Anton Sutrisno, berbagi ide dan gagasan

http://www.antonsutrisno.webs.com

Mimbar Bebas Post New Entry

AWAS ! BAHAYA POLA FIKIR RELATIVISME

Posted by Anton Sutrisno on August 10, 2008 at 11:45 AM

Oleh Anton Sutrisno


Sering kita mendengar ungkapan “Ini pendapatku, itu pendapatmu”. Ungkapan itu muncul akibat adanya pandangan yang berbeda dari dua orang atau lebih dalam menilai sesuatu. Hal ini tentu sering dialami oleh semua orang, apakah itu muncul dari orang awam atau kalangan intelektual sekalipun.

 

Sebagai contoh dapat dikemukakan disini. Persepsi masyarakat terhadap penilaian tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi Bengkulu 7,9 SR tanggal 12 September 2007 lalu. Perbedaan ini terjadi dalam penilaian satu objek kerusakan yang dilakukan oleh masyarakat sendiri, perangkat desa, tim satkorlak kecamatan sampai kabupaten bahkan tim provinsi. Persepsi inilah yang mengakibatkan terjadinya “konflik” dalam penyaluran bantuan. Masyarakat banyak yang melakukan complain dengan argumen mengapa yang rusak lebih besar atau lebih parah diberi label kuning, sementara ada ringan diberikan label merah. Tentunya ini berdasarkan persepsi masyarakat yang berbeda dengan tim yang memberikan label tersebut.


Pemikiran relative ini ternyata, bila dikaji lebih dalam, pada pandangan objek tertentu dapat membahayakan bagi seseorang. Jika tidak direnungkan lebih jernih akan menggiring seseorang kepada sikap mengingkari adanya penciptaan atau peran penciptaan Allah SWT. Dengan pengingkaran terhadap fakta penciptaan ini maka membuat seseorang dapat mengingkari terhadap penciptaNya. Pada kesempatan ini kita mencoba untuk mendiskusikan bahaya pola pikir relativisme terhadap seseorang dan dampak bagi dirinya dan lingkungannya.


Contoh kasus diatas adalah menggambarkan pola pemikiran relativisme. Segala sesuatu itu relatif terhadap subyek yang memandang sesuatu itu. Seseorang yang menilai sesuatu tergantung dari informasi yang diperoleh seseorang itu dari lingkungannya. Informasi itulah yang akhirnya membentuk pola fikir (fikroh). Pola fikir ini yang akan menjadi kerangka landasan seseorang dalam menilai dan melaksanakan sesuatu.


Pola fikir reltivisme ini semakin populer setelah dikemukakannya teori relaitivitas oleh Albert Einstein dalam postulatnya pada poin yang pertama yang berbunyi “ sesuatu bergerak dapat dikatakan bergerak secara relatif terhadap benda lain”. Dalam kehidupan kita dapat dicontohkan adalah 2 orang yang sedang naik mobil, bagi dia yang ada di dalam mobil tidak bergerak, tetapi hanya duduk saja padahal menurut yang melihatnya di pinggir jalan dia bergerak bersama mobil. Ini menunjukkan 2 orang bergerak relatif terhadap orang yang melihat di pinggir jalan. Atau kita yang berada di dalam kereta api melihat tiang listrik bergerak menjauhi kita. Menurut orang yang ada didalam kereta api tiang listrik yang bergerak, padahal dia tetap tertancap ditanah.


Relativitas merupakan hasil perkembangan fisika modern. Seiring dengan perkembangan teknologi penyebarannya, maka pemikiran itu telah menjadi pola pemikiran banyak orang saat ini. Akibatnya adalah apabila penerapannya tidak proporsional maka akan membahayakan diri manusia itu sendiri. Seseorang akan menilai segala sesuatu atau orang lain, berdasarkan persepsi atau selera masing-masing. Sehingga kebenaran itu berdasarkan pada pada penilainya, tidak ada kebenaran yang hakiki. Gejala demikian ini banyak menimpa dikalangan generasi muda dan intelektual, yang menerapkan kebebasan berfikir. Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi. Sifat kritis, termasuk kritis dalam beragama sangat diharapkan sehingga akan ditemukan keyakinan yang mantap.


Kita dapat melihat tanda-tanda kekuasaan Allah SWT pada mahluk ciptaannya, yaitu alam semesta, bumi, langit dan seisinya. Tanda tanda itu merupakan sunnatullah atau hukum alam (law of nature) yang tetap. Sebagaimana firman Allah pada QS 30:30 “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama Islam, sesuai dengan fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.


Hukum alam yang Allah ciptakan tidak mengalami perubahan, dia tetap berlaku dan berjalan sampai berakhirnya dunia ini. Untuk memahaminya manusia sudah dianugrahi akal. Akal juga memiliki fitrah berupa kaidah-kaidah dalam melakukan pemikiran dan analisis terhadap permasalahan yang dihadapinya. Ketika akal mendapatkan informasi atau melihat objek, secara otomatis akal bekerja untuk melakukan identifikasi terhadap informasi atau objek itu. Proses indentifikasi berjalan berdasarkan hukum logika. Misalnya seseorang yang melihat benda. Benda yang dilihtanya pasti memiliki jumlah, meskipun dia tidak sanggup untuk menghitungnya. Apabila ada orang yang melihat benda dan tidak mengakui jumlahnya (satu, dua, tiga atau banyak) maka orang tersebut dapat dikatakan mengalami kelainan mental. Karena salah satu hukum logika menyatakan bawa sesuatu benda itu memiliki jumlah karana sunnatullah (hukum alam) benda menermpati ruang dan mempunyai massa.


Logika yang teruji kebenarannya sejalan dengan sunnatullah. Logika ini merupakan landasan obyektif untuk berfikir menemukan kebenaran. Kaidah-kaidah logika ini sifatnya obyektif dan universal dia tidak relative pada orang tertentu saja. Kaidah ini tidak hanya berlaku pada hukum alam saja tetapi juga pada sunatullah yang lain yaitu kitabullah (Al Quran). Oleh karena itu Al Quran sering menantang manusia dengan pertanyaan: Apakah kamu tidak berfikir? Akapakah kamu tidak menggunakan akal? Apakah kamu tidak mentadaburri?


Letak persoalan yang harus kita fahami didalam berfikir atau memahami/menganalisa sesuatu adalah bagaimana kita memandang objek, bukan pada objeknya. Sifat dasarnya adalah obyektif oleh karenanya hukum logika yang melihat subyek pada manusia dengan sendirinya bersifat obyektif. Jika hukum logika sifat dasarnya relative maka manusia tidak akan pernah berhasil memahami hukum alam yang bersifat mutlak, atau yang dikenal dengan pasti. Sehingga muncul adanya ilmu pasti seperti ilmu fisika, kima, biologi, sosiologi dan lain sebagainya.


Orang yang mengingkari adanya hukum mutlak, menunjukkan kebobohannya terhadap hukum logika atau sedang mengalami kelainan mental. Jika orang tersebut belum memahami hukum logika, dianjurkan untuk kembali mempelajari ilmu pasti (matematikan dan ilmu pengetahuan alam). Ilmu tersebut yang akan membimbing kepada pemahaman kaidah-kaidah logika yang dimiliki oleh akal manusia dengan menggambarkannya melalui huruf dan angka yang sederhana, dikenal adanya rumus atau formula.


Apabila ada orang yang mengingkari kebenaran Al Quran sebagai wahyu Allah yang bersifat mutlak, berarti orang tersebut tidak memahami hukum logika. Atau dapat dikatakan sebagai orang yang ideot. Dikenal dalam dalam sejarah klasik sebagai orang jahiliyah (kebodohan).

 

Kemudian kita juga sering mendengar adanya pernyataan “ini semua merupakan karya manusia, sedangkan manusia tidak lepas dari kelemahan”. Pernyataan ini bisa benar tidapi tidak benar. Manusia benar diciptakan sebagai mahluk lemah (dhoif). Tetapi dalam memandang suatu masalah bukan terletak pada manusianya, akan tetapi pada objek yang sedang dipermasalahkan.


Apakah objek itu bersifat relative atau mutlak. Jika kita mengatakan objek itu relativ padahal objek tersebut ciptaan Allah, berarti telah terjadi perubahan hukum alam. Dengan kata lain kita menganggap Allah selalu merenovasi hasil ciptaanya. Berati Allah tidak sempurna dan banyak kelemahan-kelemahan, sehingga perlu adanya perbaikan-perbaikan. Gambaran demikian ini jelas menunjukkan sikap kekafiran terhadap Allah SWT yang maha sempurna.


Seperti persepsi adanya gempa, banyak yang beranggapan sebagai gejala alam saja (cause of nature). Jika hanya sebatas ini saja kurang tepat. Kita harus melihat gejala ini secara menyeluruh, keberadaan lempeng kerak bumi. Bahwa lempeng tersebut selalu bergerak, ada gaya-gaya yang saling menekan menuju pada keseimbangan. Gaya yang selalu bekerja merupakan sunnatullah atau hukum alam. Semestinya kita tidak heran lagi, karena Al Quran menceritakan bahwa gunung-gunung itu bergerak seperti bergeraknya awan. Ini semua adalah sunatullah atau hukum alam yang sudah ditetapkan dari awal penciptaan.


Kelemahanya adalah kita tidak dapat memahami hukum itu. Mengapa ketidakseimbangan yang mengakibatkan pergerakkan lempeng tersebut tidak smooth? Apakah ada kaitannya dengan kerusakan yang dilakukan oleh manusi? Bisa jadi, karena malaikatpun protes diawal penciptaan manuasia “Akankan Engkau hendak menciptakan orang yang merusak dan menumpahkan darah dibumi?” (QS 2:30). Kekhawatiran malaikat ini terbukti!


Lalu kerusakan itu yang mana? Apakah pada eksplorasi dan ekspolitasi alam saja? Apakah kerusakan moral dan akhlak, seperti kezaliman yang dilakukan oleh manusia juga termasuk dalam wilayah yang dinamakan kerusakan?


Menganalisa ini kita coba kembalikan, bahwa hukum alam bersifat mutlak, yang juga terdapat pada situasi yang kita namakan dengan kondisi sosial. Misalnya adanya hukum aksi reaksi pada Newton I, yang juga terjadi pada hukum sosial, jika ada aksi yang dilakukan oleh kelompok tertentu maka akan ada penentangan dari kelompok lainnya. Jika kita dipukul oleh orang lain, kita ingin membalas pukulan itu. Ini adalah sunatullah yang bersifat tetap dari manusia dulu sampai dengan sekarang dan yang akan datang. Karena kalau dipukul diam saja akan dikatakan bodoh atau penakut. Keluar dari ketentuan hukum logika.


Kerusakan moral dan akhlak, merupakan penyimpangan dari hukum logika. Karena semua manusia mendukung moralitas dan akhlak yang baik. Meskipun sebagai pencuri, dia dan keluarganya tidak ingin dicuri. Meskipun seseorang sering melakukan perzinaan, tetapi dia sendiri juga tidak ingin istri atau anak perempuannya dizinai oleh orang lain. Meskipun dilakukan suka sama suka!. Kerusakan moral dan akhlak mengakibatkan ketidakseimbangan alam secara menyeluruh. Semakin besar kezaliman yang terjadi maka akan semakin besar energi yang hilang akibat kezaliman tersebut.


Gambaran sederhananya begini, kalau seseorang berjanji kepada orang lain. Maka orang lain tersebut telah melepaskan sebuah energi yang kita sebut dengan harapan, yang akan menjadi netral setelah harapan itu dipenuhi. Jika harapan itu terakumulasi pada banyak orang, dengan waktu yang lama, ternyata tidak juga dipenuhi atau bahkan dia hanya diberikan janji kosong belaka, maka energi harapan tersebut akan sangat besar yang mempengaruhi keseimbangan alam. Sehingga alam akan bergerak atau berubah untuk menyesuaikan keseimbangan itu. Bukankah manusia ini bagian dari alam yang diciptakan masih berdasarkan hukum alam juga. Tidak ada perubahan dalam penciptaan. Alam akan ikut menuntut keseimbangan tersebut dengan tindakan yang sesuai dengan hukum alam yang ditetapkan padanya. Sebagimana air yang tidak ada penyerapan dia akan mengalir ke tempat yang rendah dan berkomulasi serta bergerak dengan tidak memperdulikan segala sesuatu yang dilaluinya. Apakah tumbuhan, hewan, orang baik atau jahat, beriman atau kafir semuanya akan ditabraknya. Perilaku ini sering kita sebut banjir. Oleh sebab itu kerusakan yang ada dibumi disebabkan oleh tangan-tangan manusia.


Jika manusia berada dalam kondisi iman, kondisi yang seimbang, tidak ada kezaliman, maka akan diberikannya berkah dari langit dan dari bumi. Karena alam lingkungan manusia tersebut berada dalam kondisi yang seimbang, sehingga dia akan menjalankan hukum alam yang lain sebagaimana mestinya, seperti proses kimiawi dan fisika tanah yang mengakibatkan tanah jadi subur. Proses hujan yang dipenuhi oleh nitrogen dari loncatan api yang ada di langit. Serta proses alam lainnya yang tidak terhitung banyaknya. Alam tidak perlu bergerak mencari keseimbangan energi, yang mengakibatkan bencana bagi manusia.


Bagi orang tertentu gejala alam dan gejala sosial bisa ditangkap dan difahami. Gejala inilah yang disebut perlambang atau tanda (ayat). Tentunya dapat ditangkap oleh orang yang berfikir dengan ilmu yang dimiliki, yang merenungi penciptaan dan jiwa yang bersih untuk menerima sinyal tersebut.


Berikut ini ada beberapa hal yang akan sangat berguna bagi kita dalam memahami persoalan atau gejala alam yang kita hadapi sehingga tidak menggiring kita pada posisi yang salah.

 

Obyek persoalan itu harus diketahui dulu bersifat mutlak atau relativ. Maksudnya adalah apakah masalah itu obyektif diluar manusia sehingga semua manusia mengakui keberadaannya. Sebagai contoh kemiskinan bersifat obyektif, yang relativ adalah tingkat kemiskinan, karena penilaiannya tergatung dari persepsi manusianya. Kerusakan fisik akibat gempa bersifat obyektif, tingkat kerusakannya yang relativ dipengaruhi oleh tolok ukur yang dipakai.


Permasalahan harus dipandang dari sudut yang sama dan dengan cara yang sama. Jika sudut pandang yang berbeda hasilnya akan berbeda. Permasalahan itu obyektif, cara pandangya yang relativ. Dalam memahami Islam juga ada kaidah atau metode yang harus diikuti supaya pemahaman yang didapatkan akan sama dengan pandangan para sahabat dan salafus shalih. Jika kita menggunakan kaidah sendiri maka pemahamannya juga akan berbeda. Islam juga universal dan fleksibel mengikuti pemahaman orang yang memahaminya. Sebagaimana Allah juga tergantung pada peresepsi hambanya.


Kita juga harus dapat membedakan apa yang dikatakan berlawanan, berlainan, dan berbeda. Contoh yang merupakan berlawanan adalah mati dan hidup, yang merupakan berlainan misalanya berkulit hitam dan berkulit putih, cantik dan jelek. Kenyataan ini tidak akan terjadi dalam diri seseorang bersamaan. Karena kulit hitam berlainan dengan kulit putih. Untuk kata berbeda dapat dicontohkan antara guru dan murid. Guru berbeda dengan murid akan tetapi dalam waktu yang bersamaan, guru dapat menjadi murid atau seorang murid dapat menjadi guru. Predikat ini dapat disandang oleh seseorang dalam waktu yang bersamaan.


Dengan memahami hal diatas, maka kita dapat memperoleh suatu ketapan dalam menilai suatu permasalahan. Apakah bersifat mutlak atau relatif. Sehingga tidak berpandangan segala sesuatu didunia itu relative. Sebagai suatu kesimpulan dari uraian ini, dapat kita renungkan firman Allah QS 3:60 “Kebenaran itu dari tuhanmu, karena itu janganlah kamu menjadi golongan yang regu-ragu.” Selanjutnya QS 4:143 “Mereka berada dalam keadaan ragu-ragu antara iman dan kafir, tidak termasuk pada golongan yang beriman dan tidak pula pada golongan kafir. Maka siapa yang disesatkan oleh Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk.” Jadi gambaran orang yang berfikir relativisme adalah cerminan dari orang yang ingkar terhadap Allah SWT.


Categories: Filsafat

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Jejaring Sosial



Waktu Hari ini

Fase Bulan Sekarang

CURRENT MOON

Statistik