Anton Sutrisno, berbagi ide dan gagasan

http://www.antonsutrisno.webs.com

Mimbar Bebas Post New Entry

PLTN SEBAGAI SALAH SATU SUMBER ENERGI LISTRIK YANG RAMAH LINGKUNGAN

Posted by Anton Sutrisno on May 12, 2011 at 9:36 PM


Oleh:  AntonSutrisno


 

Latar Belakang

Membahas tugas yang diberikan ini cukup kesulitan. Sederhana perintahnya, tetapi membutuhkan pemikiran yang cukup mendalam. Apalagi persoalan PLTN ini di Indonesia masih menjadi polemik, pro dan kontra yang hingga hari ini belum kunjung selesai. Kesulitan berikutnya adalah ketidakpahaman dengan apa itu PLTN. Tetapi dengan literatur yang terbatas dicoba untuk dibahas. Paling tidak menjadi awal wawasan mengenal lebih jauh tentang PLTN.


Jika mendengar kata nuklir, masih muncul rasa ketakutan yang besar. Rasa ketakutan dengan nuklir berawal dari adanya bom atom yang diledakkan di Hirosima dan Nagasaki, kebocoran PLTN Chernobyle Uni Sovyet. Radiasi yang ditimbulkan membutuhkan waktu ratusan tahun untuk pemulihannya. Teknologi nuklir sangat rumit, berbeda dengan sumber energi lain, sperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listri Tenaga Surya (PLTS) atau yang mulai marak belakangan ini adalah Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), masyarakat dapat memahami cara kerjanya sehingga dapat mengantisipasi resiko yang ditimbulkannya. Ketidakpahaman memberikan rasa ketakutan tersendiri.


Sekilas tentang PLTN   


ISU tentang pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) kembali menghangat. Sebagaimana diberitakan Suara Merdeka dan Kompas (8/12-2006), Pemerintah melalui Kementerian Negara Riset dan Teknologi tetap akan merealisasi rencana pembangunan (PLTN) meskipun masih muncul pro dan kontra di kalangan masyarakat. Keputusan itu mengundang kekhawatiran berbagai kelompok masyarakat di Jepara serta Kudus dan sekitarnya, khususnya yang bergabung dalam Masyarakat Rekso Bumi (Marem).


Rencana pembangunan PLTN di Semenanjung Muria, Jepara, memiliki sejarah yang panjang. Pada 1982, rencana itu telah dirintis oleh Badan Tenaga Atom Nasional(BATAN) dengan mengkaji rencana tapak dan menghimpun pandangan masyarakat tentang PLTN. Pro dan kontra juga telah menyeruak ke permukaan. Gus Dur waktu itu mengancam akan tidur di sekitar proyek kalau sampai PLTN itu terhenti ketika Menristek Habibie menyatakan bahwa PLTN baru akan dibangun jika alternatif lain sudah tidak ada.


Namun demikian, selama beberapa tahun terakhir ini, gagasan merealisasi pembangunan PLTN itu mencuat kembali. BATAN aktif menggandeng dua pusat penelitian dari sebuah perguruan tinggi untuk menginventariasi kondisi sosial ekonomi dan pandangan masyarakat terhadap proyek tersebut. Hasil penelitian yang dipresentasikan pada seminar di Jepara Juli 2006 mengundang banyak pertanyaan, karena simpulannya menyebutkan bahwa responden yang menyatakan setuju jumlahnya lebih besar ketimbang yang menentang. Kendatipun misalnya hasil penelitian itu valid, pemprakarsa proyek tetap harus memperhatikan kelompok yang kontra, karena mereka merupakan bagian dari stakeholder. Lebih dari itu, keberlanjutan sebuah proyek sangat bergantung kepada tingkat penerimaan masyarakat (social acceptance). Tulisan berikut menelaah mengapa masyarakat menolak PLTN


Menurut Wikipedia Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah stasiun pembangkit listrik thermal di mana panas yang dihasilkan diperoleh dari satu atau lebih reaktor nuklir. Reaktor nuklir adalah tempat/perangkat dimana reaksi nuklir berantai dibuat, diatur dan dijaga kesinambungannya pada laju yang tetap (berlawanan dengan bom nuklir, dimana reaksi berantai terjadi pada orde pecahan detik, reaksi ini tidak terkontrol).


Reaktor nuklir digunakan untuk banyak tujuan. Saat ini, reaktor nuklir paling banyak digunakan untuk membangkitkan listrik. Reaktor penelitian digunakan untuk pembuatan radioisotop (isotop radioaktif) dan untuk penelitian. Awalnya, reaktor nuklir pertama digunakan untuk memproduksi plutonium sebagai bahan senjata nuklir.


Saat ini, semua reaktor nuklir komersial berbasis pada reaksi fissi nuklir, dan sering dipertimbangkan masalah risiko keselamatannya. Sebaliknya, beberapa kalangan menyatakan PLTN merupakan cara yang aman dan bebas polusi untuk membangkitkan listrik. Daya fusi merupakan teknologi ekperimental yang berbasi pada reaksi fusi nuklir. Ada beberapa piranti lain untuk mengendalikan reaksi nuklir, termasuk di dalamnya pembangkit thermoelektrik radioisotop dan baterai atom, yang membangkitkan panas dan daya dengan cara memanfaatkan peluruhan radioaktif pasif, seperti halnya Farnsworth-Hirsch fusor, dimana reaksi fusi nuklir terkendali digunakan untuk menghasilkan radiasi neutron

 


Keuntungan dan Kerugian PLTN


Untuk membicarakan keuntungan atau kerutian PLTN berikut kutipan pernyataan Patrice More seorang pendiri greenpace yang dipublikasikan di website BATAN. Di awal tahun 1970-an sewaktu beliau membantu mendirikan Greenpeace, beliau mempercayai bahwa energi nuklir itu sinonim dengan bencana nuklir, sama seperti pendapat rekan-rekan seperjuangannya. Keyakinan itu telah mengilhami perjalanan Greenpeace yang pertama ke pantai karang Barat-Laut untuk memprotes percobaan bom hidrogen di Kepulauan Aleutian di Alaska.


Tiga puluh tahun berlalu, pandangannya telah berubah, dan seluruh gerakan pro-lingkungan kiranya perlu memutakhirkan pendapatnya juga, karena energi nuklir adalah satu-satunya sumber listrik yang tidak memancarkan gas rumah-kaca, yang dapat secara efektif mengganti bahan-bakar fosil guna memenuhi permintaan energi yang semakin bertambah.


Marilah kita kaji pemancar gas rumah-kaca yang terbesar di dunia: batubara. Biarpun batubara memberikan listrik murah, tetapi pembakaran batubara di seluruh dunia menciptakan sekitar 9 milyar ton CO2 per tahun, yang sebagian besar akibat dari pembangkitan listrik. Pembangkitan listrik yang membakar batubara menyebabkan hujan asam, kabut-asap (smog), penyakit pernafasan, kontaminasi merkuri, dan memberi kontribusi utama pada gas rumah-kaca dunia.


Di lain pihak, sebanyak 441 PLTN yang kini beroperasi di seluruh dunia telah menghindari emisi hampir 3 milyar ton CO2 per tahun  ─  yang setara dengan gas-buang berasal lebih dari 428 juta mobil.


Untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap batubara, kita harus bekerja bersama mengembangkan infrastruktur energi nuklir secara global. Energi nuklir itu bersih, sepadan dalam hal ongkos (cost effective), dapat diandalkan dan aman.


Di tahun 1979 Jane Fonda dan Jack Lemmon keduanya telah memenangkan piala Oscar untuk perannya dalam "The China Syndrome". Di dalam film, sebuah reaktor nuklir mengalami pelelehan yang mengancam kehidupan seluruh kota.


Duapuluh hari setelah film dahsyat itu diputar-perdanakan, sebuah pelelehan reaktor di Three Mile Island benar-benar telah menggetarkan seluruh negara.

 


Pada waktu itu tidak seorangpun memerhatikan bahwa Three Mile Island itu sebenarnya adalah sebuah kisah sukses. Struktur beton yang membentuk sungkup reaktor (kontenmen, containment) telah menunaikan tugasnya dengan baik: bangunan sungkup telah menghalangi keluarnya radiasi ke lingkungan. Biarpun reaktor menjadi tidak berfungsi, tetapi tidak ada korban luka atau meninggal di antara publik maupun pekerja nuklir.


Di Amerika Serikat hari ini terdapat 103 reaktor nuklir yang diam-diam menyajikan 20% kebutuhan listriknya. Sekitar 80% penduduk di sekitar PLTN sampai jarak 10 Km itu menyetujui kehadiran PLTN-mereka. Tingkat persetujuan yang tinggi itu tentulah tidak termasuk pekerja PLTN yang memiliki kepentingan  dalam mendukung pekerjaan mereka yang aman, dan bergaji tinggi. Biarpun saya tidak hidup dekat dengan PLTN, tetapi sekarang saya praktis berada di pihaknya.


Moore bukanlah sendirian di antara aktivis dan pemikir lingkungan kawakan yang telah dan tengah berubah pikiran dalam subyek ini. James Lovelock, bapak dalam teori Gaia dan ilmuwan atmosfir terkemuka, percaya bahwa energi nuklir adalah satu-satunya energi yang menghindari perubahan iklim yang mendatangkan bencana. Steward Brand, pendiri dari The Whole Earth Catalogue dan pemikir ekologi holistik, mengatakan bahwa gerakan lingkungan haruslah merangkum energi nuklir untuk mengurangi ketergantungannya terhadap bahanbakar fosil. Almarhum Bishop Hugh Montefiore, pendiri dan direktur Friends of the Earth Inggris, dipaksa mengundurkan diri sewaktu dia menyajikan sebuah artikel pro-nuklir dalam sebuah lembaran-berita gereja. Pendapat seperti itu telah ditanggapi sebagai semacam inquisition (hukuman karena menyalahi paham ajaran gereja) dari kelompok kepadrian yang anti-nuklir.


Namun terdapat tanda-tanda bahwa sikap itu sedang berubah, bahkan sikap di antara para pelaksana kampanye yang paling getol. More juga menghadiri Pertemuan Iklim Kyoto di Montreal pada bulan Desember 2005, di situ dia berbicara di depan hadirin yang memenuhi ruangan tentang pertanyaan masa depan energi yang berkelanjutan. Saya memberi argumen bahwa satu-satunya jalan untuk mengurangi emisi bahan-bakar fosil dari pembangkitan listrik adalah melalui  program yang agresif dalam penggunaan energi terbarukan (listrik hidro, geotermal, pompa-panas dan angin) plus nuklir. Juru bicara Greenpeace adalah orang pertama yang mengambil mikrofon pada saat acara tanya-jawab dan saya mengira akan mendengar kata-kata keras darinya. Tetapi sebaliknya, ia  mulai dengan mengatakan bahwa ia menyetujui banyak hal yang saya sampaikan, kecuali tentu saja, potongan ”plus nuklir” itu. Biarpun demikian, dia merasakan bahwa pijakan bersama sangatlah mungkin dicapai.


Energi angin dan matahari mempunyai tempat di sini, tetapi karena tidak selalu kontinu dan tidak dapat diprediksi, maka kedua jenis energi itu tentu tidak dapat mengganti pembangkit listrik beban-basis yang besar seperti pembangkit listrik batubara, nuklir dan listrik-hidro. Gas-alam, bahanbakar fosil itu, kini sudah terlalu mahal, dan harganya begitu mudah berubah sehingga sangat berisiko untuk digunakan sebagai pembangkit beban-basis yang besar. Kalau sumber listrik-hidro biasanya dibangun untuk kapasitas besar, maka nuklir, sebagai ganti eliminasi batubara, menjadi satu-satunya substitusi yang dapat diperoleh dalam skala besar, sepadan dalam ongkos (cost effective) dan aman. Begitu sederhana!


Mitos tentang Energi Nuklir yang perlu dipertimbangkan:


Mitos 1 : Energi nuklir itu mahal


Fakta : Energi nuklir adalah satu di antara sumber energi yang tidak-mahal. Di tahun 2004, rata-rata ongkos produksi listrik di Amerika Serikat adalah kurang dari dua sen per kilowatt-jam, setingkat dengan ongkos batubara dan listrik-hidro. Kemajuan dalam teknologi akan menurunkan lagi ongkos itu di masa mendatang.


Mitos 2 : PLTN itu tidak aman


Fakta : Kalau dapat dikatakan bahwa kecelakaan Three Mile Island itu suatu kisah sukses, maka kecelakaan di Chernobyl itu tidak dapat dikatakan demikian. Kecelakaan Chernobyl itu sepertinya menunggu akan terjadi. Model awal dari reaktor Uni Soviet tidak menggunakan bejana kontenmen (sungkup, containment vessel), dalam hal desain dikatakan sebagai tidak-aman melekat, sedang operatornya kemudian meledakkannya.


Forum multi-lembaga PBB untuk Chernobyl tahun lalu melaporkan bahwa hanya 56 kematian dapat dikaitkan dengan kecelakaan itu, sebagian besar korban adalah akibat radiasi atau luka-bakar sewaktu memadamkan api. Memang tragis sekali korban kematian itu, namun angka itu sangat kecil jika dibandingkan dengan kecelakaan di tambang batubara sebanyak 5000 jiwa seluruh dunia setiap tahun. Atau jika dibandingkan dengan 1,2 juta jiwa yang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan mobil. Tidak seorangpun meninggal dalam sejarah program nuklir untuk sipil di Amerika Serikat. (Disayangkan, bahwa ratusan pekerja tambang uranium meninggal pada tahun-tahun awal industri ini. Hal itu telah sejak lama diperbaiki).


Mitos 3 : Sampah nuklir itu akan berbahaya selama ribuan tahun


Fakta : Dalam 40 tahun, bahanbakar yang telah digunakan hanya akan memancarkan seperseribu radioaktivitas dibandingkan pada waktu bahanbakar itu dikeluarkan dari reaktor. Dan sebenarnya sangatlah tidak benar jika dikatakan itu sebagai sampah (atau limbah), karena 95% potensi energinya  masih tersimpan di dalam bahanbakar bekas pada siklus pertama.

 


Sekarang Amerika Serikat telah mencabut larangan daur-ulang bahanbakar bekas, dengan demikian akan dimungkinkan pemanfaatan energi itu serta akan banyak mengurangi jumlah sampah yang harus diolah atau disimpan. Bulan lalu, Jepang telah bergabung dengan Perancis, Inggris dan Rusia dalam kegiatan daur-ulang bahanbakar nuklir ini.


Mitos 4 : Reaktor nuklir itu rawan terhadap serangan teroris


Fakta : Beton bertulang yang tebalnya satu-setengah meter melindungi isi bangunan kontenmen dari luar maupun dari dalam. Bahkan kalau sebuah jumbo jet menabrak reaktor dan merusak kontenmen, reaktor tidak akan meledak. Ada banyak jenis fasilitas yang lebih rawan  termasuk pabrik pencairan gas alam, pabrik kimia dan sejumlah sasaran politik.


Mitos 5 : Bahan-bakar nuklir itu dapat dialihkan untuk membuat senjata nuklir


Fakta : Senjata nuklir sudah tidak lagi harus tak-terpisahkan dengan PLTN. Teknologi centrifuge (teknologi pengkayaan uranium-235) kini memungkinkan suatu negara memperkaya uranium tanpa harus membangun reaktor nuklir. Iran misalnya, tidak memiliki reaktor yang menghasilkan listrik, padahal negara ini telah memiliki kemampuan membuat bom nuklir. Ancaman senjata nuklir Iran sama sekali dapat dibedakan dari pembangkit energi nuklir untuk maksud damai.


Selama dua puluh tahun, satu di antara alat yang paling sederhana  ─  parang ─  telah dipakai membunuh jutaan manusia di Afrika, jauh lebih banyak dari pada korban yang meninggal di Hiroshima dan Nagasaki digabungkan. Tetapi toh tidak seorangpun yang mengusulkan melarang parang, karena parang adalah alat yang sangat berharga di negara berkembang.


Satu-satunya pendekatan pada isu penyebaran senjata nuklir adalah menempatkan isu itu pada agenda internasional yang lebih tinggi dan menggunakan diplomasi dan bila perlu kekuatan, untuk menghalangi pemerintahan atau teroris dari pemakaian bahan nuklir untuk tujuan perusakan.


Teknologi baru, seperti misalnya sistem proses-ulang yang akhir-akhir ini diperkenalkan di Jepang (yang tanpa proses pemisahan plutonium dari uranium) akan membuat manufaktur senjata dengan menggunakan bahan nuklir keperluan sipil, menjadi lebih sulit.

 


Keuntungan dan Kerugaian terhadap Lingkungan


PLTN selain mengurangi emisi gas rumah-kaca juga menawarkan dua manfaat yang ramah-lingkungan sekaligus.


Pertama, listrik nuklir menawarkan jalan yang penting dan praktis ke arah ′ekonomi hidrogen′. Hidrogen sebagai sumber yang menghasilkan listrik menawarkan janji untuk energi yang bersih dan hijau. Berbagai perusahaan mobil melanjutkan pengembangan sel bahanbakar hidrogen dan teknologi ini, dalam waktu yang tidak terlalu jauh di masa depan, akan menjadi produsen sumber energi. Dengan menggunakan kelebihan energi panas dari  reaktor nuklir untuk menghasilkan hidrogen, maka dapat diciptakan produksi hidrogen dengan harga terjangkau, efisien, serta bebas dari emisi gas rumah-kaca. Dengan demikian produksi hidrogen ini dapat dikembangkan untuk menciptakan ekonomi energi hijau di masa depan.


Kedua, di seluruh dunia, energi nuklir dapat menjadi solusi terhadap krisis lain yang tengah berkembang: kekurangan air bersih yang harus tersedia bagi konsumsi manusia dan irigasi bagi tanaman dasar (crop). Secara global, proses desalinasi (air-laut) telah dan tengah dipakai guna membuat air bersih. Dengan menggunakan kelebihan panas dari reaktor nuklir, air laut dapat ditawarkan, sehingga permintaan terhadap air bersih yang selalu bertambah akan dapat dipenuhi.


Kombinasi energi nuklir, energi angin, geotermal dan hidro adalah cara yang aman dan ramah-lingkungan dalam memenuhi permintaan energi yang selalu bertambah. Dengan berbagi informasi, jaringan konsumen, pakar lingkungan, akademisi, organisai buruh, kelompok bisnis, pemimpin masyarakat dan pemerintah kini telah disadari manfaat dari energi nuklir.


Energi nuklir adalah jalan terbaik untuk menghasilkan listrik beban-dasar yang aman, bersih, dapat diandalkan, serta akan memainkan peranan kunci dalam pencapaian keamanan (penyediaan) energi global. Dengan perubahan iklim sebagai puncak agenda internasional, kita semua harus mengerjakan bagian kita untuk mendorong renaisans (kebangkitan kembali) energi nuklir.

 


Keuntungan dan kerugian terhadap APBD


Pembahasan bagian ini memiliki banyak kesulitan. Untuk di Indonesia biaya pembangunan PLTN masih menuai perdebatan. Sebagaimana pada website www.nuklir.info. Biaya pembangunan PLTN jika dibandingkan dengan bahan batu bara ternyata lebih murah. Ini belum termasuk biaya pengamanan resiko dan pengolahan limbahnya. Berikut kutipan hasil diskusi tersebut:


•    capital cost kecuali untuk Nuclear ( 2 000 $/kW untuk low , 2 500 $/kW  high case capital cost). Untuk pembangkit lain tak saya temukan.

•     fuel cost untuk harga gas alam dipakai  6-7 $/MBTU dan coal 55 $/ton

Untuk penyederhanaan , mari kita   diperbandingkan biaya pembangkitan antara  Nuclear dan Steam Coal saja.


Cost generation yang ditemukan ialah:

High  Discount Rate Case : Nuclear ( high capital ) 8,1     sen/kWh ; Nuclear (low ) 6,8 sen/kWh ;   Coal Steam  6,0 sen/kWh.

Low Discount Rate Case :  Nuclear ( high capital )  5,7     sen/kWh ;  Nuclear (low ) 4,9 sen/kWh ;   Coal Steam  5,0 sen/kWh.

 Dari uraian diatas perbedaan biaya Nuclear dengan Coal:

Case 1: High  Discount Rate Case, High Capital  perbedaan biaya : 8,1- 6,0   =  2,1  sen/kWh ( perbandingan N/C= 1,35 :1).  

Case 2:  High  Discount Rate Case, Low Capital  perbedaan biaya : 6,8 – 6,0 =  0,8  sen/kWh ( perbandingan N/C= 1,13 :1).

Case 3:  Low Discount Rate Case, Low Capital   perbedaan biaya  : 5.7- 5,0   = 0,7  sen/kWh  ( perbandingan N/C= 1,14 :1).

 Case 4 : Low Discount Rate Case, High Capital  perbedaan biaya : 4,9-5,0   = -0,1 sen/kWh.  ( perbandingan N/C= 0,98:1).

Jika untuk setiap satuan unit 1 000 MW pada perbedaan biaya 1 sen/kWh,  operating hour 7 000 h/a,  menghasikan perbedaan biaya pembangkitan  sebesar :

1 000 000 kW x 7000 h/a x  0,01 $/ kWh = 70 000 000 $/a.

Untuk kurun waktu 30 tahun, perbedaan biaya : 2,10 milyar $/ 30tahun.


Untuk perbandingan diatas:

•    Case 1 : Nuclear    lebih mahal       4,41  milyar $/30 tahun;  Case 2: Nuclear lebih mahal 1,68 milyar / 30tahun ;

•    Case 3 : Nuclear   lebih mahal        1,47  milyar $/30 tahun;  Case 4: Coal  lebih mahal      0,21  milyar / 30tahun ;

•    Hanya pada Case 4 : Nuclear kompetetive  bila dipakai Capital Cost PLTN 2 000 $ per kW., dengan pebedaan biaya   210 juta $ untuk waktu pengusahaan 30 tahun. Nuclear lebih murah 2 % ( perbandingan N/C= 0,98:1). Pada tiga cases yang lain pltn tak layak keekonomiannya. Atau bisa juga dikatakan break-even N dan C  pada tingkat  N capital cost 2000 $/kW.


Pertanyaan kritis yang perlu diajukan bisakah biaya pembangunan PLTN di Indonesia $ 2000 per kW ? Karena itu  pernyataan bahwa  biaya pembangunan PLTN bisa dengan $ 2000 /kW perlu diperoleh  rinciannya (minimal terdiri atas cakupan item apa saja), mengingat kelayakan keekonomian PLTN sangat tergantung pada kepastian mengenai capital cost.


Biaya pembangunan PLTN terakhir di negara maju yang sudah punya pengalaman bangun pltn seperti unit ke-2  di Olkiluoto /Finlandia, semula dianggarkan 3 billion Euro (bukan US$) mengalami over budget 25 % karena keterlambatan penyelesainnya. Patut dicatat  keterlambatan  hampir terjadi pada kebanyakan pembangunan pltn di dunia. Apa untuk Indonesia, ada kepastian/ jaminan biaya pembangunan bisa sebesar 2000 $ per kW.


Dari informsi tersebut, jika akan membangun sendiri, perlu pertimbangan dan perncanaan yang sangat matang. Sedangkan jika penawaran itu dari investor asing dan sudah siap pakai, maka dapat dipertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:


1.    Tidak Membeli, tetapi Menyewa

Pertimbangan ini akan lebih efektif dan optimal pemanfaatannya. Karena kalau membeli maka memerlukan dana yang besar diawal yang nilainya tentunya lebih besar daripada investai pembangunan PLTN. Dengan menyewa de ngan pembayaran dalam jangka waktu tertentu akan meringankan pengelolaan APBD.


2.    Perbandingan dengan biaya operasional Pembangkit yang ada selama ini.

Sebagaimana diketahui, bahwa di Bengkulu terdapat PLTD dan PLTA. Perlu diperbandingkan antara biaya operasional dan perawatan kedua sumber tersebut. Selama ini masyarakat mengeluh bahwa pada kondisi pemakaian optimum, terjadi penurunan daya. Kemudian juga perlu dilakukan kajian, dengan PLTN tentunya akan ada penambahan pemanfaat atau pengguna listrik, baik dari masyarakat mupun dari dunia usaha. Terutama sekali pada daerah-daerah yang saat ini tidak terjangkau listrik. Ini mejadi peluang pendapatan baru. Apakah pendapatan ini dapat menutupi biaya sewa PLTN. Jika nilainya mendekati maka dapat dilanjutkan.


3.    Biaya antisipasi resiko radiasi menjadi beban investor.


4.    Dalam pengoperasionalan PLTN agar dapat melibatkan tenaga lokal.

 

Categories: Energi Baru Terbarukan, Lingkungan

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Jejaring Sosial



Waktu Hari ini

Fase Bulan Sekarang

CURRENT MOON

Statistik