Anton Sutrisno, berbagi ide dan gagasan

http://www.antonsutrisno.webs.com

Mimbar Bebas Post New Entry

Mall Pasar Minggu Berbasis Pengembangan Kota?

Posted by Anton Sutrisno on July 17, 2007 at 8:56 AM

Oleh Anton Sutrisno*

 

 

Kebijakan pemindahan pedagang Pasar Minggu Bengkulu ke Pasar Baru Koto, memperoleh penolakan dari para pedagang Pasar Minggu. Mereka tidak menginginkan untuk di pindahkan ke Pasar Baru Koto. Direncanakan Pasar Minggu ini akan disulap menjadi pasar modern (mall) oleh investor. Pembangunan ini akan membuat Bengkulu menjadi kota besar, seperti layaknya kota-kota lain, yang telah memiliki pusat perbelanjaan yang modern sekaligus sebagai tempat ajang gaul bagi anak muda.

 

Indikator kemajuan kota secara “gampang” dapat dilihat dari pusat pertokoan, semakin modern dan lengkap maka daerah tersebut dapat di katakan maju. Penampakan ini juga menunjukkan perkembangan produk dan pola konsumsi yang ada di kota tersebut. Semakin bermerk barang yang dijual, tempat penjualan dan penjual yang terkenal maka orang-orang yang ada di daerah tersebut telah sama dengan daerah maju. Tolok ukurnya adalah kota-kota besar terdekat, seperti Jakarta, Palembang, atau Lubuk Linggau. Sehingga apabila ada produk yang ada di kota tersebut dan tidak ada di Bengkulu maka kita telah ketinggalan alias “idak maju”.

 

Pembangunan pasar modern ini perlu dikaji lebih jauh. Siapkah masyarakat Bengkulu untuk menjadi pasar. Apakah daya beli masyarakat sudah memungkinkan. Sehingga masyarakat tidak sekedar jalan-jalan saja tetapi dapat dan mampu membeli produk yang ada di pasar modern itu. Karena konsumen pasar tersebut adalah untuk orang menengah ke atas saja.

 

Apakah dengan adanya pasar modern ini mampu mengangkat produk lokal? Jika tidak, masyarakat Bengkulu hanya akan menjadi pasar dari para produsen dan pedangang “luar”. Kita berharap aliran uang lebih banyak masuk ke Bengkulu dari pada keluar sehingga tidak terjadi “defisit transaksi”. Kalau ini yang terjadi maka perekonomian masyarakat tidak dapat terangkat. Paling tidak dengan pembangunan pasar moderen ini adalah memperpendek rantai penjualan barang-barang industri. Seperti pakaian jadi, dapat kita beli dengan harga standar Bandung, atau barang elektronik dapat dibeli di Bengkulu dengan harga Glodok atau Mangga Dua.

 

Bagaimana posisi pelaku pasar tradisional yang ada selama ini? Mereka memiliki segmen terbesar di Bengkulu. Menengah ke bawah. Diharapkan dengan dibangunnya pasar modern mereka akan semakin maju. Bukan semakin tersisih. Pelaku pasar inilah yang menyediakan kebutuhan pokok masyarakat. Kelompok ini yang sekarang menyatakan ketidaksediaannya untuk pindah dari lokasinya.

 

Penempatan Pasar Modern (mall) di Lokasi Pasar Minggu patut di kaji ulang. Prinsip yang paling mendasar adalah pada dampak dan manfaat. Kemudian kemampuan yang ada. Didalam situasi ekonomi yang sulit ini sebaiknya dalam membangun jangan melakukan pengrusakan dari pembangunan yang sudah ada. Hasil pembangunan yang sudah ada lebih baik di rehabilitasi. Karena itu adalah “investasi” uang rakyat yang cukup besar.

Lokasi yang baik adalah di sekitar wilayah Panorama atau Lingkar Timur. Ada dua dasar pokok yang dapat menjadi pertimbangan yaitu:

 

1. Kemudahan Akses

 

Kemudahan akses ini utamanya adalah kemudahan dalam berhubungan antara penjual dan pembeli. Sementara ini banyak jika membicarakan akses yang terpikir adalah kemudahan transportasi. Meskipun belum tentu itu yang utama, tetapi menjadi bagian yang sangat penting. Untuk masyarakat yang sudah modern, mungkin tidak terlalu membutuhkan sarana tranportasi untuk berbelanja. Cukup melalui telpon atau belanja melalui internet (e-commerce, e-bussines). Sarana ini membuat penjual tidak harus berada di toko, dan pengunjung tidak harus melihat contoh barang langsung. Untuk masyarakat kita, dimana berbelanja memiliki tradisi dan kepuasan tersendiri masih membutuhkan pertemuan langsung antara penjual dan pembeli.

 

Perbelanjaan modern sangat dibutuhkan sarana transportasi berikut tempat parkir. Tempat parkir yang baik adalah yang tidak mengganggu lalulintas di sekitarnya. Untuk lokasi Pasar Minggu saat ini untuk membangun lokasi ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Akan menyangkut dengan pelebaran jalan dan penggusuran. Untuk kondisi saat ini saja sering mengalami kemacetan. Sebaiknya lokasi pasar modern (mall) adalah pada daerah yang memungkinkan pembangunan prasarana tranportasi yang lancar dan sarana perpakiran yang memadai.

 

Kelancaran akses ini juga dipengaruhi oleh kedekatan dengan para penggunanya. Tempat yang baik adalah dimana mereka semua dapat mengakses ke lokasi mall dengan mudah. Kantong-kantong konsumen terdapat pada lokasi perumahan. Mereka ini yang biasanya lebih memiliki daya beli. Untuk Kota Bengkulu Mereka tersebar di Arah Pulo Baai, Suka Raja, Lingkar Timur, Lingkar Barat, dapat mengakses dengan satu jalur, sedangkan Nakau, Tugu Hiu dan perumnas Unib dapat mengakses melalui Kembang Seri. Jalur ini dapat memberikan dampak yang baik bagi kawasan wisata DDTS (Danau Dendam Tak Sudah)

 

Bagaimana dengan orang dari luar Bengkulu atau kawasan pinggiran kota? Ada 6 titik tempat mereka masuk, 1) Bandara Fatmawati, 2) Terminal Air Sebakul, 3) pelabuhan Pulo Baai, 4)Terminal Sungai Hitam, 5) Terminal Nakau, 6) Terminal Betungan. Lokasi Mall sebaiknya mudah di akses dari keenam titik ini. Terminal Air Sebakul akan semakin lebih hidup. Jalur-jalur angkutan kota dapat ditata kembali dengan pola yang tidak terfokus pada Suprapto dan Pasar Minggu. Ada jalur-jalur baru yang dibuka dengan mempertimbangkan pemukiman dan titik terminal. Penataan jalur dengan baik dan jelas dapat menjadi prediksi investor dalam melakukan studi kelayakan usahanya.

 

 

2. Kemungkinan Pengembangan

 

Lokasi pembangunan Maal di kawasan timur kota Bengkulu, akan mempercepat pengembangan kota ke wilayah timur. Sehingga pusat kota tidak lagi di kawasan Suprapto dan Pasar Minggu. Selain itu dapat memberikan effek pengganda bagi lingkungan sekitarnya dengan munculnya investor-investor lokal untuk membangun pertokoan yang menjual barang dan jasa pendukung.

 

Pemindahan ke Pedagang ke Pasar Baru Koto memberikan pengaruh yang kurang baik bagi kawasan sekitar. Lokasi pasar ini berdekatan dengan kawasan wisata Benteng Marlborogh dan Tapak Paderi. Pasar tradisional seperti Pasar Minggu akan mengeluarkan limbah sampah yang kurang baik bagi kawasan tersebut. Akhirnya akan mengganggu keindahan kawasan kota yang terkesan kuno dan antik tersebut. Sebaiknya pada wilayah ini adalah penjualan barang-barang antik khas Bengkulu. Pemasaran dari kawasan ini dapat diintergrasikan dengan Pantai Panjang. Jangkauan lokasinya tidak terlalu jauh. Sehingga pengunjung pantai belum puas kalau belum ke Tapak Paderi dan belanja di Pasar Baru Koto, demikian pula sebaliknya.

 

Dari sisi pasokan barang, penjual di Pasar Minggu banyak yang berasal dari pinggiran kota seperti Bentiring dan Pekik Nyaring Pondok Kelapa. Mereka pensuplai komoditas kebutuhan dapur rumah tangga. Pemindahan ke Pasar Baru Koto terlalu jauh. Dari sisi konsumen, pasar ini melayani wilayah Barat Bengkulu, dimana lokasi saat ini strategis untuk dijangkau dari Nakau, sungai hitam.

 

Pembangunan mall di Pasar Minggu dapat memberikan dampak negatif bagi kawasan suprapto. Selama ini Pasar Minggu merupakan buffer Suprapto. Orang berbelanja biasanya tidak satu macam saja. Kebutuhan pokok tersedia di Pasar Minggu dan kebutuhan sekonder lainnya ada di pertokoan suprapto.

 

Paling penting adalah dalam era otonomi daerah ini, kebijakan pemerintah daerah dan kota adalah menjaga aset-aset yang telah dibangun pada masa sebelumnya. Pengelolaan dana pembangunan dapat dilakukan dengan efisien dan efektif.

 

 

 

*(Anton Sutrisno, konsultan Keuangan Mikro pada proyek Bank Dunia)

Rakyat Bengkulu, Kamis, 17 Juli 2003

Categories: Sosial Ekonomi

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Jejaring Sosial



Waktu Hari ini

Fase Bulan Sekarang

CURRENT MOON

Statistik