Anton Sutrisno, berbagi ide dan gagasan

http://www.antonsutrisno.webs.com

Mimbar Bebas Post New Entry

Mega Mall Sebuah Pembangunan ?Grusa-grusu?

Posted by Anton Sutrisno on August 21, 2009 at 9:41 AM

Mall, Plaza, atrium adalah sebuah simbol globalisasi. Untuk saat ini identik dengan kemajuan. Dia adalah super market yang mejual produk yang berasal dari berbagai negara, bukan cuman masakan padang atau soto betawi, tetapi juga tempayaki dari Jepang, humberger, Fried Chicken dan donut dari Amerika dapat dijumpai disana. Bukan cuma durian dan jeruk dari Kalimantan, atau pisang Curup dan Durian Bengkulu tetapi juga terdapat durian Bangkok. Citraan (image) ini yang memberikan kebanggaan bagi masyarakat suatu daerah tertentu. Disamping itu juga memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk menikmati produk yang ditawarkan. Kalau mau makan pizza tidak mesti datang ke Amerika, kalau mau makan Shasimi tidak mesti menunggu kawan yang pulang dari Jepang. Cukup datang ke Mall dan Plaza dengan satu kali keliling semua kebutuhan telah tersedia tidak mesti keluar dari gedung naik angkot lagi.

 

Seperti inikah yang akan dibagun di Pasar Minggu Kota Bengkulu? Dilihat perkembangannya belum ada garis yang jelas. Ada dua istilah yang selalu dikemukakan yaitu Mega Mall yang berarti mall yang sangat besar dan megah dan pasar tradisional modern yang berarti pasar tradisional dengan fasilitas yang modern. Pasar tradisional biasanya masih terjadi tawar menawar dalam transaksi dengan produk yang sangat bervariatif dengan kepemilikan penjualan yang bervariatif.

 

Melihat dialog-dialog yang terjadi antara pedagang dan pemerintah kota dimana akan tetap memberikan prioritas pengisian pasar pada para pedagang lama, yang juga berarti dengan produk yang variatif pola transaksi yang tradisional maka yang akan dibangun ini adalah pasar tradisional modern, walaupun gedung dan fasilitas yang canggih seperti Plaza Senayan di Jakarta.

 

Jika memang demikian adanya, berarti akan memberikan kemudahan bagi masyarakat dan pedagang. Penataan yang baik dengan fasilitas yang baik akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi pedagang dan pembeli. Melihat perkembangan pelaksanaan pembangunan, dimana terjadi kesimpangsiuran iformasi, saling melempar kesalahan yang terjadi pada pemerintah kota, konsultan, investor dan dewan menunjukkan bahwa pembangunan Pasar Minggu Modern dilaksanakan dengan “grusa-grusu”, tidak difikirkan dan direncanakan dengan matang oleh semua komponen yang terkait (stake holder). Ada kesan pembangunan ini bersifat politis sebagai ungkapan terimakasih kepada warga kota dengan dibangunkan monumen yang dinamakan dengan gedung Pasar Minggu Modern.

 

Persiapan pembangunan tidak melalui sosialisasi yang cukup dan memadai. Sosialisasi hanya dilakukan untuk pemindahan pedagang pasar minggu ke tempat yang baru. Sehingga visi dan misi pembangunan Pasar Minggu Modern tidak terinternalisasi. Pelaksanaan sosialisasi ini seharusnya melibatkan berbagai pihak tidak hanya terkotak pada pemkot saja tetapi dapat saja melibatkan pemprov dan pemkab yang ada. Mengapa tidak dijadikan sebagai market center untuk ajang promosi produk dan promosi agrowisata bagi kabupaten lain yang ada di Provinsi Bengkulu?

 

Pembangunan Pasar Minggu Modern yang peletakan batu pertamanya oleh Menteri Koperasi dan UKM, Ali Marwan Hanan pada 4 Oktober 2003 lalu, sekarang seolah-olah mentah kembali. Informasi yang tidak jelas dan pasti pelaksanaannya. Bahkan terancam batal karena investornya telah mengalihkan ke daerah lain (RB 22 Oktober 2003), PT Wahana Ahli Karya selaku pelaksana baru melakukan studi kelayakan terhadap daya pedagang dan masyarakat.

 

Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah pernyataan Ketua Komisi D DPRD Kota Bengkulu Ferry Asjikin (RB, 8 November 2003) bahwa ada 3 izin yang belum dipenuhi oleh pemerintah kota dalam pelaksanaan pembangunan Pasar Minggu Modern. Pertama, izin penghapusan asset yakni pembongkaran Pasar Minggu Sembako. Kedua, Izin untuk pelelangan pelaksanaan pembangunan proyek Pasar Minggu Sembako. Dan yang ketiga adalah izin kerjasama Pemerintah Kota Bengkulu dengan investor.

 

Terlepas dari pernyataan benar dan tidaknya tersebut, ini menunjukkan adanya tahapan pelaksanaan pembangunan yang belum disepakati dan difahami oleh beberapa pihak yang terkait dengan pembangunan tersebut, terutama kali pihak DPRD yang memliki fungsi pengawasan politik dalam pelaksanaan pembangunan. Terjadinya kesepakatan dan kesepahaman dalam masing-masing tahap pembangunan akan memberikan pengertian kepada semua fihak apakah dalam pelaksaanaan ada jeda, atau perbaikan atau hal lainnya. Sehingga tidak terjadi saling lempar permasalahan ke permukaan publik yang akan memicu emosi para pedagang.

 

Meskipun tahapannya sudah berlalu, tetapi ini belum terlambat untuk dilakukan, atau kualitas kegiatannya yang diperbaiki. Ada 5 tahapan yang serharusnya dilaksanakan sebelum dilakukan pembangunan fisik Pasar Minggu Modern yaitu:

 

 

1. Sosialisasi

Sosialisasi ini bukan hanya diberikan untuk masyarakat yang menjadi sasaran dampak langsung saja, tetapi kepada semua pihak yang akan memanfaatkan Pasar Minggu Modern. Mereka adalah masayrakat, mahasiswa dan akademisi, pelaku ekonomi pemerintah dan swasta. Sebelum melakukan sebuah studi kelayakan dapat dilakukan pengkajian dalam bentuk diskusi terhadap prospek bisnis ritel di daerah ini. Apa saja manfaat yang akan dirasakan masyarakat ? Dimana partisipasi masyarakat, dan pengusaha swasta dapat dilibatkan dalam kegiatan ini.

Tentunya kegiatan pembangunan Pasar Minggu Modern tidak hanya milik masyarkat atau pemerintah kota saja. Walaupun pembangunanya dilakukan oleh pemkot. Pemerintah kabupaten lain juga dapat diajak diskusi karena Pasar modern ini akan menjadi kebanggaan bukan saja warga kota tetapi seluruh warga Bengkulu. Dia dapat menjadi media pemasaran dan promosi komoditas lokal.

Pada saat pelaksaan kegiatan inilah semua pihak bebas berbicara yang argumentatif untuk setuju atau tidak. Pada kegiatan sosialisasi ini juga untuk mempersiapkan untuk kontribusi dan partisipasi masing-masing elemen. Kontribusi para pedagang Pasar Minggu adalah dengan bersedia dipindahkan dengan tidak terjadi konflik, karena mereka telah menyadari bahwa pembangunan Pasar Minggu Modern tidak hanya untuk orang yang bermodal saja, tetapi mereka memiliki peluang untuk memanfaatkannya. Para politisi sebagai pelaku kegiatan pengawasan politis akan memberikan dukungan dengan pendapat selaku searah dengan tujuan pembangunan Pasar Minggu Modern, sehingga yang mendengarnya tidak bingung dan berpikiran negatif. Dengan demikian dukungan semuah elemen dapat terjadi.

 

2. Studi Kelayakan

Kapan dilakukan studi kelayakan? Apakah sesudah ada investornya atau belum? Siapa yang melakukan? Investor atau pihak pemerintah? Adalah lucu bila membaca pernyataan yang telah dikutip di atas. Studi kelayakan baru akan dilaksanakan. Padahal tempat yang akan dibangun telah rata dengan tanah. Berapa banyak kerugian materi dan non materi yang harus diterima oleh para pedagang yang diharuskan pindah. Seperti yang diungkap oleh Ahmad Zarkasih dalam wawancara dengan RB, bahwa besar sekali kehilangan pendapatan pemkot atas relokasi tersebut. Kalau tidak layak bagaimana? Siapa yang akan mengganti sunk cost ini?

Seharusnya studi kelayakan ini dilakukan jauh-jauh hari sebelum patok pembangunan Pasar Minggu Modern dipancangkan. Hasilnya telah disosialisasikan pada stake holder. Studi kelayakan harus dilakukan oleh pemerintah dan investor. Karena layak menurut kita belum tentu layak menurut orang lain, apalagi akan menyangkut dengan return on investment. Investor tentunya akan menilai dari sisi komparatif dan kompetitifnya pembangunan di daerah ini dan daerah lain. Kecuali ini sebuah investasi sosial untuk memajukan daerah Bengkulu.

 

3. Pelaksanaan kesepahaman dengan investor, dan pemerintah propinsi dan kabupaten lain.

Ketika semua pihak baik elemen pemerintahan, apalagi investor telah menyatakan bahwa tidak ada persoalan yang berkaitan dengan kelayakan pembangunan Pasar Minggu Modren maka diikat dengan bentuk kesepakatan dan kesepahaman (memorandum of understanding). Pada saat ini tidak hanya pemerintah dengan pihak investor, tetapi juga melibatkan pemerintah propinsi dan kabupaten lain. Karena pemanfaatan dari pembangunan ini harus dilihat secara integrated tidak saja kota tetapi masyarakat kabupaten, baik nantinya sebagai marketing target ataupun sebagai penyedia bahan baku (supply good).

Pada saat ini, pedagang yang pada situasi saat ini dalam posisi “dirugikan” sebaiknya dihadirkan untuk menyaksikan dan memberikan apresiasi, dan juga sebagai wujud dari pembangunan yang bersifat partisipatif. Pembangunan Pasar Minggu tidak saja dilakukan pemerintah dan investor tetapi masyarakat pedagang memberikan kontribusi dan pengorbanan yang tidak ternilai harganya.

 

4. Relokasi tempat dan pedagang, pembangunan fisik.

Relokasi tempat dan para pedagang menjadi tahapan awal dalam pembangunan fisik. Relokasi ini dipersiapkan dengan pertimbangan kemudahan akses jalur angkutan kota.

 

5. Pengaturan segment komoditas lokal yang diisi oleh pelaku lokal dengan didukung oleh pemkab, pemprov dan pemkot.

Langkah terakhir adalah mempersiapkan pengisian pasar. Tentunya sebuah pasar yang menarik adalah memiliki ke khasan dalam produk yang dijualnya. Perlu adanya kebijakan pemerintah dalam memperioritaskan pada pelaku pedagang lokal dengan mengangkat komoditas lokal disamping. Pengunjung dari luar Bengkulu tidak perlu ke Muko-muko untuk memakan sambal lokan khas muko-muko, Tidak mesti ke Curup jika akan mencari pisang curup, juga tidak mesti ke Seginim jika akan memborong jeruk Seginim.

 

 

 

(Anton Sutrisno, konsultan keuangan mikro di Bengkulu)

Bengkulu, November 2003

Categories: Sosial Ekonomi

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Jejaring Sosial



Waktu Hari ini

Fase Bulan Sekarang

CURRENT MOON

Statistik