Anton Sutrisno, berbagi ide dan gagasan

http://www.antonsutrisno.webs.com

Mimbar Bebas Post New Entry

ETIKA / AKHLAK PERBURUAN HEWAN TERNAK LIAR PANEN DAN KONSUMSI DAGING ATAU KULIT HEWAN

Posted by Anton Sutrisno on October 22, 2011 at 2:25 AM

Oleh :  Anton Sutrisno


Pendahuluan

Pembahasan topik ini, saya lebih tertarik kepada kajian etika moral yang didasari pada landasan agama. Kemampuan saya membahas pada Agama Islam, karena itu yang saya anut. Meskipun masih sangat dangkal, atau sebatas kulitnya saja. Sedang untuk agama lain, saya tidak memiliki kemampuan untuk itu. Semoga ada kesesauaian. Pembahasan berdasarkan Agama Islam disamping untuk lebih memperdalam pengetahuan agama juga untuk menambah keyakinan khususnya saya juga kepada kita semua.


Pada dasarnya, sumberdaya alam yang ada di permukaan bumi ini diperuntukkan bagi kesejahteraan manusia. Seiring dengan meningkatnya jumlah manusia yang mendiami bumi, berkembanglah ilmu pengetahuan dan teknologi, keinginan manusia juga berkembang menuntut untuk dipenuhi. Pemenuhan ini mengakibatkan berkurangnya ketersediaan sumberdaya. Karena pertumbuhan pemulihan sumberdaya tidak lagi sesuai dengan peningkatan konsumsi manusia.


Dalam pengelolaan kekayaan alam, ada beberapa etika yang harus dipatuhi. Tugas manusia tertenting adalah menjaga sumberdaya alam karena merupakan nikmat dari Allah kepada hambanya. Kenikmatan ini wajib disukuri. Bantuk dari rasa syukur adalah dengan menjaga sumberdaya alam dari kehancuran atau kerusakannya. Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al A’raf “ Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya.” Kerusakan  dapat berupa material maupun spiritual seperti tercemarnya alam, kebinasaan  dan kemusnahan makhluk hidup,  terlantarnya kekayaan alam, kuatnya kejahatan dan lain sebagainya.


Thahir Abdul Muhsin Sulaiman (1983) memberikan kesimpulan yang berkaitan dengan Kewenangan pengusaaan sumberdaya alam oleh manusia. Manusia adalah khalifah Allah pada alam. Oleh Allah alam ditunjdukkan kepada manusia. Allah menyuruh manusia berupaya dan bekerja untuk mengeksploitasi alam yang telah ditundukkanNya kepada manusia. Sebagai pemilik yang sebenarnya dari alam ini, Allah tidak memberikan kebebasan yang mutlak kepada manusia untuk menggunakan alam, tapi menyuruhnya senantiasa menempuh jalan hidup yang telah digariskan, baik soal produksi maupun konsumsi. Allah juga memperingatkan bahwa manusia senantiasa dalam ujian dan nanti akan dimintai pertanggung jawaban tentang apa yang dikerjakannya. Semua ini merupakan pendidikan bagi manusia supaya ingat terhadap nikmat yang dianugerahkan, supaya manusia mau menganut system dan jalan yang telah ditetapkanNya dalam pengelolaan alam dan dalam pemanfaatannya.


Etika perburuan makhluk hidup tidak saja menyangkut makhluk hidup secara langsung, tetapi juga berkaitan dengan kondisi yang dapat menjaga keberlangsungan makhluk hidup tersebut harus tetap terjaga. Bagi umat muslim etika tersebut dibatasi dengan adanya ketentuan hukum halal dan haramnya.


Berdasarkan hukum Fiqh Islam, bahwa tiap-tiap hewan ataupun benda yang ada dipermukaan bumi ini menurut hukum awalnya adalah halal, kecuali ada larangan secara syariat atau karena mudharatnya. Sebagaimana Hadist Nabi Muhammad SAW berikut ini: Rasulullah SAW, telah ditanya tentang hukum minyak sapi (samin), keju, dan farwah (kulit) binatang beserta bulunya yang dipakai untuk perhiasan atau tempat duduk. Jawab beliau, “Barang yang dihalalkan oleh Allah dalam KitabNya adalah halal, dan barang yang diharakan oleh Allah dalam kitabNya adalah haram, dan sesuatu yang tidak diterangkanNya, maka barang itu termasuk yang dimaafkannya, sebagai kemudahan bagi kamu (Riwayat Ibnu Majah dan Tarmizi).

 

 

Perburuan hewan ternak liar


Perburuan hewan ternak liar dapat dilakukan apabila lingkungan yang mendukung ternak liar tersebut masih baik. Seperti hutan yang masih terjaga sehingga masih layak sebagai habitat hewan. Secara etika Islam dilarang untuk menebang hutan secara liar, sebagaimana sebuah hadis nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud: “Barang siapa yang menebang hutan secara liar, Allah akan menjerumuskan kepalanya ke dalam api neraka”. Menurut Yusuf Qardhawi yang dimakksu dengan menebang secara liar adalah merusak lingkungan dan kemaslahatan manusia dan hewan.


Perburuan harus dibatasi pada kebutuhan, bukan sekedar iseng semata. Nabi Muhammad bersabda : Barang siapa yang membunuh burang dengan percuma, maka pada hari kiamat burung-burung itu akan berteriak dan berkatan “ Ya tuhanku, sesunggunya Fulan membunuhku dengan percuma dan tidak memanfaatkanku untuk apapun” (hadist diriwayatkan Nasai dan Ahmad). Dalam etika Islam merupakan larangan bagi manusia membunuh binatang baik yang terbang maupun yang melata untuk tidak dimanfaatkan. Etika ini berkaitan dengan konservasi makhluk hidup.


Berburu dengan menggunakan binatang yang mempunyai taring atau burung yang mempunyai kuku tajam, seperti anjing atau burung elang diperbolehkan. Binatang hasil tangkapannya halal dimakan. Ada beberapa ketentuan mengenai hal ini yaitu:

  1.  Binatang pemburu sudah terlatih.
  2. Jika menangkap binatang tidak dimakannya. Pada saat melepaskan binatang Pemburu tersebut dibacakan Basmalah. Jika binatang buruan yang ditangkap masih hidup, maka wajib disembelih. Dan Jika biatang buruan sudah mati, maka hasil buruan halal untuk dimakan.


 

Etika Panen / Penyembelihan hewan


Binatang yang hidup di dalam air semuanya halal, baik yang berupa ikan maupun bukan ikan. Proses kematianya ada penyebabnya ataupun mati sendiri. Oleh karena itu untuk binatang yang hidup di air tidak melalui prosesi penyembelihan.


Binatang yang hidup didarat yang dinyatakan halal, akan tidak halal dimakan apabila disembelih tidak menurut aturan yang disyariatkan. Menyembelih maksudnya adalah melenyapkan roh atau nyawa binatang untuk dimakan, dilakukan dengan menggunakan sesuatu yang tajam selain dari tulang dan kuku.


Etika penyembelihan hewan atau binatang yang disasjikan disini merupakan rukun penyembelihan yang terdapat dalam buku Fiqh Islam, adalah sebagai berikut:

  1. Penyembelih hendaknya orang Islam dan melakukan dengan sengaja. Penyembelihan ini atas nama Allah, bukan atas nama yang lain.
  2. Binatang yang dapat disembelih di lehernya hendalan disembelih di lehernya, dipotong urat tempat lewatnya makanan dan urat tempat keluar napasnya, kedua urat tersebut wajib putus.
  3. Binatang yang tidak dapat disembelih dilehernya karena liar atau jatuh ke dalam lubang sehingga tidak dapat disembelih lehernya, dapat dilakukan dimana saja dari badanya adal dia mati karena luka tersebut. Ada hadist yang dapat dikutipkan disini yaitu: Dari Rafi’I ia berkatan “ Kami pernah beserta Rasulullah dalam perjalanan. Kami bertemu dengan seekor unta kepunyaan suatu kaum yang lari, sedangkan mereka tidak membawa kuda untuk mengejarnya. Maka dilemparlah unta itu oleh orang laki-laki dengan anak panahnya, lalu unta itu mati. Rasulullah bersabda : Sesungguhnya binatang ini bertabiat seperti tabiat binatang liar, pada binatang-binatang yang seperti ini perbuatlan oleh kamu demikian”. Dengan demikian pada perburuan binatang liar dengan menggunakan senjata, tombak, panah atau senapan dapat menjadi alat untuk melakukan proses penyembelihan.
  4. Alat menyembelih adalah semua barang tajam, melukakan, besi, bambu atau lainnya kecuali gigi dan kuku, begitu juga segala macam tulang. Sebuah hadist nabi Muhammad dari Rafi’ bin Khadij “Alat apapun yang dapat mengalirkan darah dan disembelih dengan menyebut nama Allah makanlah olehmu, kecuali karena gigi dan kuku.

 

Penyembelihan melalui leher dengan memutuskan urat nadi, tenggorokan dan kerongkongan  dan membiarkan organ lain utuh dengan menggunakan benda yang tajam. Penyembelihan ini disamping dari sisi “perikehewanan” lebih manusiawi. Ternyata memberikan manfaat kesehatan yang besar bagi yang mengkonsumsi dagingnya. Penyembelihan dengan memotong nadi tersebut mengakibatkan hewan mati kehabisan darah  karena mengalir keluar dari tubuh hewan. Jika penyembelihan dengan cara mencederai jantung, otak atau organ lain, yang mengakibatkan hewan mati akan tetapi darahnya tidak keluar. Darah masih tetap menggumpal di dalam urat-urat yang akhirnya akan mencemari daging. Daging tersebut akan tercemar uric acid yang beracun. Uric acid (asam urat) merupakan sampah yang ada didalam darah, yang terbentuk didalam tubuh akibat metabolisme yang tidak sempurna. Pada tubuh manusia dikeluarkan dari dalam darah melalui ginjal dan dibuang dalam wujud air seni.


Penyembelihan hewan dengan jalan menusuknya dengan besi hidup-hidup  tidak bertujuan untuk melukai, selain tidak memiliki “perikehewanan” juga merupakan tindakan yang tidak sehat. Pada kelompok masyarakat tertentu sengaja melakukan ini. Alasannya jika darah terbuang maka rasa lezat dagingnya berkurang. Padahal darah yang tertinggal pada daging, akan meracuni daging tersebut. Racun ini membahayakan tubuh manusia sebagaimana telah dibahas diatas.

 

Konsumsi Daging atau Kulit Hewan

Pada konsumsi daging binatang atau hewan, yang menjadi pokok haramnya makanan ada lima, yaitu:

  1. Sudah diterangkan dari Al Qur’an dan Hadist
  2. Karena binatang tersebut diperintahkan untuk membunuhnya.
  3. Karena dilarang untuk membunuhnya.
  4. Karena binatang tersebut keji atau kotor.
  5. Karena dengan mengkonsumsi tersebut akan memberikan mudarat.

 

Dalam pemanfaatan kulit hewan, dalam etika Islam, diperkenankan dengan cara disamak terlebih dahulu.  Ketika melihat bangkai kambing Nabi Muhammad bertanya kepada para sahabat “Siapakah pemilik kambing ini?” Sahabat berkata “Maimunah, Ummul Mukminin”. Selanjutnya Nabi berkata “Tidakkah kamu memanfaatkan kulitnya?” mereka menjawab “Kambing itu sudah jadi bangkai”. Nabi berkata lagi “yang diharamkan terhadap bangkai itu mamakannya”.

 

 

Referensi

Dunya, Syauqi Ahmad, 1994. Sitem Ekonomi Islam Sebuah Alternatif, Fikahati Aneska, Jakarta.

Qardhawi, Yusuf, 1997. Norma dan Etika Ekonomi Islam, Gema Insani Press, Jakarta.

Rasjid, Sulaiman, 1998. Fiqh Islam, Siar Bagu Algensindo, Bandung.

Sulaiman, Thahir Abdul Muhsin. 1983. Menanggulangi Krisis Ekonomi Secara Islam, PT Al Ma’arif, Bandung.

Wijaya, Yoga Permana, 2009. Fakta Ilmiah Tentang Keharaman Babi, e-book, http://yogapw.wordpress.com

 

 


Categories: Al Islam, Kesehatan, Konservasi SDA

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Jejaring Sosial



Waktu Hari ini

Fase Bulan Sekarang

CURRENT MOON

Statistik