Anton Sutrisno, berbagi ide dan gagasan

http://www.antonsutrisno.webs.com

Mimbar Bebas Post New Entry

REDEFINISI PEMAHAMAN TANGUNG RENTENG

Posted by Anton Sutrisno on November 18, 2014 at 12:50 PM

 

Oleh:

AntonSutrisno, SP. MSi.*dan Aria Candra, SH.**

*Faskab Perguliran dan Pengembangan Usaha Kabupaten Seluma Provinsi Bengulu.

**Spesialis Information Education and Comunication Provinsi Bengkulu.

 


Padasaat berdiskusi dengan teman-teman pelaku pemberdayaan yang mengelolakegiatan dana bergulir untuk masyarakat miskin, ada pembicaraan yangmenarik antara lain yaitu mengenai jaminan (borg). Program initidak menerapkan jaminan (collateral) sebagaimana lembagakeuangan pemerintah maupun swasta. Contohnya pada bidang perbankanyang berlaku di Indonesia saat ini.


Jaminanyang dipakai dalam pengelolaan dana bergulir (simpan pinjamperempuan) adalah tanggung renteng. Tanggung renteng bukan berupasurat berharga yang bisa di likuidkan, melainkan kegotongroyongankelompok masyarakat miskin yang nir asset. Mereka selama inidinyatakan sebagai kelompok yang tidak layak masuk bank (not bankable).


Pemerintahmelakukan program khusus untuk mengurangi angka kemiskinan padalapisan masyarakat paling bawah (level pertama) melalui BantuanLangsung Tunai (BLT) yang diharapkan dapat berkembang meningkatkanpenghasilannya sehingga dapat menurunkan derajat kemiskinannya padalevel diatasnya. Pada level kedua ini adalah masyarakat miskin yangmemiliki modal terbatas dan memiliki usaha yang dapat dikembangkan.Program yang menjadi sasarannya adalah Bantuan Langsung Masarakat(BLM). Untuk level ke dua ini banyak kegiatan yang digulirkan, seperti; PNPM Mandiri dengan berbagai varian yang dikelola olehbeberapa kementerian, misalnya Kementerian Dalam Negeri dengan PNPMMandiri Perdesaan atau Kementerian Pertanian dengan PNPM PengembanganUsaha Agribisnis Perdesaaan (PUAP). Harapan dari program pada levelkedua ini adalah dapat menurunkan derajat kemiskinan ke level ketiga,sehingga mereka dapat mulai mengakses pinjaman melalui perbankanbersubsidi dari pemerintah seperti KUR (Kredit Usaha Rakyat).


Pengelolaankegiatan dana bergulir atau simpan pinjam diterapkan tanpa agunan,karena masyarakat pada level ini masih pada kodisi level miskin.Agunan yang dipakai adalah tanggung renteng. Timbul pertnyaan, laluimplementasinya seperti apa? Apakah dalam tatakelolanya sudahberhasil?


Padakenyataannya dalam pengelolaan kegiatan dana bergulir (simpan pinjam) tunggakan banyak terjadi, bahkan angakanya cukup tinggi dan sangatmemperihatinkan. Umumnya tunggakan disebabkkan karena ketidakmampuanmembayar anggota simpan pinjam, gagal dalam usaha, dan yang sangatmemperihatinkan yaitu terjadinya penyalahgunaan oleh pengelola itusendiri. Akhirnya, tindakan penyelamatan kredit dengan menerapkanagunan pengganti senilai sisa pinjaman yang harus dibayar menjadimasalah yang semakin merumitkan didalam pengelolaan dan kesinambungandana bergulir. Akibanya proses pemberdayaan yang bertujuanmengentaskan kemiskinan berakhir pada menambah kemiskinan karenahilangnya aset mereka yang dilelang karena tidak mampu membayar.Semangat gotong royong di awal program menjadi permusuhan dipenghujung program, akibat penanganan tunggakan yang tidak sesuaidengan permsalahan yang dihadapi masyarakat. Lalu apa yang salah?


Diskusidilanjutkan dengan memperdalam makna tanggung renteng. Ada beberapamakna yang dikemukaakan dalam diskusi diantaranya, tanggung rentengadalah menanggung resiko hutang apabila ada salah satu anggota yangtidak membayar. Pemahaman tanggung renteng disini sangat tidakrasional, karena tidak mungkin orang lain mau menanggung hutang pihak lainnya kecuali dia masih dalam satu keluarga, karena dia sebagai ahli waris.


Dalam hukum alam, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini didasarkan pada hukum sebab akibat. Tunggakan merupakan akibat dari sebab yangbermacam-macam faktor. Sehingga kita perlu mendefinisikan kembalimakna tanggung renteng pada sisi sebab dari hukum sebab-akibat(causalitas). Oleh karena itu, hal ini penting dibahas bersamasebagai bagian dari mitigasi resiko pengelolaan dana bergulir.Tanggung renteng harus difahami sebagai proses seleksi anggota kelompok yang baik, dan harus diterapkan pengambilan keputusankelompok.


Dariawal, kelompok yang terbangun tidak termotivasi dengan adanya uang.Akan tetapi pada niatan yang baik untuk suatu visi (cita-cita) yangmulia dalam menambah penghasilan keluarga, yang umum bagi rumahtangga miskin digunakan untuk membiyai pendidikan anak-anaknya. Sebabpendidikan yang baik (tinggi) dapat memutus mata rantai kemiskinan.Oleh karena itu dalam memilih mitra berusaha dalam kelompok harusorang-orang yang memiliki mental yang baik, jangan mereka yangmemiliki mental “pengemplang” sehingga dikemudian hari dapatmenyusahkan kelompok. Inilah awal dari tanggung renteng yang kamimaksudkan.


Tanggung renteng pada tahapan berikutnya adalah adanya saling mengingatkan dansaling membantu. Untuk dapat melakukan tindakan ini maka diperlukanpertemuan rutin yang terprogram. Melalui pertemuan rutin perkembanganmasing-masing anggota kelompok dapat terpantau. Persoalan yangdihadapi baik keluarga maupun usaha dapat dipecahkan bersama dalamkelompok. Peroses saling membantu dan saling mengingatkan akanberjalan. Ketika ada yang mengalami kesulitan dalam menjalankan usahaatau ada musibah yang menimpa suatu keluarga anggota kelompok, makasecara besama-sama bergotong royong meringankan beban keluargatersebut. Inilah yang disebut dengan “asuransi sosial”. Asuransisosial inilah yang pada hakekatnya merupakan taggung renteng yangkedua. Dimana pada bagian ini proses “menanggung hutang” dapatterjadi yang dimaknai bantuan bersama dari kelompok untuk meringakanbeban anggota ketika terjadi musibah. Tetapi sifatnya adalahsementara, sebab ketika beban musibah terlewati maka anggota tersebutwajib mengembalikan sejumlah bantuan dari kelompok, karena ada anggotayang lain nanti akan memanfaatkannya.


Umumnya dana “Asuransi Sosial” dihimpun melalui simpanan yang dilakukan setiap pertemuan kelompok. Sehingga ketika klaim terjadi pada saatada yang mengalami musibah, dana “asuransi sosial” siap dimanfaatkan.


Jika konsep tanggung renteng ini diterapkan oleh anggota kelompok simpan pinjam, saya berkeyakinan konsemp tanggung renteng ini adalah halyang sederhana, sebab ibu-ibu pegiat arisan sudah seringmelakukanya. Namun demikian tinggal lagi bagaimana hal inimenerapkannya di dalam kelompok simpan pinjam.


Dengan demikian apabila proses tanggung renteng ini kita fahami dalamdefinisi yang benar, maka tidak akan terjadi proses pemiskinankembali dalam program pemberdayaan. Sebuah kelompok yang memilikisemangat mewujudkan visi mengentaskan kemiskinan dengan didukung dengan struktur kelembagaan yang kuat akan terwujud. Bukan tidakmungkin produktivitas usaha akan membaik sehingga visi menyekolahkananak setinggi-tingginya bagi keluarga miskin untuk memutus matarantai kemiskinan dapat menjadi kenyataan. Semoga. Bangga MembangunDesa.

 

 

Tais, 12November 2014.

 

 

 

Categories: Keuangan Mikro, Sosial Ekonomi

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Jejaring Sosial



Waktu Hari ini

Fase Bulan Sekarang

CURRENT MOON

Statistik