Menurut Ar Riza dkk. keberhasilan uhatani padi di lahan rawa lebak sangat ditentukan oleh kondisi cuaca setempat dan wilayah sekitarnya terutama daerah hulu, yang akan berpengaruh langsung pada kondisi air rawa. Air rawa yang menyurut secara perlahan akan sangat memudahkan bagi petani untuk menentukan saat tanam yang tepat, tetapi sebaliknya air rawa yang menyurut berfluktuasi tidak teratur akibat curah hujan yang sangat fluktuatif akan menyulitkan petani dalam menentukan saat tanam yang tepat. Pemilihan lokasi dan penentuan saat tanam yang tidak tepat utamanya untuk pertanaman padi surung akan membawa resiko gagal panen akibat terkena cekaman redaman air akibat air rawa yang terus meninggi.

Teknologi yang dapat dibilang menarik dan merupakan kearifan lokal dari masyarakat Rejang pada saat itu. Teknologi lokal ini memberikan manfaat  yang sangat besar bagi kelestarian alam dan lingkungan. Tetapi saat ini jarang sekali ditemui, masyarakat lebih suka menggunakan teknologi yang dikatakan maju akan tetapi tidak ramah terhadap lingkungan. Kegiatan Tanam yang merupakan teknologi kearifan lokal sebagai berikut:

1.    Pemilihan lahan subur

Dalam melaksanakan kegiatan usaha tani di lahan rawa, petani memilih lahan tanjung atau lahan yang dekat dengan sungai, karena wilayah tersebut selalu mendapat kiriman lumpur subur, yang ditandai warna tanah hitam gembur, dan telah banyak ditumbuhi oleh jenis tubuhan air, seperti Kiambang (Salvinia sp) Enceg gondok (Elchornia sp) dan tanda-tanda khas lainnya.

Berdasarkan hasil  penelitian diketahui bahwa kedua jenis tumbuhan air tersebut tumbuh baik pada pH di atas 4, dan kurang baik pada pH kurang dari 4. Selain itu transportasi dari tempat tinggal ke sawah pulang pergi lebih mudah, terutama untuk kegiatan pengangkutan hasil. Oleh karena itu hampir semua wilayah lahan lebak dangkal telah diusahakan untuk pertanian.

Di Kabupaten Bengkulu Utara banyak diusahakan diwilayah sepanjang sungai Air Palik,  di Wilayah Aur Gading, Kecamatan Kerkap, Desa Tanjung Agung di Kecamatan Air Besi, di sebanjang Air Nokan dan Air Lais yang meliputi Desa Tebing Kaning, Taba Tembilang, Karang Anyar di Kecamatan Arga Makmur hingga  Kecamatan lais. Masih banyak lagi sawah-sawah kecil yang berada di pinggir sungai kecil.

Saat ini rawa tersebut telah diolah lebih teknis. Pemerintah telah membantu dengan membangun bendung irigiasi, sehingga karakter rawa lebaknya telah berubah menjadi sawah irigasi semi teknis dan teknis. Jelasnya pada lokasi tersebut  jauh lebih subur dibandingkan dengan sawah yang telah tersentuh teknologi modern seperti di hamparan sawah Kemumu.

 

2.    Pola Tanam

Pola tanam, pada awalnya padi-bera karena varitas yang ditanam adalah varitas dalam. Saat ini pola tanam padi-padi-bera. Masyarakat telah banyak kehilangan padi lokal dan digantikan dengan benih unggul nasional yang berumur pendek. Akan tetapi dengan banyaknya program intensifikasi yang diintroduksikan sebagian hamparan yang luas telah menerapkan pola tanam padi-padi-padi. Pada areal ini agak kesulitan untuk merubah ke padi-padi-palawija. Musim tanam diawali pada musim penghujan.

Pola tanam padi-padi-bera masih diterapkan oleh masyakart di sepanjang sungai Air Lais. Hal ini mengikuti umur padi yang relative pendek umurnya. Sehingga dapat tanam padi 2 kali setahun.

Pola tanam ini disamping menyesuaikan musim, juga ternyata efektif dalam perbaikan kesuburan tanah dan juga pengendalian hama. Seperti pengalaman di Kabupaten Rejang Lebong yang menanam padi dan diberakan atau digunakan untuk mina seperti ikan emas lebih efektif. Penah pemerintah memperogramkan tanam padi pada musim bera tersebut, ternyata petani tidak panen, karena serangan hama tikus yang luar biasa.

Pola tanam ini merupakan kearifan lokal yang mulai terkikis karena kepentingan mengejar produksi. Petani memberikan kesempatan kepada tanah untuk memperbaiki dirinya, dengan dibiarkan tumbuh rumput, dan juga proses pembusukan sisa-sisa batang padi.

Masa bera ini biasanya bebarengan dengan musim lebaran idul fitri hingga akhir lebaran haji. Pada masa ini banyak aktifitas yang dilakukan di desa seperti kegiatan pernikahan.

Kondisi ekonomi masyarakat pada masa bera ini tidak terganggu. Petani memiliki sumber pendapatan lain yaitu karet. Sebuah pola diversifikasi yang menunjang ketahanan ekonomi masyarakat. Sehingga pada masyakat pedesaan Rejang memiliki ketahanan pangan. Sumber pangan tidak saja dari sawah tetapi juga pada ladang. Ketika lahan kebun karet masih dapat ditanami padi, maka dibudidayakan tanaman padi ladang. Sayangnya saat ini benih padi ladang juga mulai kesulitan. Pernah penulis dimintai untuk mencari benih padi ladang, ternyata untuk di Kecamatan Arga Makmur tidak tersedia, benih padi ladang masih dapat diperoleh di Kecamatan Pematang Tiga dan juga daerah Lebong Atas.

 

3.    Persiapan Lahan

Lahan dipersiapkan dengan cara menebas dengan menggunakan rimbe. Yaitu alat tebas yang diayunkan seperti mencangkul, arah ayunan dari kanan ke kiri. Penggunaan alat ini tidak ditemui lagi saat ini, telah kalah dengan herbisida.

Penebasan dilakukan pada saat air rawa masih dalam. Setelah di babat rumputnya dikumpulkan di pematang. Lahan yang bersih dan terbuka tersebut memberi peluang berkembangnya tumbuhan air jenis Kiambang atau Kai Apu (Salvinia mollesta) maupun Salvinia natan), tumbuhan air yang mempunyai dua cara berkembang biak (stolon dan spora) akan tubuh dan berkembang pesat menutup lahan.

Kearifan lokal ini menimbulkan hamparan populasi Salvinia sp yang cukup luas dan tebal. Hamparan tersebut turun ke permukaan tanah pada saat air mulai mengering, dengan populasi yang rapat dan ketebalan bisa mencapai 15-20 cm. Kemudian petani menanam bibit padi di atas hamparan Salvinia tersebut, tanaman akan tumbuh bagus dan Salvinia akan menjadi mulsa yang efektif mengendalikan laju penguapan air tanah, pengendali gulma yang efektif serta sebagai sumber tambahan nutrien.

Cara penebasan yang lain adalah dengan membentuk arah jalur yang memanjang, atau berbentuk cumpukan rumput hasil tebasan. Setelah kegitan tanam selesai, rumput yang telah busuk hasil penebasan tersebut disebarkembali diatara barisan tanam, sebagai mulsa/pupu organik. Sebuah kearifan lokal yang sekarang diterapkan pada teknologi tanam padi metode SRI yang sedang popular. Padahal, masyarakat di Bengkulu dan juga di Kalimantan telah melakukan secara turun temurun.

Petani tidak melakukan pengolahan lahan seperti mencangkul atau membajak tanah. Ternyata saat ini baru dimengerti, bahwa teknologi tradisional ini lebih ramah terhadap lingkungan. Cara ini tidak merusak struktur tanah rawa yang kebanyakan merupakan lahan gambut. Tidak terjadi oksidasi yang meningkatkan keasaman tanah dan juga tidak mengakibatkan lepasnya gas metan ke udara dari kegiatan pengolahan tanah pada lahan gambut.

 

4.    Kegiatan Bertanam

Ada dua cara pada kegiatan bertanam padi, pertama dengan menggunakan persemaian, kemudian dipindah tanamkan. Kedua tidak menggunakan persemaian tetapi tanam benih langsung pada lahan dengan cara menugal untuk rawa  yang tidak terlalu dalam. Cara pertama yang lebih banyak digunakan.

Memulai kegiatan bertanam pada petani di Kalimantan memiliki poleh yang berbeda. Dalam melaksanakan budidaya padi rawa lebak, petani akan memulai kerja di persawahan berdasarkan tanda-tanda alam, diantaranya adalah jika diantara pepohohan (umumnya mangga rawa atau rerawa) telah terlihat banyak bentangan sulur putih serangga, dan pohon sejenis pohon dadap telah mulai berkembang, adalah satu pertanda bahwa musim kemarau akan segera tiba. Sehingga para petani akan segera mempersiapkan tempat persemaian, dan persiapan lahan. Sebaliknya jika di sungai-sungai telah mulai kelihatan perkembangan ikan Seluang (Rasbora agyrotaenia) satu jenis ikan kecil-kecil khas Kalimantan dan Sumatera, adalah sebagai pertanda bahwa musim hujan akan segera tiba, sehingga persiapan pertanaman padi sawah harus segera dimulai.

 

 

5.    Populasi Tanam

Bertanam padi di lahan lebak yang telah sangat eksis adalah menggunakan varietas unggul lokal, yaitu varietas yang sudah beradaptasi sangat baik di lahan lebak, karena sudah dibudidayakan sejak lama. Varietas ini umumnya berumur dalam, dan tinggi tanaman umumnya 90cm-120 cm atau ada yang lebih. Tinggi tanaman demikian karena disesuaikan dengan kondisi air, utamanya untuk pertanaman musim hujan pada rawa dangkal. Varietas ini mempunyai jumlah anakan maksimum yang tinggi 20-35 anakan/rumpun, dengan tipe kanopi yang menyebar, sehingga tidak semua anakan berhasil membentuk malai akibat tingginya respirasi sehingga net fotosintesa rendah. Untuk mendapatkan hasil yang baik, masyarakat petani umumnya telah memiliki pedoman untuk populasi per hektar, yang diterjemahkan dalam jarak tanam yaitu yang dikenal sebagai sistem tanam ”sedepa empat”, artinya dalam panjang sedepa yang eqivalen dengan 1,7 m ditanaman bibit sebayak 4 rumpun, yang jika jaraknya segi empat sama sisi maka populasi tanaman akan eqivalen dengan 55.363 rumpun /hektar. Populasi ini telah dilaksanakan sangat lama dan turun temurun. Namun dalam perkembangan pertanian di lahan lebak, populasi tersebut dinilai kurang sehingga muncul program upaya khusus (UPSUS) sistem tanam ”sedapa empat” diubah menjadi sistem tanam ”sedepa lima”, atau ”sedepa tambah satu” dan yang terakhir diperkenalkan sistem tanam ”dua sembilan” yang berarti dalam dua depa ditanam 9 rumpun. Populasi tanam tersebut memang jarang tetapi mempunyai nilai ilmiah karena tunas anakan yang tinggi dan dan krop kanopinya yang menyebar, sehingga ilmu tanaman ddalam aspek distribusi sinar matahari dan bentuk tanaman sebenarnya telah dimiliki dan diterapkan oleh petani lahan lebak sejak lama sekali. Hal tersebut kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Indigenous knowledge, local wisdom tersebut telah mengispirasi timbulnya ”sistem legowo” (lego dan dowo), ”habas” (hawa bebas), dan lainnya yang telah berkembang selama ini.


 

 

Kearifan 4. Subak di Kabupaten Bengkulu Utara

Ketika mendengar kata Subak, banyangan yang terlintas pada benak kita adalah Pulau Dewata Bali. Sistem pengaturan air secara tradisional yang sudah berabad-abad lamanya, akan tetapi masih langgeng sampai dengan sekarang. Diterapkan dalam pengaturan air untuk kegiatan pertanian di Pulau Bali. Subak ini berkaitan erat dengan kegiatan keagamaan hindu dan aktivitas pengelolaan air. Sehingga akan melekat erat dalam pengelolaan air dimana ada orang yang beragama hindu bali melakukan kegiatan yang memanfaatkan pertanian.

Membahas subak akan menjadi menarik untuk diamati jika ternyata dapat tetap tumbuh di daerah  yang jauh dari tempat asalnya. Di Kabupaten Bengkulu Utara terdapat daerah transmigrasi yang berasal dari Bali pada tahun 70 an.  Desa Rama Agung mayoritas penduduknya berasal dari Bali yang beragama Hindu. Desa Sumber Agung hanya sebagian penduduk dari Bali, ada juga dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Keduanya berada di Kecamatan Arga Makmur, yaitu di Ibu Kota Kabupaten Bengkulu Utara. Desa Rama Agung berada pada pusat Kota Arga Makmur, sebagian perkantoran dan Rumah Dinas Pejabat Kabupaten ada di sana. Sedangkan Desa Suber Agung masih berada di pinggiran kecamatan berjarak sekitar 15 km  dari pusat kota.

Saat ini di Desa Rama Agung telah bercampur berbagai etnis dan agama. Masjid, Gereja, Pura dan Vihara ada di sana dengan jarak yang berdekatan. Selain suku Bali, juga terdapat jawa, batak dan juga masyarakat yang berasal dari sekitar Arga Makmur. Letak rumah juga sudah berbaur, mudah untuk menandai masyarakat Bali yaitu dengan adanya tempat sesaji yang dibangun di depan rumah. Sementara untuk agama lain selain umat Hindu tidak ada bangunan ini.

Berbeda di Desa sumber Agung, mereka masih mengelompok sesuai dengan penempatan pada saat transmigrasi. Belum banyak pencampuran karena daerah ini cukup jauh dari pusat kota. Jika sepintas dilihat di sana akan tampak blok area Jawa, Sunda dan Bali dengan ciri khas pekarangan dan bentuk rumah masing-masing. Pembauran di pemukiman tidak terlalu menonjol.

Menariknya, meskipun sudah berbaur dan telah lama meninggalkan kampung halaman, kegiatan Subak tetap dilestarikan. Anggota Subak tidak semuanya orang Bali, siapapun yang memiliki lahan di areal tersebut. Bahkan ada salah seorang ketuanya berasal dari suku Sunda dan beragama Islam.

Wilayah kegiatan Subak ditentukan berdasarkan luasan areal yang dapat diairi oleh bendung irigasi. Dalam satu bendung dibangun satu Bedugul sebagai tempat pemujaan terhadap dewa Baruna yang memelihara dan menjaga air. Bendung yang ada di daerah ini berasal dari sungai-sungai kecil yang dibangun cek dam. Terdapat 3 subak di Kecamatan Arga Makmur. Subak Tirta Gangga di Desa Sido Urip – Rama Agung, Subak Rama Dewata di Desa Rama Agung, Subak Tripugar Baru di Desa Taba Tembilang. Kelompok Subak terbesar adalah Subak Tirta Gangga.

Masing-masing Subak ini dipimpin oleh seorang Klian Subak (ketua/imam). Klian ini yang menetapkan kapan mulai tanam. Biasanya pada awal tanam dilakukan pembersihan saluran irigasi dan juga pengecekan bendungan. Kegiatan ini dilakukan secara bergotong royong sesama anggota subak. Gotong royong dikoordinir oleh Ulu-ulu, yang juga bertugas mengatur air. Pembagian air ditentukan berdasarkan luasan lahan yang dimiliki oleh anggota. Perbedaan dengan di Bali, Klian tidak mengatur pola tanam dan pergiliran tanaman, mengingat kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil, karena pengaturan pola tanam telah ditetapkan oleh Dinas Pertanian dan Dinas PU Kabupaten Bengkulu Utara.

Pada tahun 1983 kelompok subak ini di bina oleh PU Pengairan Kabupaten Bengkulu Utara, sehingga nama kelompok ini dirubah menjadi KP2A (Kelompok Petani Pemakai Air), Peran strategis pengaturan air dipegang oleh Ketua KP2A dan pengurusnya, sedang pembagian air masih dilakukan oleh Ulu-ulu. Peran Klian menjadi tidak terlalu dominan, hanya memimpin upacara keagamaan saja. Dampak dan pengaruh Subak tidak seperti yang digambarkan di atas. Kearifan lokal yang mampu mengedalikan hama dengan pengaturan pola tanam telah terdistorsi oleh kebijakan ini.

 

Dinamika Organisasi Subak

Tahun 2007 – 2008 penulis melakukan pendampingan terhadap kelompok tani yang ada di Bengkulu Utara, salah satunya kelompok Subak melalui Organisasi Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera (PPNSI).  Sebuah lembaga yang mengadvokasi kepentingan petani dan memfasilitasi akses kelompok tani terhadap program-program Departemen Pertanian.

Kelompok Subak Tirta Gangga difasilitasi sehingga dapat mengakses program LM3 (Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat) dari Departemen Pertanian. Klian Subak Tirta Gangga adalah Wayan Pageh, jabatannya juga merangkap sebagai Bendahara pada Kelompok Tani Tirta Gangga yang juga KP2A Tirga Gangga. Sedangkan ketua kelompoknya adalah seorang dari Suku Sunda yaitu Edi Suryadi yang lebih dikenal dengan nama Mang Edi, seorang buta huruf tetapi jujur dan amanah sehingga dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin kelompok tani sekaligus KP2A.

 Kelompok Subak lainnya adalah Subak Rama Dewata yang dipimpin oleh Wayan Balik, dia juga merangkap sebagai ketua kelompok tani dan juga klian subak. Fasilitasi PPNSI hingga memperoleh Bantuan sosial dari Menteri Pertanian sebanyak 10 ekor sapi PO. Pada kelompok ini kegiatan subak juga hanya kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan saja, pembagian air lebih didominasi oleh KP2A yang tugasnya dilakukan oleh ulu-ulu.

Ada beberapa kesepakatan kelompok yang penulis tidak temukan pada kelompok lain yang bukan kelompok subak, berkaitan dengan hak pemakai air dan juga sanksi. Penulis pernah betugas sebagai penyuluh pada Desa Sido Urip tidak menemukan kesepakatan yang demikian. Desa Sido Urip merupakan desa yang berbatasan dengan Rama Agung, yaitu di Dusun Suka Sari dimana Subak Tirta Gangga. Oleh karena itu sementara saya menilai bahwa kesepakatan tersebut merupakan warisan subak.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, kelompok subak ini lebih tertib dan taat terhadap jadwal pertemuan, dibanding dengan kelompok tani lainnya. Pertemuan dilakukan setiap bulan sekali pada tanggal tertentu yang telah disepakati. Pada pertemuan ini biasanya membahas permasalahan anggotanya terutama dalam pembagian air ulu-ulu, pembayaran iuran bulanan dan juga kegiatan simpan pinjam yang memanfaatkan kas kelompok. Peserta yang mengikuti pertemuan ini adalah semua petani  dalam satu hamparan yang terkena saluran air dalam wilayah subak. Tidak terbatas sehingga tidak memandang agama, kepercayaan atau suku tertentu. Ini berbeda dengan kelompok tani lain, yang pertemuannya bila ada bantuan atau memang diminta oleh penyuluh. Pada kelompok Subak ini penyuluh atau petugas dari Dinas Pertanian harus menyesuaikan jadwal mereka untuk dapat bertemu dengan anggota kelompok secara keseluruhan.

Pembagian air ditetapkan berdasarkan berapa polong yang dibutuhkan. Polong merupakan istilah pipa atau saluran dari irigasi ke lahan. Banyaknya polong menggambarkan debit air yang dibutuhkan. Ditentukan berdasarkan luasan lahannya atau pemanfaatanya. Sebagai contoh jika seorang anggota subak memanfaatkan air untuk kolam satu petak, biasanya kebutuhan airnya dua polong yang setara dengan luas sawah 5 petak. Jumlah polong juga akan menentukan kewajibannya dalam membayar iuran bulanan kelompok.

Jika terjadi kerusakan atau pemeliharaan rutin, maka dilakukan gotong royong memperbaiki bendungan dan saluran irigasi. Kerusakan sering terjadi seperti tanggul yang jebol, tanah longsor atau pohon tumbang yang menutup saluran irigasi. Kesepakatan gotong royong ini ditetapkan oleh ketua KP2A atau ulu-ulu. Apabila ada yang tidak dapat hadir maka terkena denda. Kewajiban gotong royong ini ditetapkan berdasarkan polong volume air. Jika anggota kelompok ini memiliki dua hamparan lahan sawah, maka dia harus mengirimkan 2 orang yang ikut gotong royong. Biasanya bapak dan anak ikut gotong royong. Jika tidak mampu, maka dia harus membayar denda (ngampel). Pembayaran denda ini (ngampel) juga berlaku pada orang yang sudah tidak mampu lagi bekerja berat, seperti sudah tua atau janda. Ngampel ini merupakan sejumlah pembayaran atas manfaat air selama satu tahun, yang pembayaran selama tiga bulanan (mengikuti panen). Ngampel bukan denda atas ketidakhadiran gotong royong.

Berkaitan dengan penerapan hak dan juga sanksi, apakah itu denda atau ngampel biasanya sering terjadi perdebatan yang cukup sengit. Jika sanksi yang diberikan tidak diperhatikan, maka resikonya dapat dikeluarkan dari kelompok. Pada saat ini seorang klian menjadi penengah dan pemutus perselisihan. Selama ini keputusan dari seorang klian subak akan ditaati oleh semua anggota. Karena mereka percaya akan mendapatkan balak, atau karma pala akibat penentangan itu.

Anggota kelompok subak dapat tidak berpartisipasi (tidak aktif) pada kegiatan berkaitan dengan gotong royong perbaikan saluran air, jika sedang mananam palawija. Akan tetapi tetap membayar kewajiban iuran bulanan kelompok. Dia tetap berhak untuk ikut kegiatan simpan pinjam yang ada dikelompok. Jika sudah bersawah lagi maka dapat bergabung sebagaimana biasanya.


 

Kearifan 5. Adat Cuci Kampung

Cuci kampung merupakan upacara ritual tolak balak yang bertujuan agar semua warga kampung terhindar dari bencana. Dalam kehidupan sehari-hari upacara cuci kampung sering ditemukan ketika ada salah seorang warga kedapatan berbuat aib berupa perzinahan di suatu kampung. Cuci kampung merupakan acara ritual tolak balak yang bertujuan agar semua warga kampung terhindar dari bencana.

Dalam kehidupan sehari-hari acara cuci kampung sering kita temukan ketika ada salah seorang warga kampung kedapatan sedang berbuat aib di kampung tersebut, terutama aib di kampung tersebut, terutama aib yang berbau perzinahan.

Cuci kampung yang marak dewasa ini dianggap masyarakat desa untuk upaya melestarikan adat, akan tetapi jika kita pahami orang yang terkena adat cuci kampung ini sangat berdampak negatif bagi kehidupan sosialnya, karena menyebarkan aibnya sendiri begitu juga dengan warga desa yang melaksanaka adat cuci kampung tersebut akan menjadi malu jika dilihat warga desa lain.

Poses cuci kampung ini tidak lagi berjalan sebagai mana dulu, saat ini telah mengalami penurunan. Ada beberapa hal penyebabnya:

•    Banyaknya masyarakat pendatang yang tidak tahu tentang peraturan dan hukum adat yang berlaku disuatu desa.

•    Rendahnya kesadaran hukum masyarakat suatu tempat

•    Pelaku telah melarikan diri atau pergi dari tempat tinggalnya

•    Adanya ancaman dari pelaku sehingga perangkat desa tidak berani untuk menjatuhkan hukuman atau sanksi.

•    Kurangnya sosialisasi dari perangkat desa akan batasan hukum adat yang berlaku, sehingga masyarakat setempat tidak mengetahui batasan hukum adat yang berlaku tersebut.

•    Sudah terlau seringnya pelanggaran adat tersebut, sehingga menjadi hal yang biasa. Masyarakat tidak lagi mengganggap perbuatan yang mendekati perzinaan sebagai aib yang akan mendatangkan malapetaka bagi desa tersebut.


 

Kearifan 6. Teknologi Rumah Tradisional Bengkulu yang tahan Gempa.

Ternyata rumah yang dibangun oleh masyarakat Bengkulu yang merupakan rumah panggung yang dominan struktur kayu. Rumah tahan gempa dengan teknologi yang luar biasa. Tulisan ini saya kutipkan dari hasil penelitian Triyadi dkk. (2010) tentang Bangunan Rumah Vernakular Bengkulu dalam merespon gempa. Penelitian dilakukan di Desa Duku Ulu Kecamatan Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong. Penelitian ini dilatarbelakangi dengan mampu bertahannya rumah tradisional Bengkulu terhadap gangguan gempa pada tahun 2000 dan 2007 lalu. Sehingga diharapkan teknologi ini dapat dilestarikan dan dapat dimasukkan dalam desain pembangunan rumah di Provinsi Bengkulu.

Rumah tradisional Bengkulu yang mendasari munculnya bangunan rumah vernakular Bengkulu pada prinsipnya ada 2 (dua) macam, yaitu rumah vernakular Rejang dan Rumah vernakular Melayu.  Rumah vernakular Rejang yang berasal atau bersumber dari rumah tradisional Rejang (Umeak Potong Jang atau Umeakan) yang sudah dipengaruhi oleh bentuk rumah Meranjat (bentuk rumah suku bangsa yang ada di Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan).

Ukuran rumah vernakular Rejang di Desa Duku Ulu rata-rata mempunyai  lebar 6 – 7 m dan panjang 15 – 17 m, berbentuk empat persegi panjang, dengan pembagian ruang dalam yang teratur. Lantai bangunan panggung yang tingginya rata-rata 2,20 m (ruang bawah lantai panggung dapat dilalui orang tanpa perlu membungkuk). Bangunan vernakular ini menggunakan material kayu setempat (kayu medang kuning, medang batu, balam, dll) dan beberapa tambahan bagian bangunan menggunakan bambu (bambu serik, bambu menyan, bambu dabuk) untuk lantai bangunannya. Lantai bangunan ditopang oleh kolom atau tiang-tiang dari balok kayu (kayu bulat Ø 40 cm atau kayu 20/20) dan tiang diatas lantai panggung keatas berukuran 10/10 cm. Dinding bangunan dibuat dari papan kayu yang tebalnya ±2 cm. Untuk penutup atap menggunakan seng.


Gambar Rumah Vernakular Rejang.

 

Semua sistem sambungan komponen-komponen struktur bangunan dan konstruksi bangunan menggunakan sistem sambungan papurus, laki-betina (betino-lanang), tidak menggunakan paku (kecuali pada penutup lantai dan sebagian dinding) tetapi memakai pasak dari kayu atau bambu. Dinding menggunakan papan kayu yang dijepit atas bawah dan pada bagoan tertentu, seperti bagian dapur sudah menggunakan paku.

 

Sistim sambungan kayu dengan metode jepit.

 

Pondasi bangunan rumah vernakular Rejang di Desa Duku Ulu berbentuk umpak dari batu, pasangan bata, dan malah beberapa tiang panggung telah dirubah menjadi kolom beton atau pilar bata, bila terjadi gempa cukup kuat mengingat dimensi yang dipakai cukup besar. Demikian pula hubungan antara pondasi/ kolom panggung dan balok lantai merupakan tumpuan sendi, sehingga bila terjadi gempa lantai bangunan fleksibel bergerak sehingga bangunan secara keseluruhan tidak rusak.

Lantai bangunan merupakan sistem struktur yang menyatu dengan tiang-tiang bangunan yang tidak ada kaitan langsung dengan tiang panggung (tidak menerus dari tiang panggung menjadi tiang bangunan di lantai atas). Rangka lantai berhubungan langsung dengan kolom utama bangunan, balok-balok rangka dinding. Demikian pula dinding dan kolom utama akan pertemuan dengan rangka langit-langit dengan langit-langitnya dan sistem atap bangunan.

Material bangunan yang digunakan pada rumah vernakular Bengkulu Rejang di Desa Duku Ulu menggunakan material utama kayu, baik kayu yang masih berbentuk balok/ gelondongan ataupun yang sudah digergaji. Untuk penutup atap menggunakan material yang ringan pula yaitu bahan seng.

Pemakaian material kayu dan penutup atap seng menjadikan bangunan ini bangunan ringan, sehingga bila terjadi gempa bangunan hanya bergoyang dan tidak roboh. Pemilihan material dan metode pemasangannya pada bangunan ini merupakan indigenous knowledge yang tepat untuk mengantisipasi bencana gempa di daerah Bengkulu ini.


 

 

Kearifan 7. Hukum Sumber Cayo

Hukum sumber cayo yang banyak diterapkan di Bengkulu, mulai dari suku Rejang, Serawai hingga pekal yang ada di sekitar Ketahun, Napal Putih dan Mukomuko, yaitu tentang persoalan penggembalaan ternak dan juga pemeliharaan kebun. Kita tentunya sering mendengar salah satu dari hukum sumber cayo yaitu “Kebun Berkandang Siang dan Ternak Berkandang Malam”. Pada tahun 80 an, hukum ini sering menjadi pemicu konflik antara penduduk transmigrasi dan non transmigrasi.

Implementasi dari hukum ini adalah bagi pemilik ternak, wajib membuat kandang dan mengkandangkan ternaknya pada malam hari. Demikian juga pemilik kebun wajib membangun kandang (pagar) yang melindungi dari gangguan ternak pada siang hari. Tuntutan kepada pemilik ternak adalah apabila kerusakan tanaman di kebun terjadi pada malam hari, maka pemilik ternak terkena ganti rugi akibat perbuatan hewan peliharaannya. Akan tetapi jika kerusakan yang ditimbulkan pada siang hari, maka pemilik kebun tidak dapat menuntut ganti rugi, karena dia berkewajiban untuk menjaga kebunnya dan juga memagarnya.

Hukum ini sekarang mulai tidak dipergunakan, seiring dengan perubahan pola kebun masyarakat. Karet alam sudah berganti dengan karet unggul, perkebunan sawit. Disamping itu juga telah diberlakukannya Peraturan Daerah berkaitan dengan kewajiban mengandangkan ternak, sehingga ternak tidak boleh berkeliaran di jalan yang membahayakan pengguna jalan.

Menurut tokoh masyarakat pekal, Jamari AS Jamal (hasil obrolan singkat penulis dengan beliau) mengapa hukum sumber cayo disahkan oleh Belanda, tidak lain karena menguntungkan belanda dan elit masyarakat pada saat itu. Pemilik kerbau yang jumlahnya hingga ratusan adalah para pesirah dan bangsawan yang tunduk dengan Belanda. Sementara itu masyarakat biasa kebanyakan adalah petani. Beban berat petani menjaga kebunnya, apabila dirusak oleh ternak para pesirah dan bangsawan maka tidak dapat mengajukan tuntutan.

Pengalaman penulis ketika melakuan penyuluhan tentang optimalisasi pemanfaatan ternak, selain untuk peliharaan atau tabungan ternak juga menghasilkan kotoran yang dapat diolah menjadi pupuk. Ternyata pada suatu desa yang banyak ternak kesulitan untuk mengumpulkan kotoran ternak. Padahal ternak sudah di kandang. Rupanya ada perbedaan persepsi masyarakat tentang kandang yang penulis maksudkan. Kandang menurut mereka adalah pagar yang melingkari lokasi ternak sehingga tidak dapat berkeliaran. Seperti pagar keliling pada lokasi kebun. Persepsi penulis kandang adalah bangunan yang beratap dan ada pembatas ruang antar ternaknya sehingga tidak saling mengganggu. Bentuk ini menurut mereka adalah rumah, sehingga disepakati istilahnya bukan kandang tetapi rumah ternak.

Kendala ketika ternak dirumahkan adalah pemiliknya harus menyediakan pakan. Ini yang tidak dapat dilakukan oleh masyakarat, karena mereka menganggap tindakan itu adalah diperbudak oleh hewan. Sehingga ternak dirumahkan tidak efektif berjalan, akhirnya harus dijual. Populasi ternak bergantung dengan luasan lahan gembalaan, gembala dalam arti tetap diikat beberapa jam kemudian dipindahkan tempat mengikat pada lokasi rumput yang baik. Karena lokasi ini semakin lama semakin berkurang, maka ternaknya diputuskan untuk dijual.

Pemeliharaan ternak dengan cara berkandang malam, dan siang diangon (diikat pada lahan berumput) tetap bertahan pada masyarakat yang sudah beradaptasi dengan pola memelihara ternak pada masyarkaat transmigrasi yang terbiasa menyabit rumput untuk pakan ternaknya di malam hari.


 

Kearifan 8. Senamo itu bersaudara

Kesamaan nama, baik nama lengkap maupun nama panggilan,  pada suku Rejang di Kabuapten Bengkulu Utara menjadi dipersaudarakan. Ketika seseorang berjumpa dengan orang yang namanya sama, maka diteruskan dengan upacara atau doa selamat untuk menyatakan persaudaraan tersebut. Persudaraan ini tidak saja peda kedua orang tersebut, akan tetapi juga menyangkut keluarga kedua belah pihak. Sehingga apabila ada kerja baik maupaun ada kerja buruk dari kedua belah pihak maka diterapkan sebagaimana layaknya keluarga dekat.

Hal ini juga terjadi apabila seorang bapak memiliki anak dan nama anak tersebut sama dengan nama anak orang lain, maka dipersaudarakan. Seolah anak tersebut menjadi anak angkatnya. Simbol persudaraan ini juga melekat pada sebutan atau panggilan. Anak-anaknya akan memanggil bapak pada orang yang senama dengan orang tuanya.

Ada suatu peristiwa yang menarik, pada tahun 1999, di Desa Lubuk Balam Kecamatan Air Besi Kabupaten Bengkulu Utara, ada seorang Bapak yang bernama Pak Nuh, enggan untuk mengikuti pertemuan dengan Wakil Bupati Bengkulu Utara Drs. Salamun Haris di Balai Desa pada suatu acara resmi. Padahal Pak Nuh merupakan tokoh masyarakat didesa tersebut. Tidak ada tokoh masyarakat yang tidak hadir, apalagi ini merupakan pertemuan yang penting.

Ketika ditanya alasan ketidak hadiran, alasannya terdengar sepele dan menggelikan. Kata pak Nuh, anak ku bernama Salamun, saya tidak sanggup memanggil Bapak pada anakku. Warga akhirnya menjadi maklum.


 

Kearifan 9. Telun dan Mak Somai

Telun atau air terjun juga di larang untuk di kelola oleh warga komunitas disekitanya karena dipercayai adanya pengaruh gaib di sekitar wilayah tersebut. Telun dan air terjun merupakan daerah larangan karena terdapat sumber mata air yang harus dijaga.

Penebangan Pohon Madu yang disebut dengan Sialang adalah pantangan berat untuk ditebang, jika ditebang akan dikenakan denda setengah bangun atau setengah dari denda membunuh orang, begitu juga dengan menebang pohon-pohon di sekitar pohon sialang dianggap juga sebagai pantangan adat, sialang dianggap sebagai hak komunal dan ketika panen maka biasanya diketahui oleh seluruh masyarakat komunitas dan ada bagian tertentu dari hasil panen yang tidak boleh diambil dan dibiarkan tinggal di sekitar pohon karena dianggap itu adalah hak penunggu gaib dari pohon, proses panennya pun diiringi oleh nyayian-nyayian pujian baik pujian terhadap kayu maupun pujian terhadap penunggunya.

Selain pengaruh gaib juga ada penunggu yang disebut dengan Mak Somai yang mengawasi kawasan tersebut. Mak Somai merupakan harimau jadian yang dipercaya sebagai penunggu di wilayah tesebut.

Inilah bentuk kearifan lokal dalam rangka menjada pohon dan daerah konservasi, seperti daerah mata air dan air terjun yang sangat bermanfaat bagi kelestarian hutan. Cerita gaib, dan juga cerita legenda sangat efektif pada jaman dahulu untuk menjaga wilayah tersebut. Tuah cerita tersebut sekarang sudah mulai luntur. Seiring berkembangnya pengetahuan yang dirasakan oleh generasi masasyarakat di areal tersebut. Kuatnya dorongan ekonomi yang harus membuka hutan untuk kegiatan usaha, juga akan semakin menurunkan kesakralan cerita tersebut.

Penyadaran yang memiliki maksud yang sama perlu disampaikan kepada masyarkat. Hukum adat sebaiknya tetap diterapkan dengan pendekatan yang lebih modern dan rasional. Kelestarian pohon langka, dan juga sumber mata air  menjadi prioritan utama. Pendekatan kepada pemuda setampat, untuk perduli terhadap potensi alam. Penyadaran bahwa penduduk sangat bergantung hidupnya dengan alam sekitar. Peran pemerintah adalah menmbuat kebijakan yang sejalan dan selaras dengan semangat tersebut.


 

 

Kearifan 10. Adat Rejang dalam Pengelolaan Hutan

Suku Rejang yang mendiami daerah penggunungan yang saat ini berada pada kawasan Kabupaten Lebong, Rejang Lebong, Kepahiang dan Bengkulu Tengah. Meskipun ada juga suku rejang yang berada di daearh pesisir di Kabupaten Bengkulu Utara mulai dari Kerkap hingga Serangai.

Suku rejang yang di pengunungan, hidup mereka sangat bergantung dengan hasil hutan. Secara turun temurun banyak kearifan lokal yang menjadi anutan masyarakat tersebut. Beberapa kearifan lokal dalam pengelolaan hutan adalah sebagai berikut:

•    Taneak Tanai, adalah sebutan untuk hamparan tanah dalam lingkup komunitas adat yang dimiliki secara komunal dan biasanya adalah bagian wilayah kelola warga, ada konsewensi atas kepemilikan individu di wilayah taneak

•    tanai dimana setiap pihak yang mengelola di kawasan tertentu di dalam taneak tanai wajib untuk menanam tanaman-tamanan keras yang bernilai konservasi dan ekonomi seperti petai, durian dll sebagai tanda wilayah tersebut telah dimiliki oleh seseorang dan keluarga tertentu.

•    Utan atau Imbo Piadan, ini penyebutan untuk hutan yang dipercayai ada penunggu gaib sehingga ada beberapa prasyarat untuk membuka kawasan ini jarang ada warga yang berani membuka hutan larangan ini, kawasan yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib yang memelihara kawasan tersebut

•    Keduruai adalah salah satu tradisi yang dipercayai sebagai wadah komunikasi antara manusia dengan kekuatan gaib, ada beberapa jenis kedurai yang sering dilakukan oleh masyarakat di Jurukalang, kedurai untuk membuka lahan perkebunan di hutan di suatu wilayah tertentu adalah proses permintaan izin dan keselamatan bagi yang mengelolanya, Kedurai Agung biasanya dilakukan ketika ada teguran oleh alam gaib dalam bentuk Bumai Panes, proses Kedurai ini dilakukan oleh dukun yang disebut dengan Pawang, sarana-sarana lain yang harus dipersipakan juga dalam proses ini adalah anyaman bambu untuk dibuat acak, yaitu wadah untuk sesajen. Sesajen untuk ritual itu meliputi darah ayam (monok bae) yang disimpan di mangkok, minyak goreng, minyak manis, sirih matang, sirih mentah, 99 jeruk nipis, 99 batang rokok, serta tiga jenis bunga (mawar, cempaka gading, dan cepiring). Bahan lainnya yang juga dipergunakan untuk ritual itu antara lain 198 butir beras kunyit, kue tepung beras (sabai), benang tiga warna (putih, merah, dan hitam).

•    Mengeges adalah kebiasaan masyarakat di Jurukalang membersihkan lahan garapannya dengan dibakar, mengeges ini sebenarnya untuk mencegah jangan sampai api tersebut melalap kemana-mana, dalam proses pembakaran lahan biasanya dilakukan secara gotong royong

•    Ali bilai adalah penyebutan gotong royong dalam menyelesaikan salah satu pekerjaan warga secara bergiliran

•    Bo atau Silo adalah sejenis tanda larangan atau tanda hendak memiliki hasil hutan yang masih belum menghasilkan, yaitu sebatang bamboo yang ditusukkan ke tanah yang bagian atasnya dipecah dua dan di antara pecahanitu disempitkan sebatang bamboo lain

•    Sakea tanah garapan yang telah membentuk hutan kembali, biasanya masyarakat di Jurukalang kembali ke Sakea ketika tanah garapannya tidak subur, ini sering disebut dengan gilir balik dan pihak luar yang menganggap sebagai  masyarakat adat sering menyebut ini dengan peladang berpindah

•    Jamai keadaan tanah yang ditingalkan sesudah menuai atau keadaan tanah yang telah diusahakan dan disengaja ditinggalkan supaya menjadi hutan kembali

•    Meniken adalah kegiatan ritual atau kenduri untuk pembukaan lahan yang akan dibuka untuk dijadikan ladang atau lahan garapan

•    Selain beberapa kearifan lokal dalam mengelola keberlanjutan lingkungan marganya, ada beberapa larangan lain, kayu yang jika ditebang kemudian membentuk jembatan di dua sisi mata air kedua sisi tersebut dilarang untuk digarap, ada kepercayaan local yang jika di garap akan menimbulkan bahaya dan bencana bagi pemiliknya, dalam system konservasi modern kedua sisi in disebut dengan sempadan sungai. Begitu juga dengan lahan yang ketika kayu-kayunya ditebang akan meluncur jauh akibat lerengan yang terjal juga di larang untuk digarap.


 

Referensi

Akar Foundation, 2011. Kearifan Lokal Suku Rejang Jurukalang dalam Tata Kelola Hutan, http://satuportal.net/content/kearifan-lokal-suku-rejang-jurukalang-dala...

Andesti, Mery Yono, dan Adry, 2009.  Prosesi Bercocok Tanam di Ladang Menurut Hukum Adat Rejang di Kecamatan Rimbo Pengadang Kabupaten Lebong. (Tidak di publikasikan)

Anton Sutrisno, 2011, Eksistensi Subak di Daerah Transmigrasi Kabupaten Bengkulu Utara, tugas Mata Kuliah Dinamika Sosial dan Kearifan Tradisional. (dipublikasikan pada http://antonsutrisno.webs.com/apps/ blog/show/6535250-eksistensi-subak-pada-daerah-eks-transmigrasi-di-kabupaten-bengkulu-utara)

Ar-Riza, Isdijanto, Nurul Fauziati dan Hidayat D.Noor. 2008. Kearifan Lokal Sumber Inovasi dalam Mewarnai Teknologi Budidaya Pada Lahan Rawa Lebak, Balai Penelitian Lahan Rawa Lebak.

http://goalterzoko.blogspot.com/2010/08/kearifan-lok...  Diunduh 12 Desember 2011.

Triyadi Sugeng, Iwan Sudradjat  dan Andi Harapan. 2010. Kearifan Lokal Pada Bangunan Rumah Vernakular Di Bengkulu Dalam Merespon Gempa Studi Kasus: Rumah Vernakular di Desa Duku Ulu, Local Wisdom Volume II Januari 2010.

Widiya, Mareta. 2011. Cuci Kampung. http://maretha-ringkasancucikampung.blogspot.com/  diunduh tanggal 19 Desember 2011.

 

 


 


Rss_feed

Jejaring Sosial



Waktu Hari ini

Fase Bulan Sekarang

CURRENT MOON

Statistik