Anton Sutrisno, berbagi ide dan gagasan

http://www.antonsutrisno.webs.com

Mimbar Bebas Post New Entry

Telaah Sosial Ekonomi Pencemaran Batubara Di Sungai Bengkulu

Posted by Anton Sutrisno on March 12, 2012 at 10:40 PM

Oleh Anton Sutrisno


Pendahuluan

Adanya batu bara di sungai Bengkulu disisi lain menimbulkan persoalan lingkungan, pencemaran air dan juga kerusakan ekologi DAS Air Bengkulu, tetapi juga memberikan mata pencaharian baru bagi masyarakat yang ada disekitar DAS tersebut. Pengerukan batubara di dasar sungai Bengkulu oleh masyarakat telah menjadi alternatif usaha baru tidak saja bagi masyarakat di sekitar Pasar Bengkulu Kota Bengkulu akan tetapi juga bagi masyarakat daerah lain, yang menyengaja mencari keberuntungan di tempat tersebut.

Dua sisi ini persoalan ini memberikan berkah bagi masyarakat yang lain. Kajian sederhana atau telaah ini mencoba untuk mambahas sisi sosial dan ekonomi dari batu bara yang mengendap di dasar sungai  Bengkulu. Paling tidak masyarakat telah membuktikan bahwa dengan kegiatannya, telah melakukan reduksi terhadap material pencemar yang ada di sungai dan sepanjang pantai hingga ke Pondok Kelapa. Jika ini tidak terjadi, bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melakukan pengerukkan limbah batu bara ini.

Telaah ini masih bersifat sangat dangkal, telaah terhadap hasil kajian atau kegiatan yang telah dilakukan oleh LSM yang pegiat masalah lingkungan, sejak awal peduli terhadap DAS Sungai Bengkulu, LSM Ulayat. Telaah juga berasal dari pengamatan dan diskusi beberapa pelaku baik dari LSM maupun masyarakat yang memberikan informasi dalam obrolan santai ataupun obrolan tak bertopik (bukan FGD) terhadap aktivitas penambangan, kegiatan masyarakat dan juga kegiatan penyadaran terhadap kerusakan yang diakibatkan pencemaran batu bara di sungai Bengkulu. Telaah dangkal ini diperkenankan untuk dilakukan investigasi dan kajian lebih lanjut.

 


DAS Sungai Bengkulu

DAS Sungai Bengkulu seluas 51.000 ha. Bagian hulu DAS terletak di Kabupaten Bengkulu Tengah dan bagian hilir terletak di Kota Bengkulu dan meliputi 8 kecamatan, yaitu Taba Penanjung, Talang Empat, Pondok Kelapa, Karang Tinggi, Pematang Tiga, Pagar Jati di wilayah Kabupaten Bengkulu Tegah dan Kecamatan  Muara Bangka Hulu, Gading Cempaka, Teluk Segara, Ratu Agung, Sungai Serut dan sedikit Kecamatan Selebar di Wilayah Kota Bengkulu.

DAS Sungai Bengkulu dibatasi sebelah timur DAS Tanjung Aur dan DAS Babat, Batas sebelah selatan, Samudera Indonesia, batas sebelah barat DAS Hitam dan DAS Lemau, dan batas sebelah Utara DAS Musi. DAS Bengkulu dibagi menjadi 3 Sub DAS, yaitu Sub DAS Rindu Hati dengan luas 19.207 Ha, Sub DAS Susup dengan luas 9.890 Ha, dan Sub DAS Bengkulu Hilir dengan luas 22.402 Ha.

 


Pencemaran Air Sungai  Bengkulu

Air Bengkulu merupakan salah satu sumber air PDAM di Kota Bengkulu. Sumber air Sungai Bengkulu melayani 6.000 pelanggan, sedangkan 21 ribu pelanggan dilayani dari sumber sungai Air Nelas. Kondisinya telah tercemar oleh batu bara. Ini sangat membahayakan kesehatan. Limbah pencucian batubara setelah diteliti mengandung zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika airnya dikonsumsi. Limbah tersebut mengandung belerang ( b), Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan Asam sulfat (H2sO4), dan Pb. Hg dan Pb merupakan logam berat menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti kanker kulit.

Limbah batu bara ini berasal dari hulu, dari pencucian batubara. Terdapat 2 perusahaan yang aktif melakukan penambangan sejak 20 tahun lalu, dan pencuciannya dibuang ke sungai bengkulu. Limbah batu bara bisa ditemukan sepanjang 30 kilometer (km) Sungai Bengkulu mulai dari Desa Penanding Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah sampai ke muara sungai bengkulu.

Hasil penelitian Ulayat pada tahun 2009 lalu, tingkat kekeruhan air Sungai Bengkulu sudah berada di ambang batas yakni sebesar 421 NTU dari 5 NTU yang ditetapkan dalam Permenkes 907 tahun 2002 tentang pengawasan kualitas air. Selain tingkat kekeruhan, perubahan warna yang ditolerir sebesar 15 PTCO sudah berada pada angka 267 PTCO. Kandungan besi berada pada angka 0,76 mg per liter dari angka yang ditolerir sebesar 0,30 mg per liter.

 


Sengaja Tercemar?

Pada sebuah perkuliahan Kimia Lingkungan, Bapak Agus Martono sambil guyon menyampaikan rasa kecurigaan bahwa adanya batu bara di sungai Bengkulu disengaja oleh perusahaan penambangan yang ada di hulu sungai. Sudah lebih dari 5 tahun pengambilan batu bara tersebut tetapi tidak habis. Ketika banjir datang, kembali terisi. Diduga untuk menghemat biaya pencucian dan pengangkutan.

Dugaan yang sama juga diperoleh dari cerita aktivis LSM yang melakukan investigasi hingga ke areal pertambangan. Meskipun tidak dapat diperoleh berita dan informasi yang lebih banyak. Karena tidak diperkenankan memasuki areal pertambangan. Bahwa batu bara yang tersortir ketika pencucian sengaja dialirkan ke sungai. Salah satu fakta yang memperkuat adalah ketika musim hujan memang disalurkan batu bara sekaligus pencucian ke sungai. Informasi ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Keuntungan oleh perusahaan adalah tidak perlu melakukan pencucian dan penyaringan karena sudah dicuci disungan dan disaring oleh para pemulung. Tidak perlu mengeluarkan biaya angkut dari lokasi tambang. Menurut informasi, harga beli di pengumpulan batu bara jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya pencucian dan pengangkutan dari lokasi penambangan.

Konfirmasi berita tersebut kepada instansi yang berkompeten, dinyatakan tidak benar. Bahwa keberadaan batu bara yang hanyut disungai tersebut akibat penambangan pada waktu yang lampau. Karena penumpukaanya telah memakan waktu yang lama maka jumlahnya lebih banyak.

Argumen lain yang menguatkan adalah “pembuangan” batu bara ke sungai untuk memberikan kegiatan kepada masyarakat aliran sungai melakukan pengerukan. Mereka memiliki penghasilan yang cukup, setidaknya tidak mudah untuk dialihkan dengan kegiatan lain selama batu bara masih tersedia di sungai.

Dampak sosial yang timbul adalah, penyadaran lingkungan terhadap para pelaku menjadi susah. Tindakan ini dalam rangka mengamankan masyarakat yang memanfaatkan jasa lingkungan dari Sungai Bengkulu, yaitu sebagai sumber air bersih (PDAM). Untuk memperbaiki kondisi DAS Sungai Bengkulu maka harus ada tindakan perbaikan yang dilakukan oleh penambang. Selain pencucian batu bara yang tidak dibuang ke sungai, perusahaan tambang juga harus membayar biaya sosial yang ditimbulkan akibat kerusakan.

Berbicara kerusakan yang ditimbulkan, tidak hanya menyangkut ekologi disekitar bantaran sungai semata. Akan tetapi juga pada areal pertanian yang memanfaatkan pengairan dari sungai Bengkulu, atau areal pertanian yang sempat terkena luapan air sungai Bengkulu ketika banjir. Limbah batu bara juga mengisi areal sawah di daerah Tanjung Jaya, Semarang dan sekitarnya. Tanaman menjadi terganggu. Sebagaimana laporan dari Penyuluh Pertanian Lapangan yang bertugas di wilayah tersebut, bahwa sawah yang tergenang air yang mengandung debu batu bara menjadi tidak subur, tanaman tumbuh seperti keracunan.

 


Aktivitas Pengumpulan Limbah Batubara

Aktivitas pengumpulan batubara dilakukan di banyak tempat di sepanjang Sungai Air Bengkulu. Aktivitas tersebut dilakukan mulai dari pertemuan Sungai Penaway, Sungai Kemumu dan Sungai Air Bengkulu hulu hingga muara Sungai Air Bengkulu. Mata pencaharian pengumpul limbah batu bara ini nelayan dan juga petani.

Prose pengumpulan batu bara sebagaimana dilaporkan oleh Yayasan Ulayat yang berkerjasama dengan Yayasan Telapak dapat digambarkan sebagai berikut:

Proses dimulai dengan mengayuh rakit bambu untuk menuju lokasi tempat mencari batubara di sepanjang sungai Bengkulu dari Muara di Pasar Bengkulu ke arah hulu hingga Kembang Seri. Setelah mendapatkan di lokasi yang cocok, nelayan pemulung menyelam dan mengais dasar sungai dengan menggunakan sekop pendek sambil memasukkan pasir bercampur endapan batubara kedalam karung, untuk kemudian dibawa keatas rakit. Proses ini berlangsung hampir setengah hari karena nelayan pengumpul batubara ini harus bolak-balik keatas air untuk mengambil nafas.

Setelah karung-karung yang berisi pasir endapan batubara terisi penuh, nelayan pengumpul mengayak endapan batubara tersebut untuk memisahkan batubara dari pasir sungai ataupun sampah. Yang kemudian ditumpuk di atas rakit dan dibawa menepi untuk dijual ke toke pengumpul.

Setiap harinya para pemulung batubara ini bisa mendapatkan rata-rata 8 karung perhari yang langsung dijual kepada toke pengumpul seharga Rp.8.000,- - Rp.10.000,- perkarung. Jika kondisi sedang baik, atau mendapatkan endapan batubara yang cukup banyak, dapat diperoleh hingga 10 – 15 karung per hari. Sebuah pendapatan yang cukup menggiurkan. Dalam sebulan, para pemulung batu bara ini bisa mendapatkan pemasukan bersih sekitar Rp.1.000.000,- – Rp. 1500.000,- perbulan.

Saat ini, pengerukan batu bara di dasar sugai sudah menggunakan teknologi pompa air. Sehingga perolehan batu bara menjadi lebih besar. Akan tetapi persaingan antar pemulung menjadi semakin tinggi.

Oleh pengumpul, batubara tersebut di cuci dan disortir kembali antara batubara yang berukuran kecil dan batubara yang berukuran sedikit besar. Setelah bersih, toke pengumpul menjual kepada toke besar seharga Rp 14.000,- untuk batubara yang berukuran kecil dan Rp 15.000,- untuk batubara yang berukuran besar, kemudian dijual kepada toke besar untuk dibawa ke Stockpile batubara di Pelabuhan Pulau Bai.

Melihat potret pendapatan yang demikian, adalah wajar apabila kegiatan penyadaran lingkungan dan juga dampak bagi para pelaku menjadi tidak berjalan. Karena untuk berkumpul, bermusyawarah mereka akan kehilangan peluang pendapatan setidaknya Rp.50.000,00. Bagi para pelaku ini pencemaran sungai oleh batu bara adalah anugrah. Apalagi musyawarah itu bertentangan dengan kegiatan mereka. Dimana tujuannya untuk menghentikan pembuangan limbah batu bara ke sungai.

Permasalahan sosial yang timbul dalam kegiatan pemulungan batu bara adalah ada larangan dari pemerintah daerah, konflik antar pengumpul limbah batubara, dan kondisi alam. Masyarakat yang beraktifitas sebagai pemulung  batubara di muara sungai air Bengkulu ini, tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar sungai. Banyaknya masyarakat pendatang dari desa-desa yang jauh dari areal ini sering menimbulkan konflik sesama pemulung batubara. Masyarakat setempat umumnya tidak menyukai kehadiran pemulung yang bukan warga kelurahan pasar Bengkulu.

Masalah lain adalah banjir yang berakibat tidak hanya kepada para nelayan pengumpul batubara yang tidak turun kesungai, tetapi juga berdampak pada toke pengumpul yang mengumpulkan batubara di daerah sempadan sungai yang mengakibatkan batubara yang sudah bersih dan dikumpulkan oleh beberapa toke pengumpul di bantaran sungai, terbawa hanyut oleh banjir.

 


Rencana Aksi

Tentunya informasi yang telah disajikan di atas, perlu dipertajam. Agar diperoleh gambaran yang akurat. Pertanyaan yang mendasar adalah apakah pencemaran ini akan tetap dibiarkan, apalagi jika dugaan pembuangan ke sungai adalah benar. Pengurangan pencemaran, memberikan dampak peningkatan kualitas air Sungai Bengkulu. Bersamaan dengan itu juga memberikan dampak hilangnya mata pencaharian para pemulung batubara di sungai.

Untuk mengembalikan para pelaku ke mata pencaharian semula, seperti nelayan dan petani, tentunya tidak mudah. Pemerintah bersama dengan LSM dapat berperan dengan memberikan penyadaran bersamaan dengan program kompensai akibat rusaknya llingkungan dengan kegiatan perbaikan kualitas DAS Sungai Bengkulu. Pada tataran menetukan kegiatan perbaikan diperlukan adanya diskusi yang mendalam dengan para pelaku dan pemerintah. Apakah kegiatan pemulihan dengan penghijauan tanaman produktif yang melibatkan mereka sebagai pelaku utama di pinggiran sungai cukup efektif. Tetapi pasti, jika volume batubara berkurang, mau tidak mau mereka akan meninggalkan pekerjaan tersebut. Dengan perginya mereka apakah kualitas air sungai dan bantarannya menjadi baik. Ini masih memerlukan pemikiran lebih lanjut.

Kualitas air sangat ditentukan aktivitas pencemaran yang ada dihulu. Kegiatan pemulihan mutu air sangat diperlukan, akan lebih baik jika ini dijadikan kewajiban perusahaan penambang. Kegiatan ini juga akan membantu bagi peningkatan pendapatan masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Reklamasi bekas lahan batu bara, penanaman tanaman yang dapat menetralisir logam berat pada areal IPAL seperti penggunaan vetiver (akar wangi), akan mempercepat perbaikan lingkungan.

Rencana aksi ini akan terwujud jika semua pihak dapat berjalan bersama dan saling menyadari, bahwa manusia berhak memperoleh sumberdaya yang berkualitas. Pemerintah menetapkan kebijakan yang diikuti oleh penambang, LSM bersama masyarakat bersama mengkampanyekan penyadaran lingkungan DAS. Aksi ini bukan aksi politik, akan tetapi berupa aksi sosial masyarakat yang membutuhkan waktu dan perhatian khusus. Setidaknya waktu untuk meyadari kekeliruan sebelum terlambat.

 


Referensi

Harian Rakyat Bengkulu http://www.harianrakyatbengkulu.com

Yayasan Ulayat http://www.ulayat.or.id

 

 


 

Categories: Lingkungan, Sosial Ekonomi

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

2 Comments

Reply Anton Sutrisno
7:56 PM on July 3, 2012 
Setuju pak Handhaka

Handhaka says...
Tindak yang tegas pelaku pencemaran lingkungan, tidak hanya kata-kata. tetapi perlu diperhatikan juga, bagi pelaku atau perusahaan yang telah menjaga kelestarian lingkungan sepantasnya mendapat reward sehingga dapat mendorong mereka untuk melakukan pelestarian dan pasar juga mempunyai kriteria khusus untuk membeli produk....produk yang tidak ramah lingkungan ataupun hasil produk dari hasil atau dalam prosesnya menghasilkan limbah dan mencemari lingkungan tidak akan dibeli atau dilarang diperjual belikan.
Reply Handhaka
2:43 AM on April 4, 2012 
Tindak yang tegas pelaku pencemaran lingkungan, tidak hanya kata-kata. tetapi perlu diperhatikan juga, bagi pelaku atau perusahaan yang telah menjaga kelestarian lingkungan sepantasnya mendapat reward sehingga dapat mendorong mereka untuk melakukan pelestarian dan pasar juga mempunyai kriteria khusus untuk membeli produk....produk yang tidak ramah lingkungan ataupun hasil produk dari hasil atau dalam prosesnya menghasilkan limbah dan mencemari lingkungan tidak akan dibeli atau dilarang diperjual belikan.

Jejaring Sosial



Waktu Hari ini

Fase Bulan Sekarang

CURRENT MOON

Statistik